Terimakasih sebab selama rentang waktu duapuluhlima tahun kau masih saja tegar meski seringkali jatuh bangun, seringkali membuat bermacam-macam pertanyaan tanpa ada pernyataan, mulai dari apa dan untuk apa kau ada?! Seringkali kuajak kau berlari walau kau hanya mampu berjalan, namun kau tetap setia sampai saat ini, terimakasih dan maaf.
Ingatkah kau ketika melewati masa suram pada sebuah perjalanan yang penuh dengan kerikil dan batu, padahal kau tak punya sepatu, kakiku penuh luka dan darah, kau tetap saja melangkah. Tumbuh ingin menjadi pribadi yang kau sukai, meski kadang aku berkata kau tak pantas menjadi diri sendiri. Terus mencoba menggapai apa yang tinggi tapi seringkali membuang-buang waktu melewati hal hal tak berguna, serasa terbang padahal tenggelam. Percaya setelah jalan ini, ada jalan yang rindang dan landai tapi justru semakin terjal dan curam. Sekali lagi kau bangkit dan tak menyerah, lagi-lagi apa yang kau dapati badai dan hujan, tapi kau tetap saja mengisi lembaran lembaran halaman hidupmu yang basah. Lupakah kau ketika memilih jalanmu sendiri sedang aku mengatakan ini yang terbaik untukmu, kau tetap tak peduli, kau terus melangkah sedang aku tetap menemani, merasa bahwa kau berjalan di sebuah jalanan setapak yang indah dengan pohon pohon cemara dan bunga bunga bermekaran, meski yang jika kupandang dalam-dalam, ini adalah alir sungai dan belukar.
Jatuh, bangun, jatuh, bangkit lagi, kakimu hampir patah terperosok ke dalam lubang yang dalam, kupinjami kakiku, kau malah terperosok lagi. Aku lelah, kau begitu amat tak peduli, egomu hampir menembus dadaku di mana hal paling umum dirahasiakan. Baiklah, malam sudah memeluk kita pada sebuah hutan belantara, kita tersesat dan kau tak mau istirahat, kau terus mencari matahari sedang bulan di atas kita, kau lupa bahwa kita tahu: pagi yang indah bukan didapati dari terus terjaga semalaman, tapi ketika kau bangun dari tidur dan membuka mata. Biarkan sejenak kita memandangi bulan purnama ini, luka dan segala kesedihannya. Akhirnya kau mau duduk juga, menatapku seakan ada luka yang parah di kedua matamu, seolah-olah kau ingin aku memahaminya.
Sebab ini bukan tentang dari apa dan untuk apa kau ada?! Tapi, mengapa sejauh ini aku masih tetap setia menemani perjalanan hidupmu, diri sendiri.