Sekarang Yang bisa dilakukan Hanyalah memandangi Dengan penuh kekaguman Sampai letih mata Semuanya masih tampak sama Mengagumkan Persis semula Berpasang mata yang menyorotnya Tentulah akan persis sama Akan menyepakatinya Tampak romannya Hampir musykil menjemukan mata Merengkuh permainya Kini tak bisa #Mim Rindu Tertahan Nb : ditulis saat gagal naik gunung 😂 ------------------------------------------------------------ Hallo leute, wir gehst? Gambar di atas, perasaan saya campur aduk pas ngeliatnya. Mau bangga, pesannya kayak itu, mau menyayangkan pun tak bisa. Sederhananya, kesimpulan saya ahlul truk itu punya pribadi yang cukup ekspresif. Ya, untuk lingkungan sekitarnya. Tapi yang lain bebas kok kalo gx sepakat dengan interpretasi saya. Mengekspresikan diri, ternyata masuk ke dlm salah satu kebutuhan loh. Dan kebutuhan yang satu ini juga menuntut kepiawaian. Ga kayak makan (mungkin ada juga sih tuntutan kepiawaiannya). Menjadi ekspresif, itu perlu. Terutama di wilayah dimana menjadi ekspresif itu sebuah keharusan. Contohnya betapa ekspresifnya David Guetta, Tiesto, Christiano Ronaldo, dll. Ngena pas hasilkan cita rasa. Tapi sering kita justru ekspresif untuk hal dan di tempat yang kurang semestinya. Banyak peristiwa positif dan negatif di sekitar, tak perlu sy contohkan. Lagi belajar gx ghibah (cie 😁). Selain itu, porsi berekspresi juga ada takarannya loh. Dan domain ini, ga ada standar internasionalnya. Pengalaman dan keluasan jiwa lah yang bisa jadi gelas pengukurnya. Untuk ukuran "middle class" dari jiwa-jiwa ekspresif (maksudnya kurang bisa ekspresikan diri, sekaligus juga ga bisa sembunyikan ekspresi diri). Ide saya di tulisan ini, adalah ...... Tebak ya, tapi ga berhadiah 😊 #SemangatPerbaikan