seen from United States

seen from United States
seen from Mexico
seen from United States

seen from United States
seen from Italy

seen from United States
seen from Hong Kong SAR China
seen from United States
seen from United States
seen from Hong Kong SAR China

seen from United States
seen from United States

seen from United States

seen from Canada
seen from Hong Kong SAR China
seen from United Kingdom
seen from United States

seen from United States
seen from United States
Disebalik penantian itu.
Tepat jam 12 malam ini, genap sudahlah hari terakhir dalam bulan Mei.
Mei. Bulan ini, banyak ceritanya. Banyak dramanya. Banyak juga tangisnya.
Tapi, aku survive sampai ke penghujungnya. Penghujungnya yang entah macam mana. Nak kata, pengakhiran yang baik pun tidak, pengakhiran yang tak baik pun tidak. Anggap sajalah ia tarikh penghujung yang seakan normal seperti bulan-bulan lain.
Memandangkan aku pun masih dalam fasa anxiety, aku decide untuk teruskan saja lah penulisan malam ni. Alang-alang boleh bawa rasa anxious ni sampai ke hari vaksinasi. Entahlah, penat aku dengan anxiety.
Siang tadi, entah macam mana, seakan Tuhan memberi signal utk hati. Terlintas pulak satu video yang akan aku kongsikan buat tatapan sendiri sebagai satu peringatan yang tidak akan basi sampai berzaman. Peringatan ini, mahal. Jadi, aku lakarkan satu coretan untuk malam ni.
Rujukan sumber dari Youtube (Ustaz Hanan Attaki) : https://youtu.be/7DRfbn6pAqI
Berkaitan dengan hidup aku yang kadang kadang susah untuk aku jelaskan, rupanya aku selama ini hilang satu perkara. Tidaklah aku ini dijadikan dengan sifat yang sempurna, akal ku juga tidaklah besar mana, cuma begitulah. Ada masanya memang selalu lemah. Lemah dalam bayang bayang sendiri, hanyut dalam lautan sendiri yang akhirnya mati. Jarang sekali untuk aku cerita.
Rupanya selama ini, aku hilang fokus dalam hidup. Ikhlas.
Ya, betul lah tu. ikhlas itu lah yang aku hilang selama ni. Kau bayangkan, setelah 2 dekad hidup, rupanya masih hilang sebuah keikhlasan dalam diri. Biarpun kita rasa kita sudah ikhlas semuanya, tapi sekecil zarah pun Tuhan tahu. Ada juga niat yang tidak baik datang dari hati. Hati yang tidak ikhlas. Kalau selama ini, zaman remaja aku penuh dengan kata kata yang tidak baik. Aku kira, dunia ini kejam. Rupanya mmg betul kejam. Keinginanku waktu itu hanyalah sebuah kematian.
Tapi rupanya aku silap.
Aku silap sebab dalam hidup ini, bukanlah kematian yang kita cari. Rupanya dulu, hati aku yang dah mati.
Mencari kebenaran dalam agama aku sendiri bukanlah sesuatu yang mudah. Semuanya datang dari niat dan keizinan dari Tuhan. Jika Tuhan tidak izinkan, aku takkan dapat sekecil apa pun ilmu dari agama ini. Tapi, hairan. Semakin banyak aku cuba untuk belajar, semakin hilang fokus aku.
Rupanya niat aku tak betul. Dosa pun banyak menjadi satu sekatan untuk aku fokus dalam mengejar keikhlasan. Rupanya itu lah punca kenapa aku tak keruan. Tuhan sayang, Tuhan tahu semuanya.
Antara 2 hal yang buat aku struggle mcm nak mati ialah niat dan akhlak. Setinggi mana pun aku, setebal mana pun kitab yg aku baca...kalau aku tak dapat jaga 2 hal ini, mmg aku kalah. Kalah dengan diri sendiri. Kan rugi tu!
Hari demi hari, jadi makin anxious. Insecure dengan diri sendiri. Memang takkan org tahu, aku selemah ini. Sangat lemah. Menangisnya banyak, pendam nya juga banyak. Sampai bila aku boleh menjadi seorang yang betul-betul ikhlas?
Tuhan, bantulah aku. Bimbinglah aku ke jalan menuju orang yang Mukhlasin. Yang baginya, tiadalah beza antara batu dan permata.
Dan sesungguhnya, tinggilah harapan aku memohon kesucian hati, maka sucikanlah hatiku ini, wahai Tuhan.
Cukuplah,
Semua ini perlukan pengorbanan yang tinggi. Tidaklah aku keseorangan, sedangkan Tuhan ada bersama ku. dan Allah sajalah yang akan bantu aku dalam apa jua cara sekalipun.
Tuhan,
Ampunkan aku.
Ampunkan aku.
perjalanan
mungkin aku terlalu sering menganalogikan hidup dengan perjalanan. atau mungkin sebenarnya hidup memang sebuah perjalanan? tentunya dengan banyak rahasia di setiap rutenya.
bicara tentang perjalanan, tentu harus pula menimbang panjang pendeknya atau banyak sedikitnya lika-liku. beberapa manusia kemudian menjadi putus asa sebelum sempat menyelesaikan perjalanannya. ya, beberapa jalan terlalu berbatu untuk dilalui.
kadang perjalanan juga menawarkan keunikan dengan ujung cerita yang selalu tidak tertebak. beberapa manusia akhirnya tenggelam lalu lupa dengan tujuan awalnya.
dan intinya mungkin hanyalah menyoal keikhlasan untuk menjalani juga keyakinan bahwa semua akan baik-baik saja.
P. s. : bacanya dari bawah ya :D
Edisi mencoba font. Lucu sekali 🥺🤧.
00.00
Kita seperti jarum jam panjang dan pendek.
Berputar searah namun tak bersama,
mengeja detik demi detik begitu tabah.
Terus berjalan agar dapat bertatap muka,
hingga bertemu pada titik paling pongah.
00.00
Kita berdua, mengguncang semesta.
— Purwakarta, A.
Sudah, tapi
Ini cerita tentang ibu dan anak, yang tak mau nama mereka disebut atau bisa dibilang tak ada yang mau mendengar tentang nama mereka. Mereka tinggal di sebuah gubuk sederhana milik tetangga yang masih terhitung sanak saudara dalam kesusahan. Gubuk yang bersebelahan dengan sawah bisa dibilang cukup mewah bagi mereka. Meski memiliki banyak alasan untuk mengeluh namun mereka bersyukur bahwa nasib mereka masih sama seperti manusia lain pada umumnya yang memiliki atap untuk berteduh tak seperti pohon yang ditakdirkan melewati hujan badai tanpa berlindung pada apapun selain pada dirinya sendiri.
Di suatu malam hujan berpetir, atap rumah ibu dan anak itu bocor. Lalu sang anak bertanya pada ibunya: “Apakah nasib kita akan sama dengan pohon pisang di luar sana?”
“Kuharap tidak, Nak. Jika celengan ayam kita sudah penuh, kita bisa perbaiki atap kita,” balas sang ibu dengan agak ragu tapi berusaha meyakinkan anaknya.
Ibu dan anak tersebut berjualan pisang goreng. Kadang mereka berpikir untuk mencari bahan lain yang bisa digoreng entah itu ayamkah, ikankah atau sapikah. Sayangnya mereka hanya bisa menggoreng pisang, dari pohon pisang milik tetangga.
“Kapan celengan ayam kita penuh, Bu?” sang anak mulai tak sabar.
“Ibu tidak tahu, Nak tapi ini sudah separuh,” balas ibu sembari menyiapkan dagangan.
“Berarti masih perlu kumpulin separuh lagi donk, Bu?” desak anak.
“Tidak ada jalan lain, Nak,” tutup ibu.
Sang ibu menyadari bahwa ia tak memiliki apa-apa. Hampir semua yang ia miliki hasil meminjam atau karena kemurahan hati orang lain. Dulu ia punya banyak mimpi. Sekarang ia hanya memiliki keyakinan bahwa celengan ayam itu akan penuh, harapan untuk memperbaiki atap gubuknya dan cinta yang tak pernah habis ia curahkan untuk anak semata wayangnya.
Tiada hari di hidupnya tanpa pertanyaan. Tanpa pertanyaan tak ada jawaban. Begitu pikir sang anak.
“Apakah sudah penuh, Bu celengan kita?”
“Sudah, Nak. Tapi…,”
“Tapi kenapa, Bu?”
“Meski sudah penuh tapi belum cukup,”
“Baiklah…”
Enggan
Kisah dan catatan ini dimulai saat pertama kali tersadar di tempat yang bernama Bumi ini. Belum mengerti sama sekali cara menulis dan bicara, masih terlalu naif untuk dilakukan. Kurasa orang yang bernama Tuhan itu-pun belum mengizinkan-ku. Tapi ada satu kata yang terngiang di kepala, yaitu Enggan.
Namaku Enggan, sudah itu saja. Aku lahir di rumah sakit seperti layaknya seorang bayi, aku tahu cahaya yang terlalu terang itu yang menatapku pertama kali. Terlahir tanpa Ayah, itu hal pertama kali yang kutahu dan melihat wajah wanita yang kutatapi dalam-dalam, kupanggil Ibu sampai saat ini.
Bila kutahu ini akan menjadi terakhir kalinya kulihat dirimu terlelap tidur, Aku akan menyelimutimu dengan lebih rapat dan berdoa kepada Tuhan agar menjaga jiwamu. Bila kutahu ini akan menjadi terakhir kalinya kulihat dirimu melangkah keluar pintu, Aku akan memelukmu erat dan menciummu dan memanggilmu kembali untuk melakukannya sekali lagi. Bila kutahu ini akan menjadi terakhir kalinya kudengar suaramu memuji, Aku akan merekam setiap kata dan tindakan dan memutarnya lagi sepanjang sisa hariku. Bila kutahu ini akan menjadi terakhir kalinya, aku akan meluangkan waktu ekstra satu atau dua menit, Untuk berhenti dan mengatakan “Aku mencintaimu” dan bukannya menganggap kau sudah tahu. Jadi untuk berjaga-jaga seandainya esok tak pernah datang dan hanya hari inilah yang kupunya, Aku ingin mengatakan betapa aku sangat mencintaimu dan kuharap kita takkan pernah lupa. Esok tak dijanjikan kepada siapa pun, baik tua maupun muda. Dan hari ini mungkin kesempatan terakhirmu untuk memeluk erat orang tersayangmu. Jadi, bila kau sedang menantikan esok, mengapa tidak melakukannya sekarang? Karena bila esok tak pernah datang, kau pasti akan menyesali hari. Saat kau tidak meluangkan waktu untuk memberikan sebuah senyuman, pelukan atau ciuman. Dan saat kau terlalu sibuk untuk memberi seorang yang ternyata merupakan permintaan terakhir mereka. Jadi, dekap erat orang-orang tersayangmu hari ini dan bisikkan di telinga mereka, bahwa kau sangat mencintai mereka dan kau akan selalu menyayangi mereka. Luangkan waktu untuk mengatakan “Aku menyesal”, “Maafkan aku”, "Terima kasih”, atau “Aku tidak apa-apa” Dan bila esok tak pernah datang, kau takkan menyesali hari ini.
Norma Cornett Marek, 1989