akhirnya.. selesai juga membaca memoar perjalanan kak agustinus wibowo dari afganistan sampai ke tibet china!
serasa jalan-jalan virtual ketika membaca uraian kak agus di buku ini. bukan sekedar deskripsi lokasi, tapi juga refleksi perjalanan, memaknai identitas diri hingga garis batas antar negara, memahami keragaman suku dan konflik sosialnya (superior vs inferior, mayoritas vs minoritas, stereotype), berbagai tradisi yang berpadu dengan agama dan kepercayaan, kontras situasi, hingga rintangan melewati perjalanan berliku dan perbatasan dengan petugas korupnya.
tulisannya kak agus memberi sudut pandang baru buat aku tentang humanisme. budaya menghormati dan melayani tamu sebaik mungkin seperti yang ada di afganistan dan tajikistan walaupun kondisinya serba terbatas dan sederhana. memaknai burqa antara pengekangan vs perlindungan bagi perempuan. ironi kesejahteraan semu di negara diktator dan eksklusif. menjadi muslim yang bahkan tidak kena huruf kitab sucinya sendiri. dan yang mengejutkan buatku, Bacha Bazi, tradisi memelihara anak atau remaja laki-laki, dan mereka menampilkan tarian untuk pertunjukan yang ditonton para laki-laki dewasa, kemudian usai pertunjukan, mereka dibawa pemiliknya ke ruang privasi untuk melakukan hubungan yang bersifat seksual. kemudian konflik antar suku, yang tidak hanya sekedar terjadi justifikasi dan stetreotype, tapi juga adanya superior dan inferior antar mereka.
apapun bentuk negaranya, kondisinya, kondisi ekonominya, masalah multidimensi selalu ada. hingga terjadi klaim budaya, pahlawan nasional, juga mendera di negara-negara yang terpecah dengan garis batas.














