Oooooo kekasihku. Yang membekas dari luka bukan hanya sakitnya. Tapi wajahmu yang mengangkasa di langit-langit durja Oooooo Ku sebut parasmu pada pagi itu Ku teriakkan tentangmu di pinggir jurang savana Agar namamu, Lebih riuh dari, Kesepianku.

seen from Malaysia
seen from United States
seen from Russia

seen from Malaysia
seen from United States
seen from China
seen from United States

seen from Malaysia
seen from United Kingdom
seen from United States

seen from Russia

seen from Malaysia

seen from Russia

seen from Russia
seen from Kuwait

seen from Malaysia
seen from Yemen

seen from Indonesia
seen from United Kingdom
seen from United States
Oooooo kekasihku. Yang membekas dari luka bukan hanya sakitnya. Tapi wajahmu yang mengangkasa di langit-langit durja Oooooo Ku sebut parasmu pada pagi itu Ku teriakkan tentangmu di pinggir jurang savana Agar namamu, Lebih riuh dari, Kesepianku.
Kelak...
Kelak, pada waktu lahir seseorang yang memanggilmu bapak, apakah engkau masih mau meradang-radang kelu mengharap damba tepat ketika peluh membasahi seluruh dahimu?. bukan tidak mungkin, air matamu nantinya ikut mengalir membersamai peluh yang sesekali memenuhi kelopak mata yang memerah, demi menyiapkan seluruh kebutuhan rumah. Lalu, raga dan lelahmu terlatih membaur dengan diorama tanpa suara. Merajut fragmen sedih tak bertepi, yang mengakar kasar di telapak tanganmu dengan berbagai binar juga memar, yang kau susun hening dalam semoga. Lagipula, engkau juga akan rela melaluinnya, tapi, engkau juga mungkin memutuskan melewati jalur yang berbeda.
(Tetap) Ada engkau di hari-hari ini (2)
Nyatanya, tidak ada lagi sederas hujan yang dekat kelopak matamu. Ia hilang membawa orde bahagia. Di kolega sepi, aku sendiri mengkawani kerai rindu. Langit meneteskan hujan, pipi basah oleh rinai. Entah dari mata, atau benar-benar dari langit. . Bila langkah keruh dan perasaan tak bersauh. Inginku, kau pulang untuk mengingatkan. Tidak sepintas, lalu hempas. Satu,dua,tiga aku menghitung fana. . Jarak kita, ya, jarak kita, hanyalah sejauh kekata dalam puisi yang kita sama-sama belum mengerti maknanya.
(Tetap) Ada engkau di hari-hari ini (1)
Pasrah merupakan perihal tersudutkan dari sebuah kemauan, bukan ketidakmampuan. Bersama impian dari laki-laki pemimpi yang menyatakan ingin menjadi itu ini, ia menghasut langit kamar tempat aku menaruh semoga pada tiap malam sebelum aku menutup mata.
Barangkali, aku diizinkan untuk sedikit melihat tempat manusia-manusia bergerak selayaknya robot. Aku ada diatas.
Tak pernah kuterka sejatinya, dari atas langit aku menatap seorang muda yang berjuang sendirian berpetualang menemukan cinta dalam diamnya yang tak pernah terbaca oleh apa-apa.
Dia serupa angin yang dapat menyeretku kedalam angan-angan yang mengingatkan tentang segala keakuan. Aku menatapnya gersang. Ia tetap berjalan dalam kegelapan, padahal disekelilingnya lelampu-lampu terang berkedip bergantian. Memilih masuk ke dalam bayang-bayang ketidakpastian ; tepat seperti menerima puing-puing harapan yang kubangun.
Lebih luas, di lain tempat. Harapan yang lain teruntai hingga saat aku tepat terlelap. Menjadi seperti yang diingini atau tidak adalah soal ketatapan yang di sekenario olehNya.
Aku belum sepenuhnya mampu menikmati sisa-sisa mimpi yang kuruntuhkan sendiri dalam kenyataan yang justru -mungkin- aku lah yang menginginkan di luar kesadaran. Sebab ketidakmampuan ku untuk mewujudkan yang serba banyak ini-ini Pada setiap,senyum yang pernah kau berikan padaku adalah abadi yang terus kusimpan. Setiap tawa, gerak, perlakuan, serta pengakuanmu kepadaku adalah beberapa dari sederet pembuktian pada dunia bahwa aku -benar-benar menjadi seorang laki-laki.
Tepat. Waktu ini, lenyap tentang apapun keotentikan pada dirimu. Karena memang sejatinya bukan aku yang kau butuhkan di waktu-waktu kedepan Kesemuannya telah tinggal dalam dirimu sendiri, pada yakin yang setiap saaat menanyakan ketidakpastian, pada hati yang mempersiapkan ketangguhan-ketangguhan.
Ketika tiba babak yang (semoga) telah disekenariokan, saat kau mencari-cari dimana letak rumah lama dengan lelah dan perasaan yang teramat pasrah. Pintu itu tetap menunggu, barangkali ada teduh yang engkau rindukan dan pilu yang ingin kau utarakan.
Gubahan dari @gagarasmara
Teduh, Buku, dan beberapa yang membuatnya ada
Sebagian, letak keganjilan sore ini terletak pada keteduhan di tempat pertemuan kita, sebab, pada bangku-bangku itu telah menyerah pasrah, karena tahu?, hanya aku yang mereka kira mampu memberikan teduh kepadamu. Tidak pohon itu.
Waktu berjalan begitu cepat, jika lambat, hanya berlaku pada saat kita sekejab bertemu, bertanya kabar lalu bertukar buku, dan ketika aku lancang untuk membenarkan perasaan dengan hanya beralasan, berapa lama aku mengenalmu, jari-jariku tidak mau lagi bekerja dan tahu. Sebab, apa arti hitungan angka-angka itu jika semua orang tahu bahwa rasa selalu sederhana.
Biarpun, ungkapan "aku lala padamu" yang sejauh ini mungkin hanya aku yang ucapkan, adalah do'a yang luar biasa hebatnya.
Pada waktu aku tak mampu membunuh sepi, kulangkahkan kaki mengitari tempat yang pernah menjadi hening tepat ketika kita bertatap mata. Ia semacam gudang rahasia yang hanya aku dan kau yang mampu membaca dan mengartikan apa maksudnya. Aku, saat itu, saat merasa teduh tidak lagi ada di bangku taman, adalah buku yang tidak luput melihat manis senyummu ketika pagi hari sembari menemanimu minum kopi. Atau malam, ketika kau akan tidur, demi membunuh sepi yang tak kau inginkan. Aku adalah kawan untukmu. Untuk kau yang tidak sekalipun pernah jauh dari kata kesederhanaan.
Walau, telah ada keinginan seperti "aku ingin mencintaimu dengan sederhana, dengan kata yang tak sempat diucapkan kayu kepada api yang menjadikannya abu", aku belum mempercayai kesaktiannya, Tahu?, sebab, kita atau setidaknya hanya aku masih tidak tahu cara menahan hembusan angin dan terik untuk tidak nampak pada kamarmu. Bagiku, kesederhanaan adalah teduh di sore itu, cukup tidak memberi resah pada terik. Memangnya, apakah ada teduh yang melebihi teduh ketika tepat aku sedang bersamamu? Kurasa tidak.
Dan karena juga di kota dan beberapa sudutnya masih terasa belum aman agar kita bertatap mata, aku mendaulat diri untuk mengolah kata-kata sebagai suatu zat yang akan jatuh membasahi seluruh tubuhmu, membunuh sepi, dan alibi-alibi lain yang tak perlu kau hamburkan, kecuali padaku dan cara-cara lain untuk mengartikan rindu selain dengan bertemu.
Perbuatanku
Seperti yang pernah kukatakan kepadamu, aku tidak terlalu suka mengucapkan kata-kata indah atau janji manis kepadamu. Jika aku memang ingin mengucapkannya, maka biarlah perbuatanku mewakili lidahku untuk itu. Aku tidak ingin ucapanku ke timur tapi yang kulakukan ke barat, jadi cukup kau mendengarkanku melalui perbuatanku. Kita sama-sama tahu, banyak orang yang terbelit ucapannya sendiri. Kata-kata memang ringan diucapkan dan seringkali melenakan sang pendengar sekaligus sang pemilik kata. Hati kadang tidak setuju dengan ucapan itu, hanya saja ia tak bisa bicara. Maka ia tunjukkan melalui perbuatan yang tak sejalan dengan ucapan itu. Kau yakin kan, hati tak pernah berdusta? Memang, untuk bisa memahami maksud di balik perbuatan, dibutuhkan lebih dari sekadar telinga. Butuh waktu dan usaha lebih untuk mengerti. Perbuatan itu muncul dari hati, maka bukalah hatimu agar kamu bisa memahaminya. Saat hatimu terbuka, rasakanlah bahwa mata, telinga, dan pikiranmu juga ikut terbuka. Karena itu, bila aku hening tanpa kata, janganlah langsung menyimpulkan aku diam. Mungkin lidahku diam, tapi suaraku jauh lebih keras dalam bentuk perbuatanku. Tak perlu kau menunggu ucapan menenangkan dariku. Bukankah perbuatanku untukmu jauh lebih menenangkan? Depok, 17 Desember 2016 23.21 UTC +7
Jalan Cerita edisi Revisi
Aku bahkan tidak terlalu mengetahui apa proposal jalan hidup yang kuajukan lewat doa-doa. Hanya saja kini aku tidak menyebutkan penanggung jawab atas rasa-rasaku. Atas keinginan-keinginanku. Aku ingin--itu saja. Tanpa dengan. Tanpa tapi.
Dari Mata Mercusuar
Pagi hari di pantai ini, bisa kautemukan anak-anak ombak berkejaran. Sesekali mereka menyelisik hamparan pasir-pasir purba. Entah apa yang dicari. Entah apa yang tak kembali atau tak terganti. Setelah cakrawala berubah merah; matahari tua, perahu-perahu nelayan dan sepasang burung camar melukis lanskap di dinding ingatanku. Entah apa yang selalu kuduga. Entah apa yang mengekalkan tanda tanya di kepala seorang Syahbandar. Lalu siapa yang ingin labuh; badai itu atau kapal besar di kejauhan sana? Mereka seperti saudara kandung yang terlampau lama tak bertukar pelukan. Di antara geram langit, tinggi gelombang dan rasi-rasi bintang yang hilang; adakah yang bisa kaupercaya?
Dan dari mata mercusuar, kutemukan angkasa katabahan.
Solo, Juni 2016