aku tahun ini baru aja memilih sebuah rumah baru untuk aku tempati. Mungkin ini rumah terakhir yang akan aku pilih untuk akhirnya tidak akan pindah rumah lagi. aku harap begitu.
karena pindah rumah menurutku adalah hal yang sangat menyebalkan. karena kita harus mengulang segalanya mulai dari awal lagi. mengenal, menata ulang kembali, supaya kita. nyaman tinggal disana.
kali ini, aku memilih rumah, yang dari luar, nampak rapi. bersih dan siap untuk huni. jadi aku ga ragu untuk mulai mengenali rumah ini. menelusuri asal usulnya. pemilik-pemilik sebelumnya dan seperti apa karakter rumah ini, supaya aku bisa mendekorasinya sesuai dengan karakter rumahnya tanpa perlu aku rubah, supaya tidak rusak, dan supaya tidak “menyakiti”.
sebulan dua bulan berjalan, pintu gerbang rumah ini pelan-pelan bisa dibuka. aku masuk sampai halaman dan teras. sejauh ini.... yah nyaman. tamannya tertata rapi. aku terlalu asik untuk menikmati rumah baruku di luar.
perlahan, aku mulai mencoba membuka pintu utama untuk masuk keruang tamu. agak susah. butuh usaha ekstra. dan kesabaran agar rumah ini bersedia membukakan pintunya.
sesekali aku melihat ke jendela yang membantu aku untuk melihat bagaimana kondisi didalam rumah ini. kaca yang kotor itu, tertutup tirai, tapi sedikit terbuka, jadi aku masih punya celah untuk mengintip keadaan di dalam rumah ini.
sekilas. terlihat rapuh. dan berantakan. tidak seperti tampilan luarnya yang kokoh.
melihat itu, aku mulai ragu, dan sedih. tapi, bayangan itu membuat aku makin ingin masuk. aku paksa pintu itu agar terbuka. dengan sedikit rasa sakit, pintunya terbuka. dan aku masuk.
pemandangan yang lebih jelas nampak. rumahku ini benar-benar porak poranda. rapuh. hancur. rusak. berantakan. kotor dan sebenarnya yang aku rasakan adalah belum siap huni.
sejenak aku berfikir. sedih, kecewa, sakit, marah, itu semua bercampur jadi satu. harus pergi dan tinggal kemana lagi aku? semua kalimat caci makian keluar untuk pemilik rumah yang sebelumnya karena tidak bisa menjaga rumah sebagus ini dengan baik. sangat disayangkan. dan bebannya ada di aku sekarang, untuk harus memulai merenovasi bagian bagian yang rusak, lubang, dan rapuh di rumah ini agar baik kembali. aku harus tata ulang dengan rapi semua yang berserakan ini. aku bersihkan semua debu-debu masa lalu yang masih tersisa disini. tugasku banyak. berat.
tapi apa lagi yang bisa aku lakukan?
aku sudah memilih rumah ini untuk aku tinggali. rumah ini bagus, hanya masih rusak. harus darimana aku memulai membersihkan rumah yang besar ini? setiap sudutnya ada kotoran dan retakan yang dipahat sempurna oleh pemiliknya yang sebelumnya.
bagaimana jika pindah dan mencari rumah baru?
itu mungkin saja. tapi aku butuh tenaga lagi dan waktu lagi untuk itu. dan, mungkin saja jika aku terus sibuk mencari yang terbaik, aku akan kehilangan yang baik. karena biasanya kita akan sadar bahwa yang baik akan menjadi yang terbaik ketika hal itu sudah bukan jadi milik kita lagi. dan aku sudah lelah dengan drama-drama yang mengharuskan kita untuk pergi lagi mencari rumah baru.
jadi, aku akan berusaha menata kembali rumah ini agar bisa aku tempati, mencoba membetulkan apa yang telah dirusak, dan menambal semua yang berlubang. aku butuh meluangkan waktu lebih banyak untuk rumah baruku ini. mungkin, memperluas sabar dan perhatianku untuk mengisi setiap ruangan yang ada disini agar terisi dengan baik. tertata dengan baik.