Kohler for Pakubuwono Menteng
seen from United States

seen from United States
seen from T1
seen from United Kingdom

seen from United States
seen from China
seen from United States
seen from United States
seen from China

seen from China
seen from United States
seen from United States
seen from Macao SAR China

seen from Italy

seen from Türkiye

seen from T1
seen from United States

seen from United States
seen from Russia

seen from United States
Kohler for Pakubuwono Menteng
My mistake is, always to justify my own mistakes
27092018 08:46
Ruang Imaji
Pernahkah kamu bertanya pada hatimu sendiri tentang rencana apa yang akan kamu lakukan hari ini? saya pernah tapi untuk berpikir ke arah sana ujung-ujungnya berakhir dalam kebingungan. Biasanya kalau sudah bingung sama diri sendiri, kita sudah tak mau berpikir apa-apa lagi termasuk mikir mau ngapain dan makan apa besok.
Pernahkah kamu ingin makan besok dengan menu yang ingin sekali kamu coba tapi akhirnya gagal karena ada sesuatu yang penting yang tak bisa di tunda? seringnya saya pernah tapi jarang sekali saya tidak termasuk di kategori yang penting, justru malah sering melakukan hal yang ga penting yang berujung makan di tempat yang dituju jadi tertunda.
Pernahkah kamu tertawa setelah kopi yang kamu pesan ternyata dikasih garam sama barista dan tiba tiba kekasihmu datang mencium pipimu yang belakangan kamu ketahui kalau ternyata pipimu berbau busuk oleh jerawat? sayangnya saya tidak pernah, tapi jika tertawa karena obrolan setelah minum kopi justru sering saya lakukan
“Karena Tuhan Maha Baik, kita sebagai umatnya juga harus selalu baik, bukan baiknya kadang-kadang, kalau ada perlunya baik terus kalau tak ada perlunya jadi tidak baik”
Diantara meja - meja yang berjejer di warung kopi ini, manusia-manusia yang juga ikutan berjejer sambil memamerkan giginya atau sesekali bicara dengan nada serius, sungguh mereka adalah orang-orang yang butuh hiburan, karena kebanyakan yang butuh kopi adalah mereka yang otaknya sedikit tegang. Mereka butuh mengendorkan urat syaraf.
Saya mencoba untuk menerka apa yang mereka obrolkan tapi terkaan saya banyak yang salah, karena obrolan lewat mulu saja yang saya terima.
“Mulai saat ini kita putus karena kamu sudah berubah, berubah jadi homo” tiba tiba seorang wanita berteriak dari arah meja kedua dari tempat saya duduk. Sementara saya hanya melongo kaget, apalah arti homo jika kekasihmu juga akhirnya mutusin kamu.
saya meneguk kopi saya dalam dalam sambil cekikikan. Saya senantiasa cekikikan dan sedikit mamerin gigi yang sedang cekikikan :)
Teman Bicara
Aku pernah mengenalmu beberapa waktu lalu. Menjalin persahabatan yang setiap saat bisa berbicara tentang banyak hal. Percakapan tentang beberapa topik remeh temeh sampai yang paling berat urusan perang dunia maupun perkara tak terlihat perihal perasaan. Anehnya, pembicaraan-pembicaraan itu mengalir begitu saja tanpa ada tendensi apapun. Terasa ringan walau pendapat kita kerap berseberangan. Sesekali kau melemparkan lelucon-lelucon yang sejujurnya sama sekali tidak lucu bagiku. Meski begitu, aku tetap saja mampu tertawa untuk usahamu. Kepalamu memang penuh tanda tanya, meski bagiku kamu seperti buku yang terbuka. Terbukti ketika banyak yang bilang kamu gadis penuh misteri, tak cukup peka dan sangat keras kepala, aku tak terlalu setuju. Barangkali benar saja kamu tak cukup peka, namun aku mengerti kamu lah yang paling mudah tersentuh hati, yang terkadang rapuh namun selalu mengupayakan kekuatan di setiap langkahmu. Kamu tak memiliki banyak rencana namun selalu tau apa yang harus kamu perbuat. Bagiku, kamu adalah seseorang yang sebenarnya ingin berlari dan keluar dari dinding yang kamu ciptakan sendiri. Ingatanku kembali pada hari terakhir perjumpaan kita. Aku menyesal mengapa pada hari itu kita tidak banyak bicara. Tidak seperti hari-hari sebelumnya yang selalu terasa menggebu bagiku untuk menceritakan segalanya kepadamu. Meski beberapa kali kamu mengucapkan dengan sangat jujur bahwa aku menceritakan beberapa kisah yang pernah ku ceritakan sebelumnya. Melihatmu memutar bola mata lalu mengatakan, 'kumohon Zein, kamu sudah pernah menceritakannya', entah mengapa aku justru tertawa dan bersemangat mengulang cerita. Pada moment itu, sekali dua kali kau akan menjulukiku seperti radio rusak. "Hei, sudah lama? Maaf telat. Boleh aku duduk?", seorang perempuan membuyarkan lamunanku. Wajah bulat bermata coklat yang tak kujumpai hampir setengah windu. " Masih sama ya, suka telat", seperti dulu, aku tak terlalu suka banyak bicara pada awalnya. "Haha maaf. Tahu sendiri kan, kota ini tidak pernah tidak macet. Jadi, bagaimana kabarmu?". Senyumnya merekah. Masih menjadi magnet bagi lengkungan di bibirku untuk turut tersenyum. "Baik. Kamu bagaimana? Oiya, pastinya akan ada banyak cerita yang harus kamu dengar", aku mulai bersemangat. "Kabar ku pun baik. Tentu, masih seperti dulu, aku selalu siap mendengarkan".
"Pahlawan adalah mereka, orang-orang biasa yang melakukan hal-hal besar di saat krisis, para pahlawan bukan untuk dikagumi tapi untuk diteladani." Bidang Perempuan KAMMI Daerah Kota Ambon mempersembahkan *RuangImaji* edisi 'Kajian Buku' dengan buku "Mencari apahlawan indonesia" karya Anis Matta plus Semalam Tiga Puluh Juz *SeTUJu* untuk Akhwat AB 2 sekota Ambon..