TITIK NOL. Bila ada sebuah #travelbook yang berhasil 'menyihir' saya, maka ialah Titik Nol. Sebuah #safarnama alias kisah perjalanan luar biasa dari seorang #AgustinusWibowo. Namun Anda jangan salah sangka, Titik Nol bukan tentang #travelguide atau kumpulan tips 'how to survive' atau buku panduan perjalanan lainnya. Lebih dari itu, Titik Nol bukan berbicara destinasi semata. Melainkan tentang memaknai sebuah #perjalanan. Maka ketika mendengar bahwa naskah #buku ini telah mengalami dua puluh kali lebih penulisan ulang, sungguhlah kegigihan dan kerja keras #penulis dan editor patut diapresiasi tinggi. Menegaskan betapa seriusnya Titik Nol ini digarap. Perjalanan Titik Nol dimulai saat ia menembus #Tibet secara ilegal, berlanjut ke #Nepal, #India, #Pakistan, #Kashmir dan #Afghanistan. Memaknai perjalanan lebih dari sekadar memuaskan ego. Salah satu kelebihan Titik Nol, penulis bukanlah #turis yang datang dan mengambil foto lalu pergi. Ia melebur di dalamnya, mengenal negeri, bercengkrama dengan #masyarakat dan #budaya, memahami dan merasakan emosi sosial disana. Lalu menyelami beragam pemaknaan. Gaya bahasa penulis begitu luwes dan terbuka di #TitikNol ini. Sesekali lucu dan menggelitik. Sesekali menampilkan amarah, kekesalan dan kekecewaan. Di lain waktu mampu menghadirkan duka dan kesedihan. Kita pembaca dibuat merasa penuh dengan berbagai pergolakan dan merasakan langsung emosi perjalanan tersebut. Keseruan, mendebarkan, dan pembelajaran kebijaksanaan. . ”Safarnama itu bukan melulu tentang kisah-kisah eksotis. Perjalanan itu bukan hanya soal geografi dan konstelasi, perpindahan fisik, lokasi dan lokasi. Perjalanan adalah melihat rumah sendiri layaknya pengunjung yang penuh rasa ingin tahu, adalah menemukan diri sendiri dari sudut yang selalu baru, adalah menyadari bahwa Titik Nol bukan berhenti di situ. Kita semua adalah kawan seperjalanan, rekan seperjuangan yang berangkat dari Titik Nol, kembali ke Titik Nol. Titik Nol dan titik akhir itu ternyata adalah titik yang sama. Tiada awal, tiada akhir. Yang ada hanyalah lingkaran sempurna, tanpa sudut tanpa bats. Kita jauh melanglang sesungguhnya hanya untuk kembali.” . #ulasbuku #reviewbuku #booktagram #read (at Mentawai Island)











