Resensi Buku: Selimut Debu
Khaak berasal dari bahasa Dari dan Pashto (bahasa Afghanistan) yang berarti debu. Khaak juga bisa diartikan sebagai tanah air, tanah kelahiran atau tumpah darah. Afghanistan dikenal sebagai sebuah negeri yang sangat berdebu. Debu berada dimana-mana, menyelubungi setiap sudut negeri dan hati rakyatnya. Bagi rakyat Afghanistan, debu sudah bukan lagi sekedar butiran halus yang beterbangan hingga ke tenggorokan dan mengisi perut mereka hingga kenyang. Namun lebih dari itu, debu adalah sejarah. Debu adalah kebanggaan sebuah bangsa yang gagah, berani, dan tak terkalahkan. Debu adalah hidup dan mati mereka. Dengan debu mereka hidup, dan padanya juga mereka akan kembali. "Khaak adalah liat lahat. Kepada khaak, bulir-bulir debu, semua perjuangan Afghan ini akan kembali. Khaak adalah Afghanistan."
Rasa penasaran saya akan judul buku ini langsung dijawab oleh Agustinus Wibowo, si penulis, di bagian prolog. Alhamdulillah do'a saya terkabul. Saya sungguh beruntung karena tidak perlu memendam rasa penasaran lebih lama lagi. Cukup sampai pertengahan prolog buku ini saja *lebay*. Tetapi, masih ada pertanyaan yang menggantung tentang judul hingga buku ini selesai saya baca. Kenapa model sampulnya bapak-bapak dan mas-mas yang sedang berkuda? Padahal dalam buku jarang disebutkan tentang aktivitas berkuda mereka. Kebanyakan malah tentang rumah-rumah yang terbuat dari lempung dan lingkungan yang sangat berdebu. Saya rasa, jika rumah-rumah tersebut jadi model sampul buku, tentu akan lebih menarik dan dramatis *sotoy*.
Agustinus Wibowo bukanlah tipe orang yang sibuk melabeli dirinya dengan sebutan backpacker, traveller atau apapun itu. Baginya ada yang hal lebih penting dari sekadar sebutan profesi. Adalah pelajaran hidup yang ia cari dari perjalanannya mengarungi negeri-negeri yang tidak biasa. Segala macam bahaya mulai dari penculikan, pembunuhan, pelecehan, penembakan hingga ranjau dan bom bunuh diri yang setiap saat siap menagih nyawanya. Dengan pengorbanan sebesar itu, Maggie Tiojakin (penulis Kata Pengantar buku), memilihkan sebutan profesi yang lebih layak dianugerahkan kepada Agustinus yaitu: explorer. Untuk meningkatkan popularitas, mungkin Agustinus perlu menambahkan gelar tersebut di belakang namanya menjadi Agustinus Wibowo the Explorer *krikk*
Benar kata Maggie Tiojakin, Agustinus tidak hanya melakukan perjalanan seperti seorang backpacker atau traveller. Tidak hanya berbekal ransel, laptop dan yang secukupnya, ia juga melibatkan satu hal yang sangat penting yang membuat perjalanan dan tulisannya menjadi begitu berharga: hati. Agustinus bekerja dengan hati. Perjalanan baginya tidak hanya berpindah-pindah lokasi ataupun sekedar rekreasi. Pengorbanan sebesar nyawa jelas membutuhkan imbalan yang setimpal. Agustinus memilih sendiri balasan yang layak baginya: arti dan pelajaran hidup.
Saat melakukan perjalanan, Agustinus benar-benar melibatkan perasaannya. Pun saat menulis. Termasuk saat bercerita tentang rumah sakit khusus orang cacat. Disana tidak hanya pasien yang menjadi korban keganasan perang, tetapi juga dokter, perawat, resepsionis, petugas kebersihan dan pegawai lainnya merupakan korban-korban kejahatan perang. Tidak semua dari mereka merupakan aktivis perang (bener gak sih istilahnya?). Sebagian adalah orang sipil yang tidak sengaja menginjak ranjau atau bom yang meleset. Menjadi rakyat negeri yang dipilih sebagai medan perang selama puluhan tahun membuat mereka harus menerima resiko yang tidak menyenangkan: mati mengenaskan atau kehilangan sebagian anggota tubuh. Bagian tubuh yang hilang kebanyakan adalah bagian kaki karena tak sengaja menginjak ranjau yang saat itu jumlahnya masih jutaan, tertanam di petak-petak tanah yang tak disangka-sangka. Sehingga mereka harus menggantinya dengan kaki palsu yang terbuat dari plastik. Membayangkan hal itu, membuat saya bergidik ngeri. Kaki saya bergetar. Getarannya semakin kencang saat saya ingat bahwa ternyata saya belum makan siang *krikk*.
Setiap membaca cerita seperti penculikan, pembunuhan, penembakan yang membabi buta, bom bunuh diri ataupun jebakan ranjau, saya merasa Agustinus termasuk orang yang beruntung. Meski pernah berada dekat dengan TKP, dia tidak pernah sekalipun menjadi korban peristiwa-peristiwa mengerikan tersebut. Kejahatan-kejahatan yang dialaminya hanya berkisar antara pencopetan, pelecehan seksual, dan yang paling sering adalah ditinggal kendaraan. Karena jumlah kendaraan sangat sedikit, ditinggal supir beserta rombongan merupakan salah satu pengalaman yang menyedihkan. Selain karena debu-debu yang siap memenuhi kerongkongan dan perut, jarak beratus-ratus kilo, dan medan yang berupa jalanan berlubang, gunung terjal, dan sungai deras harus dihadapi jika nekat menempuh perjalanan dengan berjalan kaki. Belum lagi ancaman penculikan oleh Taliban dan rentetan resiko berbahaya lainnya membuat penulis harus menunggu berjam-jam hingga berhari-hari agar mendapat tumpangan untuk sampai di lokasi berikutnya. Selain harus pintar-pintar melobi supir, penulis juga harus pandai membaca gelagat. Atas nama kesopanan, orang Afghan tidak akan menolak dengan terang-terangan. Mereka akan menggantinya dengan alasan tidak ada ruang di kendaraan, ongkos yang mahal atau janji-janji palsu. Pengalaman bertahun-tahun hidup di Afghanistan ternyata belum menjadikan Agustinus seorang pembaca gelagat yang ulung hingga akhir perjalanannya di negeri tersebut.
Selain jumlah kendaraan yang masih sangat terbatas, ketersediaan listrik dan air juga masih menjadi impian orang Afghan. Tidak ada tiang listrik disana, hanya ada generator yang akan mati jika kehabisan minyak. Air pun demikian. Beberapa desa hanya dikelilingi oleh hamparan gurun yang luas dan gunung batu yang terjal. Hingga mereka harus berjalan berkilo-kilo jauhnya hanya untuk mendapatkan air. Sebagian besar negeri ini memang berupa pegunungan batu yang cadas. Bentuk visual gunung-gunung tersebut dapat dilihat di lembar-lembar foto yang disertakan di dalam buku. Selain potret pegunungan, juga ada beberapa potret orang-orang Afghan dan kegiatan-kegiatan mereka. Bagi pembaca yang imajinasinya kurang seperti saya tidak puas hanya dengan deskripsi yang disampaikan penulis, kehadiran foto-foto ini sangat membantu.
Terakhir, ada beberapa pertanyaan yang belum terjawab dalam buku ini. Seperti misalnya, apa alasan penulis melakukan perjalanan dengan bahaya yang luar biasa seperti itu? Apakah ada wanita Afghan yang tidak menikah hingga akhir hayat karena mahar yang mahal? Dan satu lagi, rakyat Afghan tidak mengenal kalender, hingga mereka tidak tau berapa tahun umurnya sendiri, lalu bagaimana mereka menentukan kapan akan melaksanakan puasa Ramadhan, Idul Fitri, Idul Adha dan hari-hari penting lainnya? Well, ini memang bukan poin utamanya. Jadi, mari kita lupakan saja *ngek*
Dyah Oktavia | Senin, 17 Dzulhijjah 1437