Langkah ini tak akan sampai pada titik akhir, jika dilalui sendiri. Akan selalu ada teman yang mendampingi, menopang, bahkan menggenggam meski hanya dengan satu jari.
Allah Maha Baik, mempertemukan kita dengan cara yang teramat sederhana. Malu tak menghalangi kita untuk saling menyapa, tak menghalangi kita untuk saling melempar tawa. Sebuah pertemuan berperan sedemikian, kita tak pernah sadar, pertemuan menjadikan aku, kamu, dia, menjadi kita yang erat, saling menggenggam kemudian berjuang bersama.
Teman, sudah sejauh mana langkah yang tertinggal? Kini berdampingan kita semakin kompak, saling menopang semakin kuat dan genggaman kita semakin erat.
Teman, ada tahun demi tahun terlewatkan, cerita dibalik cerita semakin tertumpuk. Aku tumpahkan dalam bentuk kenangan, agar kelak ketika kita kembali berjalan masing-masing untuk menggapai mimpi, kita ingat, bahwa kita pernah saling menopang, kita pernah berjuang bersama.
Disatu waktu, celengan harap yang kita tabung akan dipecahkan bersama. Bukan karena kita tidak ingin menjaga celengan itu, namun itulah pertemuan, selalu menyisakan perpisahan yang sesak. Jika celengan yang sudah kita pecahan hancur lebur, aku ingin kalian tau isi dalam celengan tersebut. Ia menyimpan banyak harap yang akan kalian tabung, namun harap tersebut bukan lagi tentang kita, melainkan tentang diri sendiri yang satu persatu akan beranjak pergi.
Akan ada masa, dimana kita melangkah dengan tujuan yang berbeda, meraih mimpi dengan cara masing-masing. Namun semoga hal itu tidak membuat kita menjadi asing.
Perpisahan bisa menjadi manis bisa membuat tangis, tak ada yang perlu disesali, kita sudah berjuang semampu yang kita bisa, ini terasa manis, bukan? Kita boleh menangis untuk sebuah perpisahan, bukankah menyambut perpisahan dengan menangis akan lebih tenang? Menangis lah sesederhana mungkin.
Boleh aku menitipkan satu hal?
Aku ingin, ketika jalan yang kita lalui tidak lagi sama, langkah yang kita lalui tidak lagi bersamaan, aku ingin kalian tetap ingat, bahwa kita pernah bersama.