âAku masih berhutang,â sautku, âmenunjukkanmu dua tempat makan yang enak haha.â Sambil sedikit merealisasikan tawa itu.
âHaha, iya, sepertinya akan bertambah, menjadi tiga, empat, dst.â Balasnya.
Saat itu, aku sedang duduk bersandar pada dinding di sisi paling ujung kasurku yang semakin tipis dan semakin usang saja. Tidak memikirkan apa yang ia maksud dengan kalimat sederhana itu, dengan torehan sedikit tawa di awalnya. Tidak memikirkan apa-apa. Saat itu, aku masih terjerumus kesenangan hati semata yang aku upayakan, dengan segala pikiran positif, dengan harapan-harapan progresif, yang sedikit demi sedikit menyeretku, melayangkan pikiranku jauh ke entah berantah. Perasaan yang meluap saat itu, ia menuntunku pada sebuah sabana. Tapi, yang aku dapati hanyalah kabut yang penuh dengan pekikkan-pekikkan kekhawatiran, yang melantunkan nada-nada minor penuh kepesimisan. Hati pun mulai bergumam, mulai beradu argumen dengan otak kanan. Mengumpulkan, menyaring informasi-informasi, dan mencoba untuk menarik kesimpulan-kesimpulan. Logika masih belum menemukan jalannya. Masih tersesat di antara curhatan-curhatan yang disampaikan lewat beberapa repost di LINE. Sampai akhirnya, sore itu, ia tengah bersiap-siap untuk menampilkan dramanya bersama kelompok teaternya, Teater Darpa. Oh, iya, aku suda berjanji, akan berusaha datang bila memungkinkan, untuk menonton pentas penyutradaraanmu, Bunga Rumah Makan. Maaf, hari itu, Senin, 14 Desember 2015, ndilalah hujan turun cukup deras. Aku juga sedang berurusan mengerjakan beberapa tugas.
âMaaf, ya.â Ucapku dalam hati.
Jelas sekali kata maaf itu tidak tersampaikan. Lalu, beberapa jam kemudian, aku mendapatkan kabar baik dan kabar buruk. Kabar baiknya, ia sukses dengan dramanya, pun hubungannya dengan mantannya yang terjalin kembali. Oh, iya, kabar buruknya tidak ada. Apa? Aku tidak menganggap itu suatu keburukkan. Selamat atas itu, dan aku pun terselamatkan. Terselamatkan dari harapan-harapan semu (tentang mendapatkanmu) yang membelengguku. Dan aku tersadar bahwa kalimat tersebut ternyata mengandung sebuah penolakkan. Sial.
Setelah ini, mungkin malah beberapa orang di luar sana yang akan memandangku buruk.