Ternyata kau suka ya membaca tulisan-tulisanku yg setiap baitnya basah oleh luka, tercium amis darah dari kata-kata yg menganga. Kau suka jadi alasan kenapa setiap kalimatku penuh gemetar, seolah huruf-hurufnya digores bukan hanya dengan hati, tapi juga dengan jari yg luruh dan patah.
Jadi jika itu yang membuatmu tinggal, akan kuterima setiap sisa dari sayatanmu, dengan pena di tangan dan dada yang berlumur peluh.
Karena yang kau cintai dariku bukan diriku yang utuh, melainkan versi remukku yang menjelma dalam tulisan.
Maka jangan berhenti, terus saja lukai hatiku. Cabik saja pelan-pelan, biar aku sempat menuliskan rasanya.
Ku tau, kau tak pernah betah di tengah bahagiaku, karena bahagia tak bisa kau nikmati jika bukan atas kehancuran yang kau cipta. Kau hanya membaca ketika aku menangis, kau hanya peduli ketika aku nyaris mati.
Silakan, patahkan lagi, tak apa. Karena selama hatiku retak, kau akan selalu menemukan puisi tentang dirimu.
Dan selama kau menikmati deritaku, aku akan terus menjadi penulis favoritmu dalam cerita yang tak kunjung usai.
Patah hatiku bukan akhir, itu hanya awal dari bait baru yang diam-diam masih kutulis dengan namamu sebagai pemerannya.
Jika duka adalah satu-satunya bahasa yang membuatmu betah menetap di puisiku, maka biarlah aku jadi rumah yang hancur, asal kau tak pergi...