Banyak murid, banyak kepala
Tidak lahir generasi-generasi terbaik melainkan dari guru yang terbaik pula. Karna guru adalah sumber dari ilmu, dan ilmu yang akan menentukan kebaikan suatu generasi atau peradaban. Guru pula adalah sumber kemuliaan, pendatang rahmat dan pelecut potensi. Banyak sekali kisah keteladanan orang terdahulu yang lebih memuliakan guru tak kalah mulianya dari orang tua. Karna seringkali guru menjadi ayah ideologis sedangkan ayah hanya terjadi secara biologis. Beruntunglah anak-anak yang memiliki ayah biologis sekaligus ayah ideologis.
Tapi guru bukanlah satu-satu hal yang akan membentuk kepribadian seseorang. Guru hanya mengantarkan muridnya kepada jalan kemuliaan dengan bekal ilmu yang diberikan. Dikembalikan kepada murid akan di bawa kemana ilmu tersebut.
Setiap orang akan berbeda-beda dalam mengamalkan pengetahuan dari seorang guru. Dan tidaklah salah yang demikian. Sebab banyak murid akan ada banyak kepala dan akan ada banyak pemikiran.
Seperti kisah KH. Ahmad Dahlan dan KH. Hasyim Asyari yang merupakan pendiri dari Muhammadiyah dan Nahdatul Ulama yang berguru pada guru yang sama yaitu KH. Ahmad Khatib Al-Minangkabawi. Namun keduanya memiliki jalan yang berbeda dalam perjuangannya. KH. Ahmad Dahlan lebih menekankan pada pembaharuan islam dan semangat kembali kepada islam yang kaffah sedangkan KH. Hasyim Asyari lebih menekankan pada dakwah kultural untuk dapat menjangkau umat islam di pelosok negeri. Keduanya memiliki guru yang sama dan semangat yang sama dalam islam dan perjuangan namun dengan cara yang berbeda.
Kisah lain adalah kisah dari HOS. Tjokroaminoto yang memiliki 3 murid yaitu Soekarno, Semaoen dan Kartosuwiryo. Ketiganya memiliki peran yang amat besar dalam turut memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. HOS. Tjokroaminoto berhasil menanamkan nilai-nilai luhur perjuangan meskipun dengan jalan yang berbeda-beda. Soekarno dengan jalan politiknya berhasil menjadi Presiden pertama RI, Semaoen dengan PKI dan Kartosuwiryo dengan NII. Meskipun kisah persahabatan mereka akhirnya berakhir tragis. Peran ayah intelektual sangat dominan disini, meskipun secara ideologis HOS. Tjokroaminoto adalah sosok yang sangat islamis, tetapi ia tidak memaksakan ideologi yang dianutnya.
Tugas guru adalah menyampaikan ilmu dengan baik dan ikhlas. Sebab ikhlasnya guru akan menjadikan ilmu tersebut menjadi rahmat. Setelah guru memberikan ilmunya dengan baik, maka terserah seperti apa sang murid akan membawa kemana ilmunya. Sedangkan tugas murid adalah belajar dengan sungguh-sungguh dan memuliakan guru, sebab ilmu yang diberikan akan menuntunnya menuju jalan kemuliaan dimanapun berada.
Maka jika ingin menjadi generasi terbaik, pilihlah guru terbaik, bukan hanya kemampuan intelektualnya tetapi juga karakternya.