Tidak ada cinta yang mudah. Semakin serius akan semakin sulit. Karena kita semakin paham bahwa kita adalah dua manusia yang berbeda. Tidak ada manusia yang diciptakan dengan kecocokan.
Sadari dan pahami bahwa itu adalah bukti dari kedewasaan kita dalam bentuk yang selalu kamu sebut, cinta.
Baiklah mungkin ini waktu yang tepat – atau tidak – untuk aku menceritakannya. Tentang suka yang tiba-tiba. Tentang cita yang yang membara. Tentang duka yang berkepanjangan. Tentang luka lama yang lagi, lagi, dan lagi terbuka.
Rasa takut yang aku pikir sudah terkubur dalam-dalam dan menghilang ternyata masih ada, atau lebih tepatnya kembali lagi. Pada waktu-waktu seperti ini, sangat sulit untukku bersikap waras. Pilihanku adalah pilihan terburuk – mungkin – yang manusia miliki. Ya, menarik diri dari kehidupan yang nyata tanpa meninggalkan cerita. Dan lagi aku katakan, ya, itu adalah keahlianku yang paling buruk.
Hidup yang selama ini aku jalani dengan cara terbaik yang bisa dilakukan seorang manusia dengan segala rintangan di dalamnya ternyata membuat aku menjadi orang yang lupa. Sejak pertama berusaha menjaga kebijaksanaan, tanpa sadar aku sudah jatuh ke dalam palung derita yang sangat dalam. Ternyata aku ini hanya seorang yang pandai menyangkal. Ternyata aku tidak pernah menyelesaikan apapun untuk diriku. Menjaga pikiran, mejaga badan, bahkan menjaga kewarasan sudah dilaksanakan. Satu hal yang tertinggal, ternyata aku tidak pernah menjaga hati. Padahal aku selalu berusaha menikmati semua luka yang terjadi. Mungkin ini batasnya, mungkin aku sudah mencapainya.
Pernahkah kamu merasakannya?
Ayolah ceritakan padaku. Aku sudah rela bercerita tentang hal yang bodoh ini. Jadi jangan sungkan untuk bercerita padaku, siapa dan apapun itu.
Pernahkah kamu merasa dada seakan terbakar? Sekeras apapun kamu menepuknya, panasnya tidak hilang. Pernahkah kamu merasa menarik dan menghela napas saja tidak cukup? Bahkan ketika kamu lakukan itu, yang ada hanya membuatmu semakin lemas. Pernahkan kamu terbangun tapi tidak terasa seperti hidup? Pandangan yang kosong dan tidak bermakna, suasana hati yang hancur berantakan membuatmu tidak berselera makan apalagi tertawa. Percayalah, ini semua hal yang aku rasakan sekarang.
“Menangislah bila harus menangis, karena kita semua manusia.”
Lirik lagu itu selalu membuatku merinding, karena aku tidak bisa melakukannya. Apakah aku menjadi orang yang tidak memiliki perasaan? Percayalah jika menangis adalah tanda kita sebagai manusia, aku ingin bisa melakukannya.
Tapi aku masih bersedih. Apa itu membuatku tetap menjadi manusia? JIka iya, katakanlah. Aku memohon.
Tahun ini terasa seperti aku yang sedang menaiki wahana kereta yang berputar tanpa henti. Banyak hal besar yang terjadi. Mulai dari pencapaihan hingga kehilangan. Nyatanya setiap hal yang dilakukan selalu memiliki harga terbaik untuk dibayar. Jika tidak memiliki kemampuan untuk membayar, maka itu dianggap hutang, dan hutang akan terus mengejar hingga kematian datang. Aku membayar hutangku tiga kali di tahun ini. Mulai dari darah daging yang meludahi wajahku berkali-kali, kehilangan sosok seorang ibu, dan luka lama yang kembali dirobek oleh manusia yang tidak bertanggung jawab.
Tapi semua itu ada hikmahnya. Aku masih percaya selalu ada cahaya bagi yang mampu membayarnya, tentunya dengan gaya terbaik. Tujuanku sederhana. Seperti bisikan kalimat terakhir yang diucap oleh nenekku sebelum ajalnya.
“Aku berdoa semoga kamu selalu hidup bahagia, maka temukanlah, nak.”
Satu tahun penuh menarik napas panjang dalam satu gelas penuh dengan makna. Dengan yakin aku sematkan;
Hidup itu mengerikan.
Bahaya. Tidak semua hal bisa diterima dengan pasrah karena harus dicegah. Lebih dari itu? Gila adalah jawabannya. Terlalu banyak hal yang terlihat, serta terlalu banyak hal yang dipendam. Terlalu lebar nurani terbuka, pula terlalu rapat logika tertutup. Mereka semua berteriak dalam kehampaan di sudut-sudut ruang yang akan segera meradang.
Tidak sedikit mendengar tentang keluhan. Tentang raga yang ada di mana, tapi nurani hanya bisa merana. Semua bilang ini perbudakan, antara yang menari-nari di tengah tanggungan yang terus membebani dan yang terus berlari tanpa ada kata untuk berhenti agar cepat-cepat diadili. Terlalu lebar mulut terbuka, terlalu rapat telinga tertutup. Percayalah, egoisme sudah jadi makanan sehari-hari.
Semua yang tidak kenal apa artinya kalah, semua yang tidak kenal apa artinya damai selalu menggerogoti sukma seakan-akan haus apresiasi dari sebuah prestasi tanpa peduli baik buruknya satu eksekusi. Sungguh sangat gaduh hidupnya, habis satu malam dalam dalil "dengan gaya". Telan semua derita di atas lantai dansa tanpa tahu dirinya milik siapa.
Sungguh sangat gaduh di luar sana. Di tengah hiruk pikuk kehidupan yang tidak pernah tenggelam di makan masa. Apakah terasa familiar? Ya, ini bukan hanya tentang kamu, kalian, atau mereka. Ini juga tentang aku, kita semua. Tidakkah mengerikan? Melihat semua orang dengan baju zirahnya, bersiap untuk perang, menumpahkan darahnya demi satu masa yang disebut kebahagiaan.
Aku sudah tidak tahu lagi apa yang dibutuhkan,
untuk sangat mendambakan sesuatu.
Rasanya sukma perlahan merobek bagian dalam diri,
mencoba meraih keluar.
Aku sudah tidak tahu lagi,
apa itu menginginkan sesuatu hingga putus asa,
nurani terasa sakit karena kekosongan itu.
Malam ini,
aku menginginkan sentuhanmu.
Tapi kamu berada di alam semesta lain,
jauh dari sini.
Aku sangat menginginkan sentuhanmu.
Aku mengulangnya di kepalaku,
seperti mantra.
Ya, seperti mantra,
'sentuh aku.'
'sentuh aku.'
'sentuh aku.'
Tolong, tolong, tolong,
aku memohon padamu.
Letakkan tanganmu di atas nuraniku,
matamu menatap sukmaku.
Sentuh aku,
sentuh nuraniku, sialan.
Yang benar adalah aku tidak tahu di mana aku berdiri lima tahun dari sekarang. Sejujurnya, aku tidak tahu di mana aku berdiri besok. Aku tidak punya rencana. Aku membiarkan hidup mengambil tanganku dan membimbingku sepanjang jalan dengan jemari yang menyilang bahwa aku akan menemukan sesuatu yang indah saat berjalan.
Semoga kamu menemukan jalan menuju malam-malam di mana tidur adalah hal terakhir yang harus dipertimbangkan. Semoga kamu berjalan melalui jalan-jalan berlampu tua yang sama dan mendapatkan inspirasi dari warna-warna lampu. Semoga kamu menemukan keinginan untuk berbicara lagi, untuk tertawa lagi, dan semoga ini membawamu kembali menjadi diri sendiri.
Dan bukan kesedihan yang menyakitkanku lagi, tapi perasaan ketika aku tidak dapat menemukan kata-kata untuk menggambarkan yang merayap padaku larut malam – ketika aku sendirian dalam gelap dan tidak ada yang lain kecuali kehampaan dan keheningan. Aku pikir aku sedang dalam perjalanan pulang, tapi sekarang rasanya seperti aku berada di jalan yang salah sepanjang waktu ini. Aku ingin berbisik saat kamu masih tertidur, aku ingin memimpikanmu – tapi, aku tidak tahu bagaimana berhenti mencintaimu. Aku menyimpan rahasiamu dengan erat, membungkus jari jemari yang rusak. Aku sangat merindukanmu hari ini, aku mengingatkan diriku betapa beruntungnya aku yang sangat merindukanmu.
Hanya tersisa 4 jam lagi hingga pesta ini berakhir saat aku memulai tulisan ini, tapi anak perempuan itu tidak kunjung datang.
Sungguh, setiap perayaan ini selama tiga tahun aku hanya menunggu satu nama. Ya, nama anak perempuan itu. Nama itu terus terngiang-ngiang di dalam kepalaku selama 24 jam penuh. Aku tahu, ini sangat menyakitkan tapi aku tetap menunggunya hingga waktunya habis. Hanya ada tiga hari dalam satu tahun, hari di mana aku bisa merasakan sesuatu lagi. Ya, hari ulang tahunku, hari ulangtahunnya, dan hari di mana kami berpisah.
Ibu, aku merindukannya. Apakah ini sebuah kesalahan? Bila iya, apakah aku mengulang kesalahan yang sama? Sungguh, aku tidak bermaksud untuk berbuat kesalahan. Ibu tahu aku orang yang sangat perfeksionis, tapi hal-hal kecil seperti malam ini membuat diriku merasa bodoh dan tidak tegas. Aku merasa sangat berat serta kebingungan, rasanya seperti kehilangan arah dalam perjalanan.
Ibu, apakah kamu juga merindukannya? Merindukan betapa bahagianya kami kala itu, betapa semangatnya aku menghajar hari-hari di masa lalu. Percayalah, semua kebahagiaanku hanya milik ibu, tidak untuk yang lain. Aku selalu merasa bersalah padamu ketika aku tidak bahagia. Apakah sumber kebahagiaanku hanya ada pada anak perempuan itu? Aku sudah mencoba segala cara untuk menyibukkan diri hingga aku bisa berada di titik ini, titik di mana aku sudah tidak menjadi anak manja yang nakal dan membangkang hingga hilang arah seperti dahulu.
Ibu, apakah aku menafikan hidup? Rasanya aku sudah melakukan semuanya dengan baik dan benar, tapi kenapa momen kecil seperti hari ini selalu membuatku merasa ingkar terhadap semua hal yang aku lakukan untukmu. Aku berusaha untuk melupakan anak perempuan itu, ibu. Aku selalu marah ketika mendengar namanya, aku membuang semua miliknya. Aku pikir itu semua agar aku tetap menjaga kesehatan mentalku.
Ibu, apakah kamu sudah tidak peduli lagi padaku? Sepertinya ibu tidak pernah ada di dalam momen-momenku yang sangat membingungkan. Ibu pergi saat aku berhasil mencapai sesuatu, ibu pergi saat aku jatuh terpuruk. Ke mana sebenarnya ibu selama ini? Maafkan aku yang sangat lancang selama ini, aku hanya tidak ingin terlihat lemah di depanmu. Aku tidak ingin melihatmu bersedih dan menangis lagi. Aku memang tidak pandai mengutarakan semuanya padamu, aku hanya memberi hasil tanpa bercerita.
Untuk kesekian kalinya aku berharap pada sesuatu, ibu. Aku selalu merasa bersalah ketika berharap, aku selalu marah pada diriku sendiri ketika aku berharap. Tolong beri aku jawaban, ibu. Salahkah anakmu berharap?
Untuk anak laki-lakiku tersayang,
Nak, pertama-tama sadarkah kamu bahwa umurku sudah tidak lagi muda untuk ini? Ibu pun selalu berharap kebahagiaan selalu menyertaimu. Selama bertahun-tahun aku menyaksikanmu tumbuh, kamu terlihat seperti bunga yang hendak mekar. Jangan biarkan angin menerpa semangatmu, terus raih mataharimu, bayangkan saja aku adalah air yang selalu membuatmu terus hidup. Begitulah caraku bekerja, kamu tidak akan pernah melihatku, lagipula tidak ada waktu bagi bunga yang hendak mekar untuk menggali tanah bukan?
Ibu sudah cukup bahagia bila kamu selalu mengingatku, nak. Tidak ada yang lebih membahagiakan selain melihatmu tumbuh menjadi seseorang yang jauh lebih kuat. Kamu tahu kondisi ibu, nak? Aku tidak akan pernah bisa kuat hingga titik ini bila aku tidak memilikimu, percayalah. Aku selalu menyayangi anak laki-lakiku lebih dari aku menyayangi suamiku. Tidak ada yang mengalahkan perasaan itu untuk selalu menjadi nomor satu.
Ibu pun merindukannya, nak. Ibu tahu betapa bahagianya dirimu kala itu. Rindu adalah sesuatu yang tidak mungkin kamu tolak, cukup dirasa saja. Kekuatan rindu itu adalah segalanya, nak. Sebesar apapun rasa benci yang kamu tanam, rindu pasti akan tetap tumbuh. Rindu mengingatkanmu untuk selalu belajar, untuk selalu bersyukur, untuk selalu sabar, untuk selalu menjadi manusia yang lebih kuat. Sekali lagi, jangan remehkan kekuatan rindu. Rindu bukan sebuah kesalahan.
Nak, jangan kamu mencari sumber kebahagiaan. Sebab itu adalah hal yang menyakitkan, ketika kamu melakukan semuanya demi mencari sumber kebahagiaan. Karena manusia tidak akan pernah puas, maka bahagia pun tidak akan pernah ada. Kamu hanya akan tumbuh menjadi pribadi yang pendendam, nak. Untuk apa kamu mencari kebahagiaan tetapi masih banyak kesedihan dan kesengsaraan yang kamu rasakan? Hapuslah kesedihanmu dengan rasa sabar dan syukur, maka kebahagiaan pun akan muncul dengan sendirinya, bukan?
Mengapa kamu selalu mengutuk dirimu sendiri, nak? Kamu tidak berhak untuk mengutuk takdirmu. Semua yang terjadi padamu bukanlah kesalahan yang harus kamu sesali. Semua yang terjadi adalah pelajaran hidup yang sangat berharga. Jangan pernah berhenti untuk menghajar masa depan, nak. Ingatlah, tidak ada rintangan di dunia ini yang diciptakan untuk membuatmu putus asa, tidak ada rintangan di dunia ini yang diciptakan melebihi kemampuanmu sebagai manusia. Bila semuanya terasa sulit, ingatlah ucapanku; ibu tahu kamu pasti bisa.
Nak, ibu tidak pernah pergi. Ibu melepasmu sebagai seorang anak laki-laki karena ibu tahu kamu bukan anak yang manja. Kamu mampu menciptakan perubahan yang baik untuk dirimu dan lingkungan sekitarmu. Kamu tumbuh menjadi anak laku-laki yang sangat berani dan kuat. Kamu tidak perlu menceritakan semuanya padaku, aku tahu kamu memiliki rahasia yang tidak bisa kamu utarakan padaku. Kamu tidak perlu melakukan itu, sungguh. Karena aku selalu tahu apapun yang terjadi pada anak laki-laki kesayanganku, itulah keahlianku. Walaupun kamu tidak pernah merasakan kehadiranku secara fisik, kamu akan merasakan selalu kehadiranku pada setiap hal yang kamu lakukan di dalam nuranimu. Aku tidak pernah pergi, aku akan terus hidup di dalam ingatanmu, aku akan terus hidup di dalam nuranimu, aku akan terus ada hingga kamu melupakanku.
Terakhir, berharap adalah hal yang wajar bagi seorang manusia. Untuk mendambakan sesuatu lalu mendapatkannya adalah salah satu syarat untuk seorang manusia agar tetap bertahan hidup. Harapan adalah sesuatu yang bisa menenangkan, harapan adalah sesuatu yang menciptakan perdamaian. Karena di dalam harapan selalu ada rasa percaya serta rasa peduli yang tidak pernah padam. Harapan adalah ketika kamu terlahir di dunia ini, anak laki-lakiku.
Mungkin sudah waktunya
untuk beristirahat,
dan berhenti mengejar orang-orang,
yang bahkan tidak pernah
meluangkan waktu untuk melirikmu.
Mungkin sudah waktunya
untuk melihat apa yang terbaik
dalam dirimu — tidak hanya pada orang lain.
Hari ini, kembali melakukan selebrasi. Satu tahun sekali, berkontemplasi bersama sekaratnya nurani yang ditinggal pergi.
Selamat untuk nurani yang hingga hari ini masih mau diajak berkompromi. Aku ingat betul, tiga tahun terakhir kamu dihajar habisa-habisan oleh memori tentang seorang anak perempuan. Tanpa basa-basi, tanpa permisi, tanpa maaf, tanpa terima kasih. Aku tahu, masih sangat banyak pertanyaan yang muncul dari dalam dirimu hinggal hari ini. Masih ada rasa bersalah serta tidak terima karena dicurangi. Sadarkah kamu selama ini, nurani?
Kamu memang paling hebat dalam bicara “Aku bisa melakukan semuanya sendiri, aku tidak butuh orang lain.” Tapi sadarkah kamu bahwa sikapmu itu selalu saja mengandalkan logika berpikir? Sadarkah bahwa hari ini kamu sedang sekarat? Sadarkah bahwa kamu sedang sakit? Sadarkah bahwa kamu memang lemah? Sadarkah bahwa kamu memang hancur? Sadarkah bahwa kamu tidak seperti apa yang kamu bayangkan dan katakan?
Selama ini kamu sangat mahir menutup diri hanya karena ingin terlihat lebih kuat dari pada yang lain. Kamu yang berwawasan, kamu yang bisa memahami karakter seseorang, kamu yang pintar menguatkan seseorang, kamu yang pandai bertutur kata, kamu yang selalu tampil mengesankan. Kamu selalu bersembunyi dibalik semua mahakaryamu. Seperti pisau bermata dua, sampai kapan kamu mau bersembunyi serta berkompromi untuk membahagiakan sekitar, sementara di sisi lain kamu hanya memperburuk kesehatan baik fisik atau mentalmu.
Jarang sekali aku temui untukmu bersuara sedikit saja. Karena kamu selalu mengemban semuanya sendirian, tidak ada seorangpun untuk diajak bercakap, kamu memutuskan untuk menghabiskan sisa waktu untuk melakukan apa yang kamu mau, nurani. Sekarang, waktunya sudah habis. Kamu terlihat bingung dan tidak melakukan apa-apa. Bahkan kamu tidak tahu apa yang kamu mau. Kamu lupa bagaimana rasanya menginginkan seuatu hingga putus asa. Kamu lupa rasanya mengejar sesuatu, mempunyai cita-cita, memiliki tekad. Yang terpenting, kamu lupa caranya membakar semangat hidupmu lagi.
Bertahun-tahun lalu, kamu tidak seperti ini, nurani. Kamu tahu betul di mana kamu akan berdiri lima tahun dari sekarang. Bahkan kamu tahu di mana kamu harus berdiri besok. Kamu selalu memiliki rencana yang menakjubkan serta cara yang unik untuk mencapainya. Kamu selalu mendambakan ladang terbuka yang indah, meninggikan eksplorasi, dan kegembiraan hidup. Kamu yang selalu berlari bebas, mendobrak batas-batas, serta memberontak buas. Tapi sejak kejadian tiga tahun lalu, kamu telah berhasil membangun kandang yang begitu kuat. Kamu berhasil memperlakukan dirimu selayaknya binatang, nurani.
Percayalah, bukan kesedihan yang membawamu pada titik ini, tapi perasaan ketika kamu tidak dapat menemukan kata-kata untuk menggambarkan semua yang merayap pada setiap larut malam selama bertahun-tahun. Ketika kamu sendiri di dalam gelap dan tidak ada yang lain selain kehampaan serta keheningan. Kamu selalu ada di dalam perjalanan, nurani. Kamu lupa, bahkan kamu tidak ingat ke mana kamu harus pulang karena setelah kejadian tempo hari tiga tahun lalu, kamu merasa kehilangan rumahmu. Ingatkah kamu, nurani? Kita selalu berbicara tentang rumah adalah tempat di mana kamu diinginkan dan dibutuhkan. Maka, pulanglah pada seseorang yang menginginkan serta membutuhkanmu.
Aku tahu betul, hari ini kamu sangat merindukan anak perempuan itu, nurani. Itu adalah hal yang wajar. Mengapa kamu selalu menolak perasaan itu? Biarkan hidup mengambil tanganmu serta membimbingmu sepanjang jalan dengan jemari yang menyilang serta percaya bahwa kamu akan menemukan sesuatu yang indah di perjalanan.
Matahari sebentar lagi terbenam, kamu harus bergegas. Semoga kamu menemukan jalan ke malam di mana tidur adalah hal terakhir yang harus kamu pertimbangkan. Semoga kamu berjalan melalui lampu-lampu tua yang yang usang dan mendapatkan inspirasi dari warna-warna lampu itu. Semoga kamu menemukan keinginan untuk berbicara lagi, untuk tertawa lagi, dan semoga ini membawamu kembali menjadi diri sendiri.
Selamat ulang tahun, nurani.
Selamatkan dirimu sendiri.
Dari aku yang tidak tahan melihatmu sendiri.