Allah Sebaik-baik Pemberi Takdir
Senja, tahun 2018. Bersama Lisa dan Lala, teman kampus, chit-chat tentang hidup dan rencana yang akan diikhtiarkan masing-masing. Kebimbangan yang umum di kehidupan pasca kampus kurasa, hendak melanjutkan studi atau berkarir dulu, mengembangkan passion di pelosok negeri atau memaksimalkan bakti pada orangtua, mumpung masih sendiri.
Ada kalanya, akan saling bertanya perihal takdir di depan mata. Sudah benarkah jalan yang sedang kita pilih? Akankah sia-sia usaha yang akan kita coba? Saling memberi pandangan bersama kawan yang dirasa satu perjuangan, kerap kali menjadi alternatif pemantapan hati. Termasuk kami, senja itu. Bersyukur obrolan cukup panjang kala itu berakhir dengan kesimpulan, “mari berikhtiar dengan mengetuk setiap pintu yang ada, lalu bersyukur pada tempat dimana kita berada”. Karena setiap kita, akan berkata “Oh....begini ternyata” pada akhirnya.
Ya, karena sifat takdir yang begitu rahasia, mengondisikan kita untuk berikhtiar yang terbaik dan khusnudzon dengan apa yang Allah pilihkan. Sebab Allah-lah sebaik-baik pemberi takdir :”)
Menjelang Ashar, Januari 2021. Lala silaturahim ke rumah setelah lama nian tak berjumpa. Kini, sudah resmi bersama pasangan halalnya. Sejenak bertukar kabar, sekalian pula ia sampaikan, akan ikut suaminya pindah ke Jayapura. Ia yang dulu paling bimbang karena ingin merantau jauh, namun orangtua sudah terlalu sepuh. Akhirnya memilih mensyukuri kerjaannya saat itu, sambil sesekali mencoba “mengetuk pintu” yang ada lainnya.
Allah selalu punya maksud dalam setiap rentetan takdir indahnya. Alhamdulillahilladzii bini’matihii tatimmusshaalihaat. Berkawan dengan teman yang tepat adalah satu dari sekian banyak nikmat yang lalai kita syukuri. Tidak perlu banyak memang, cukup tepat. Karena pada dasarnya kita memang akan saling terikat dengan yang seirama. Dan semoga, seirama dalam kebaikan :”)
@tisasmuthiah

















