Tentang Kita
Semakin hari, beginilah kita. Semakin diminta berdamai dengan diri sendiri. Semakin disuruh sadar dan bernegosiasi dengan hati. Iya, tentang semuanya; apa-apa yang hadir di depan kita. Barangkali seumpama rute perjalanan yang penuh lika-liku. Ada kekhawatiran yang selalu terpantik di setiap kelokan. Ada ketakutan yang membuat lelap tidak selalu terlihat menyenangkan. Alhasil, membuat kita harus berhati-hati saat menjejakkan tapak, melepas pijakan.
Kali ini, masih tentang diri kita masing-masing. Kita yang harusnya tidak lagi mengabaikan waktu-waktu evaluasi. Kita yang harusnya sudah terbiasa menepati jadwal-jadwal rutin. Menghalau semua excuse yang ujung-ujungnya bermuara pada penundaan. Nyatanya kita akan selalu begitu, berulang kali merawat excuse yang cepat membuat jiwa puas. Untuk kemudian, menyeduh rasa bersalah, mengundang beribu-ribu penyesalan.
Kita boleh saja bersedih, namun tidak semua kesedihan harus diperturutkan. Kita boleh bersenang namun tidak harus ditampakkan berlebihan. Mereka punya porsi untuk unjuk pada semesta. Mereka ada, agar kita mau belajar membaca kode dari-Nya. Maka berdamailah.
Lagi, kita diminta untuk belajar membuat keputusan. Kabarnya, hidup adalah ranah bagi pilihan-pilihan untuk beterbangan, lalu menjadi labuhan kisah bagi tuannya. Tentang hari ini, tentang keberadaanmu, tentang siapa yang engkau temui, tentang circle pertemanan yang engkau ikuti, hingga tentang caramu saat menghadapi semuanya. Sangat berpengaruh, kan? Maka, berdamailah.
No excuse. Bukan saatnya kita tetap berpegang pada alasan-alasan yang selalu berhasil dibuat. Bukan waktunya kita mengutuk semua pilihan beserta orang-orang yang ada didalamnya. Menjadikannya seumpama kesalahan besar yang pernah kita lakukan. Untuk kemudian, membangunkan pikiran-pikiran negatif pada logika.
No excuse. Berdirilah di depan cermin. Lihatlah dirimu. Amatilah betapa berbahayanya musuh besar yang sedang bersemayam di sana. Gejolak nafsu yang tidak ingin kalah. Alter ego yang tidak mau menyerah. Maka berdamailah.
Berdamailah dengan dirimu. Ingat, jiwa dan nurani berhak atas dirimu. Kamu layak untuk bertumbuh. Kamu layak untuk menghebatkan dirimu. Kamu layak untuk memimpin rumah peradabanmu. Karena ini tentang kita, yang akan segera bertemu.










