Detik demi detik yang terasa semakin mengabu
Mengeluh panjang pada keedaan yang kurang menyenangkan
Bertanya ada cobaan yang tak henti menghadang
Pada kesedihan yang menyapa nyaris setiap malam
Aku anak pertama perempuan,
Tak ada tempat bersandar yang membuatku kembali kukuh dan utuh
Tak ada tempat mengadu selain Tuhan dan aku
Malam ini semuanya kesedihan terbentuk sempurna
Haruskah aku lari? Tidak. Aku harus tetap kuat menapaki
Meski sekujur tubuh mulai lebam membiru bisu
Akankah harus kulepaskan mimpi yang kubangun dengan darah dan peluh
Lagi-lagi naluriku menyayangkan
Disisi lain harus ada yang aku tinggalkan
Menata kembali benak dan hati
Bahwa sepahit apapun hidup harus tetap dijalani
Meski banyak kesakitan dan luka
Bercecer derita dan air mata
Yang perlu dilakukan adalah memandang dari sisi yang berbeda
Hidup memang tidak selalu menyoal bahagia
Bukan berarti pula hanya dipenuhi kesedihan
Semua sudah Tuhan atur dengan takaran dan masanya
Ingatlah pulang ke rumah, bagaimanapun bentuk dan keadannya
Mungkin deritamu adalah peringatan Tuhan
Sebab tak pernah ingin kau tahu betapa susahnya kehidupan orang tuamu
Yang tak pernah kelu memintakan keberkahan Tuhan untukmu
Rumah dan keluarga sejatinya adalah tempat terbaik kembalimu
tak pernah sebelah mata manakala memandangmu
Saya mendapatkan inspirasi dalam menuliskan tulisan ini ketika jadwal mengerjakan ujian tengah semester mata kuliah Linguistik Terapan yang sulit saya pahami. Lalu saya memutuskan untuk mengerjakan ujian penulisan kreatif sastra terlebih dahulu. Saya merenung di teras rumah sebelum sholat ashar memikirkan topik sajak yang akan saya tulis. Saya terinspirasi dari fakta bahwa kehidupan tidak selalu menyajikan kebahagiaan bagi semua orang tanpa terkecuali. Ada sedih dan bahagia yang datang bergantian. Tidak ada hidup yang hanya berisi kebahagiaan saja tanpa kesedihan, dan sebaliknya. Dalam menghadapi episode sulit dalam hidup itu sebaiknya kita mengevaluasi apa yang masih salah dan kurang dari diri kita. Bisa jadi hal tersebut merupakan peringatan dari Tuhan karena kesalahan yang kita lakukan. Sempatkanlah pulang ke rumah orang tua di sela kesibukan. Bisa jadi cobaan yang datang itu peringatan karena kita lupa mengunjungi orang tua yang tidak pernah lelah mendoakan dan mengusahakan apapun untuk kita. Jangan ragu untuk pulang, karena seperti apapun bentuk dan suasana rumah, sejatinya rumah dan keluarga inilah tempat kembali tanpa memandang sebelah mata.