Narasi harian, hari 12.
Jumat, 7 Februari 2025
Februari adalah kita
Asa itu ada di pohon-pohon amerta milik kita di balik megahnya istanaNya.
Ada nama masing-masing terpatri di setiap mereka.
Milikku, akan selamanya milikku.
Begitupun kau.
Februari adalah kita, asa pun sama kamu dan aku.
Namun tangga-tangga yang menjulang tinggi untuk meraihnya ada di jiwamu.
Kirana yang terpancar dari raut wajahmu masih terus kau sembunyikan.
Jauh, jauh, jauh di dalam sagaramu yang pekat.
Aku menginginkanmu lebih dari apapun, Februari.
Aku tak pernah secandu ini akan hari-hari dan detikmu yang selalu mempesonaku. Bumantara ini memang indah, tapi tempat di mana asa tuk bisa bersamamu jauh di sana, kutemui pelik kesana.
Namun, akan kutelusuri agar bisa memelukmu dalam damai.
Kau tahu, renjana yang kau sisihkan untukku membuatku letih.
Pedih perih saat aku sadar bahwa kharismamu mencekikku hingga hampir tak sadarkan diri. Aku tak kuasa menahan semua gejolak yang sampai saat ini masih kau simpan sebagai misteri.
Februariku, akan kupetik asamu dan kusimpan dalam hidupku sepanjang hayat.
Jangan pergi dariku, jiwaku hampa tanpa serayumu yang terus kau hembuskan dalam perjalanan panjangku. Semoga, semogamu dan semogaku bersua di kala sang surya pulang keperaduannya di senja yang hampir hilang.
Kary.
















