Resume Film Dead Poets Society (1989)
Judul : Dead Poets Society
Produksi : Buena Vista Picture
Berlatar di Negara Inggris pada tahun 1950 ada seorang pemuda pemalu bernama Tood yang sekolah di akademi Wilton yang merupakan sekolah khusus anak laki-laki. Adegan dimulai dengan saat orientasi, dan Tood bertemu dengan Neil seorang yang ramah dan ambisius dan menjadi teman sekamarnya. Kemudian saat Neil ceramah dipanggil ayahnya dan dinasehati untuk tidak berbuat yang aneh-aneh supaya bisa mendapatkan nilai yang memuaskan dan menjadi dokter sesuai keinginan ayahnya yang sebenarnya malah menjadi beban tersendiri untuk Neil. Setelah ayah Neil pergi, Tood menceritakan bahwa ia berada dalam posisi yang sama dengan Neil karena orang tua Tood ingin Tood menjadi pengacara. Tood tidak memberitahu orang tuanya kalau ia ingin menjadi penulis, bukan pengacara.
Hari pertama sekolah, kelas mendapatkan pelajaran trigonometri, bahasa latin, dan matematika yang semuanya ada tugas dan harus dikumpulkan besok. Namun berbeda dengan kelas puisi yang diajarkan oleh Mr. Keating yang memasuki kelas dengan santai dan bersiul. Kemudian ia membawa seluruh muridnya ke ruangan prestasi sekolah. Mr keating memperkenalkan diri bahwa dia juga alumni akademi Wilton. Ia juga menyampaikan kepada semua muridnya bahwa kelak mereka semua akan menjadi individu yang sangat kuat dan diri sendiri mereka yang bertanggung jawab atas masa depan mereka. Mr Keating memang berbeda dengan guru lain karena dia memperbolehkan muridnya memanggilnya dengan Mr Keating atau Kapten. Kata itu merupakan judul puisi tentang Abraham Nichole.
Beberapa hari kemudian Knox diminta menghadiri pesta makan malah di rumah Danbury, teman orang tuanya. Ketika dia tiba seorang gadis cantik bernama Christine membukakan pintu dan membuat Knox terpana. Ternyata gadis itu sudah bertunangan dengan pesepakbola bernama Chat, tetapi Knox tidak putus asa untuk terus mendekati Christine.
Keesokan harinya, di kelas Mr Keating memulai pembelajaran dengan sistem tradisional. Mr Keating meminta Neil membaca kata pengantar buku tentang bagaimana menilai kualitas puisi menurut Plot Matematika dengan lantang. Mr keating menganggap teori tersebut konyol dan menyuruh semua murid merobek halaman kata pengantar tersebut. Awalnya mereka semua ragu, namun setelah salah satu murid bernama Charlie merobek kertasnya kemudian semua murid mengikuti. Melalui kegiatan tersebut, Mr keating mengajarkan bahwa semua keputusan ada di tangan mereka sendiri. Metode pengajaran Mr keating yang tidak ortodoks didengar oleh guru-guru lain. Saat makan malam, guru bahasa Latin memberitahu Mr Keating bahwa dia mengambil resiko besar bahwa membuat siswanya berpikir mereka adalah seniman. Mr Keating menjawab bahwa hanya ingin menjadikan mereka berpikir tanpa batas.
Suatu hari Neil menemukan buku tahunan yang disana terdapat foto Mr Keating di dalamnya yang disana Mr Keating mencantumkan “Dead Poets Society” sebagai salah satu aktivitasnya di sekolah. Murid-muridnya bertanya dan Mr Keating menjawab bahwa DPS adalah klub rahasia yang didedikasikan untuk menghilangkan makna hidup. Para anggota akan duduk di sebuah goa dan membacakan sebuah puisi. Kegiatan itu bertujuan agar bisa mengambil pelajaran untuk meningkatkan kehidupan dan meningkatkan apresiasi mereka terhadap sastra. Mendengar itu, Neil dan teman-temannya memutuskan untuk ikut DPS lagi. Neil meyakinkan teman-temannya untuk bergabug di DPS dan bertemu nanti malah di tepi sungai. Untuk memulai pertemuan pertama mereka. Mereka beranggotakan 7 orang yakni Neil, Tood, Knox, Charlie, Cameron, Steven, dan Gerrard. Seiring berjalannya waktu banyak hal yang terungkap soal kehidupan para anggota Dead Poets Society mulai dari masalah keluarga, percintaan, ketujuh remaja ini berusaha menghadapinya bersama-sama. Hingga suatu hari keberadaan Dead Poets Society terancam dengan kemunculan sebuah artikel di majalah Welton Academy.
Menonton Dead Poets Society mengajak kita untuk melihat betapa kakunya sistem pembelajaran yang diterapkan di sekolah dan bagaimana cara Keating melepaskan kungkungan yang membelenggu perasaan-padangan para murid. Hal tersebut terlihat dalam adegan di mana Keating mengajak seluruh murid untuk berdiri di atas meja untuk melihat dunia dari perspektif yang berbeda karena alam semesta jauh lebih luas dari yang mereka lihat atau pikirkan selama ini. Juga bisa dilihat dari adegan ketika Keating menyuruh para murid untuk merobek bagian awal halaman pada buku Teori Memahami Puisi.
Film ini melakukan kritik keras atas pemikiran-pemikiran ortodoks pada masanya bahkan mungkin hingga masa kini atau depan. Kebebasan berpikir adalah jargon yang selalu diucapkan oleh John Keating. Lakukan apa yang ingin kamu lakukan. Rebutlah harimu. Carpe diem. Semua perkataan yang meluncur dari mulut Keating seolah-olah merasuk ke dalam diri Neil dan kawan-kawannya. Kekuatan kata-kata Henry David Thoreau, Walt Whitman, Shelley, Byron, dan Frost yang disajakkan Keating di depan murid-muridnya, memberikan pengalaman baru bagi mereka. Apa yang terjadi kemudian adalah sebuah transformasi. Para murid yang semula hidup dalam tertib dan takut, dengan puisi mereka jadi tahu hal-hal yang lebih dahsyat dan asyik. Mereka terbawa masuk ke dalam mantra kata-kata. Mereka tak takut lagi menjelajah, menemukan impian, cita-cita, dan keunikan pribadi masing-masing.
Konflik yang menjadi titik terpenting dalam film ini terdapat pada Neil, seorang murid yang paling pandai dan tahu bahwa berakting adalah kegemarannya. Tetapi, ia memiliki seorang Ayah realis yang tak memedulikan kegemaran Neil berakting. Berkali Neil memohon belas kasih dari seorang Ayahnya, namun hasil yang ia dapatkan masih tetap saja; keinginan Ayahnya untuk menampik seluruh apa yang ia gemari dan fokus untuk melanjutkan pendidikan demi mendapatkan gelar dokter. Ini pula yang akan menjadi tragedi bagi kawan-kawan Neil, terutama pada apa yang akan dialami John Keating.
Dari hal tersebut, kita dapat melihat bahwa betapa hebat dan rincinya setiap dari orangtua untuk mengatur masa depan seorang anak, namun tak jarang menanyakan apa kemauan dari seorang anak tersebut. Film ini hadir untuk menyadarkan kita betapa pentingnya arti dari kebebasan kehendak, kebebaskan untuk melahirkan individu-individu yang kreatif dan inovatif, yang tidak tergerus oleh perubahan zaman dan mati begitu saja. Melalui Keating yang mengatakan kepada muridnya mengajarkan kita bahwa, “Kita tidak membaca dan menulis puisi sebab hal itu manis. Kita membaca dan menulis puisi sebab kita merupakan bagian dari umat manusia. Dan umat manusia dipenuhi dengan gairah. Pengobatan, hukum, bisnis, teknik: itu semua adalah pekerjaan yang mulia dan diperlukan untuk mempertahankan hidup. Tetapi puisi, kecantikan, asmara, cinta berguna bagi untuk untuk tetap hidup.”
Kekurangan film ini adalah durasinya yang panjang dan bahasanya yang tinggi sehingga penonton bisa mudah bosan dalam menonton karena perlu konsentrasi yang tinggi untuk menangkap pesan moral dalam film ini.