Pagi tadi dikagetkan dengan notifikasi whatsapp dan telepon dari ummi bahwa Ibu meninggal. Bagi saya beliau bukan hanya sebagai tetangga, tapi beliau adalah guruku, orang tua ku, dan idolaku. Saya bersaksi bahwa beliau sangat baik, kebaikannya sekeluarga tersemai di seluruh warga kampung.
Bulan lalu saya menyempatkan bertemu beliau saat berkunjung ke kota ini, wajahnya yang selalu tersenyum, pelukan hangatnya yang meneduhkan dan doa-doa terbaik yang diucapkan untuk saya tak berhenti hingga beliau pergi meninggalkan hotel. Beberapa memori perjalanan terputar kembali begitu saja, meninggalkan jejak di pipi dan sembilu di dada.
Saya tahu bagaimana sedihnya para tetangga kami mendapati kenyataan Ibu telah pergi selamanya. Kami yang selalu mendapatkan bantuan disetiap waktu.
Tahun 2000-an saat Televisi masih sangat langka di desa kami, Ibu sekeluarga dengan tangan terbuka menjadikan rumahnya menjadi tempat para warga nonton bareng tiap malam menyaksikan sinetron barang merah bawang putih kemudian dilanjutkan menonton dunia dalam berita.
Sering saya saksikan Ibu sekeluarga menjadi garda terdepan tiap ada keluarga yang butuh bantuan ketika sakit atau terjadi kecelakaan, Ibu dan bapak menawarkan mobilnya dan sekaligus menjadi driver. Hal ini pun saya alami saat tante digigit kucing, saat bapak kecelakaan dan mengantarkan langsung ke Kota dengan jarak tempuh 5 jam. Tak berhenti di situ, ibu juga menyusul memberikan bantuan non stop hingga akhirnya bapak kembali kepada-Nya. Kemudian tahun lalu saat acara nikahan kakak di rumah, meskipun ibu jauh disana bantuannya tak berhenti ke kami, melalui anak-anak ibu (Kak Etty, Kak ana, Kak Isal) yang sudah seperti saudara turut terlibat banyak hingga akhir acara.
Di bidang pendidikan, ibu adalah role model kami, entah berapa jumlah keluarga yang berhasil ibu motivasi sehingga bisa melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi, salah satunya keluarga kami. Dulu saat kak ana, kak isal belum kuliah saya selalu ke rumah ibu sekedar belajar dan mengerjakan PR tak ketinggalan disuguhi makanan dan minuman.
Di sekolah, ibu selalu menjadi guru idola bagi para siswa khususnya di mata pelajaran sosiologi, saya dengan bangga selalu berkata "iya ibu memang sebaik itu, coba aja kamu tinggal bertetangga dengannya, kamu lebih salut lagi dengan kebaikannya"
maka sungguh tak heran, hari ini jatah hidup itu di dunia sudah berakhir semua orang yang pernah merasakan kebaikan ibu pada bersedih, hingga di grup keluarga ada nyelutuk "yah ibu sudah tidak ada, kira-kira ada nggak yah yang bisa menyamai kebaikannya"
Lagi saya diingatkan bahwa kematian itu misteri, katanya tadi subuh Ibu masih sempat sholat subuh di masjid, pulang dan jalan beriringan dengan ummi, bercerita pengalaman ibu selama di sorong.
Ibu tenanglah disana, semoga Allah menghadiahi Surga atas segala kemurahan hati dan kebaikan yang terus mengalir hingga akhir usia. Seperti nama ibu (Cahaya) yang selalu menebar terang kepada siapapun. Terima kasih atas segala inspirasi kebaikan yang engkau tanamkan kepada kami.
Dear, Ibu Cahaya Rahimahallah rahmatan waasi'ah.
Yogyakarta, 20 April 2021