Kala Itu, Selesai Sudah
Tangan besar menahanku untuk mengangkat cangkir yang entah sudah keberapa yang ku minum hari ini. Aku mengibaskan tanganku untuk melepaskan genggaman tangannya, berlagak tidak peduli, ku angkat kembali cangkirku. Kali ini, ia tak menahanku. "Meminum kopi terlalu banyak itu tidak baik, kau tahu, kan?" Dengusanku menjawab pertanyaannya, kali ini jemariku beralih memutari bibir cangkir, membuat ia tidak fokus adalah kelebihanku. "Untuk apa lagi kau peduli?" Jawaban sinisku membuatnya terkekeh. Barisan giginya yang rapi membuatku sedikit meringis. "Inginku juga aku tak lagi peduli padamu, tapi apa boleh buat? Aku tidak bisa menahan rasa peduliku kepadamu," Jawabannya membuatku tersenyum miring, begitu tidak bisa melepasku, eh? Batinku. Aku mengetukkan kuku panjangku ke meja, berusaha merusak konsentrasinya, sudah kubilang itulah kelebihanku. Ia sedikit menggeser badannya, beralih lebih mendekat padaku, tersenyum kecil menyadari jemariku yang mengetuk meja berkali-kali. "Mengusirku, eh?" Aku mendengus. Jika tahu maksudku, kenapa tidak segera pergi? Ia sedikit menghela napasnya, memindahkan tangan besarnya ke meja, mengambil cangkirku dan meminumnya. Strike. Aku menyengir, benar dugaanku, ia menutupi rasa risihnya. "Kenapa tidak pergi saja, jika kau tahu aku mengusirmu?" Ia tertawa kecil, aku mengabsen gigi rapi nan putihnya lagi. Membuatku kehilangan sedikit konsentrasi untuk membalas semua perkataannya. "Aku ingin kembali, sudah tidak bisakah?" Lagi-lagi aku mendengus bosan. Bisakah ia tidak sesantai itu mengatakan hal yang berat? Aku menampilkan sedikit raut bosanku, lalu beranjak dan memutar tumitku untuk segera membayar kopiku. Cukup sudah, ia menguras emosiku lagi. Saat aku sampai di kasir, ia menahan lenganku, tatapannya memohon. Aku menghentakkan tanganku, berusaha melepaskan cekalan tangannya pada pergelangan tanganku. Ia terkejut, dengan cepat ku membuka pintu dan berusaha secepat mungkin meninggalkan kafe tersebut. Sudah cukup kisah kami, aku tak sanggup lagi menahan perihnya menjadi kekasihnya, yang bahkan sebenarnya aku tidak ingin mengakui hal tersebut. Aku membencinya, dengan segala tindakannya di masa lalu.











