Kala sang Fajar menyingsing, Mentari terbit di Timur ufuk
Hiruk pikuk duniawi telah dimulai demi Darma hidup
Kelak senja menyapa, Mentari akan tenggelam tenggelam di barat ufuk
Tak banyak sadar dalam gelap dunia tetap sama berbentuk
Sadari hidup bukan hanya kala mata terjaga
Saat terpejam hidup terus berjalan tiada beda
Saat kasat mata tiada bisa terus terjaga
Mata hati menjadi andalan utama
Hakekat hidup akan terus berkembang
Menurut kodrat menuju kesempurnaan
Keabadian kembali kepada causa prima
Sebagai manusia makhluk Tuhan semsta
Namun tidak setiap insan mampu menyadari
Sesuatu yang tersimpan menyelinap dilubuk hati nurani
Setia Hati sadar menyakini akan hakiki hayati
Dimana Sang Mutiara Hidup bertahta dalam diri
Setia Hati sadar dan meyakini
Sebab utama dari segala malapetaka diri
Sesungguhnya bukanlah dari luar diri
Setia Hati mengajarkan Kenal diri berbudi
Tanpa mengingkari segala martabat keduniawian
Setia Hati tidak alan tenggelam pada ajaran tempa diri
Pencak Silat menjadi tangga menuju percaya dan kenal diri
Lebih dari itu. Miliki Setia Hati harus selalu terpatri
Kini kami ditempa dalam kawah Candra Dimuka
Demi luhur Budi tahu benar dan salah
Pencak Silat ajaran Setia Hati menjadi media
Agar kelak kami sadari hidup bukan sekedar pandangan mata
Jayalah Setia Hati Terate
Surodiro Jaya Diningrat Lebur Dening Pangestuti