Surat keenam tentangmu
Pekanbaru, 8 maret 2017 02.31
Teruntuk kamu yang saat ini sedang berlayar menuju pulau mimpi.
Hai kamu, Sibukmu sepertinya tidak memberi jeda dan semakin berlomba adu cepat dengan rinduku. Sepertinya sibuknya kamu enggan mengalah. Aku cemburu, tapi masih bisa ditawar kok. Terlebih saat mendengar suara lelahmu, cemburunya jadi ilang. Ya gimana enggak hilang, mendadak jadi khawatir. Jadi nggak ada tempat buat cemburu deh.
Hei tapi terimakasih ya Bapak sibuk! Masih menyempatkan diri menjawab tuntutan kangenku. Terimakasih sudah selalu sabar menghadapi pola tingkahku yang (katakanlah) ajaib ini. Terimakasih untuk jawaban yang lebih ajaib lagi dari banyak pertanyaan aneh atau blak-blakanku.
A : Udah dirumah sakit ya, kang. K : Baik-baik dinasnya ya. Semangat ya. A : Kang, nggak kangen? Jawab ‘Iya’ apa ‘enggak’ aja. Ini multiple choice. K : hmm~ kalo buat soal pilihannya nggak cuma 2. A : ih ini cuma 2 aja, tinggal jawab aja. K : Duh, kalo gitu minta waktu ya. Kalo ngerjain soal itu lama jawabnya, kan butuh mikir. A : Idih, ya udah deh. Nggak jawab juga nggak apa-apa. (ceritanya pura-pura ngambek ditelfon) K : (nahan ketawa); nggak papa nggak jawab enggak? Soalnya aku mau jawab iya. A : (senyum lebar, perut jadi geli-geli)
Bagaimana mungkin aku nggak makin rindu, hampir aja egoisku enggan lepas. Tapi aku tau prioritas kamu saat ini, mengalah untuk yang baik sama sekali bukan masalah. Selagi aku tau kamu masih disana dan ada untuk aku, nggak apa-apa. Toh juga dalam sibukmu yang sambung menyambung itu kamu masih 'menemani’ aku keliling rumah sakit dini hari. Toh juga dalam sibukmu itu kamu masih menyempatkan video call. Kurang banyak apa alasanku untuk bersyukur dan nggak mengeluh? Kamu biasaku yang sangat luar biasa.
Jadi, dini hari ini aku ingin kamu tau aku bahagia. Bahagia yang sederhana tapi memenuhi setiap sisi terbaik dan terburukku. Berbaliklah, disini aku menyimpan banyak kotak senyum dan semangatmu. Berhentilah jika butuh.
Bapak yang baru terlelap, Terimakasih untuk suara dan tawa ringan yang menenangkan. Terimakasih untuk hal sederhana tapi bermakna. Terimakasih sudah menjadi kamu.
Aku titip kamu kepada pemilik langit untuk menemani kamu berlayar malam ini. Maafkan aku tidak turut serta dan menemanimu. Aku percaya Sang Pemilik langit akan menjaga senyum malam ini untukku esok pagi.
Dari aku yang teramat rindu.















