Sawang-Sinawang
“Urip iku mung sawang sinawang, mula ojo mung nyawang sing kesawang”
Ya, kurang lebih arti dari pepatah jawa ini adalah : Hidup itu menyoal melihat dan dilihat, maka kita tidak boleh hanya sekadar melihat apa yang terlihat (secara fisik). Karena kita tidak tahu bagaimana proses yang dilakukan tiap-tiap orang, tidak merasakan perjuangan fisik maupun psikologis yang dihadapi, pengorbanan yang dilakukan atas keputusan yang dipilih. Melihat apa yang sekadar tampak cenderung membuat kita abai terhadap proses yang tentu tidak instan. Selanjutnya, komparasi tanpa batas akan membuat kita jauh dari rasa syukur atas takdir Allah yang harus kita jalani.
Beberapa waktu lalu di awal Agustus 2017, saya diberi kesempatan oleh Allah untuk ke Jakarta, mengikuti acara Temu Ilmiah Nasional Ikatan Psikologi Klinis Indonesia. Tentu, di samping agenda utama (menghadiri acara dinas), saya selalu punya agenda silaturrahim bersama sahabat-sahabat di Jakarta. Karena agenda utama selalu sampai sore (sekitar jam 16.30), saya hanya punya kesempatan malam hari untuk bermain. Ini merupakan pengalaman pertama saya jalan-jalan sendirian di Jakarta, bermodal doa Ibu dan gojek :))
Salah satu teman yang saya kunjungi adalah, sahabat yang ketemu di jalan. Kata beliau, saya adalah tamu pertama setelah pernikahan yang berlangsung 15 Juli 2017 lalu. Perjalanan yang cukup waw dari Panglima Polim Jakarta Selatan menuju Tanah Abang Jakarta Pusat dibayar dengan tunai oleh Allah dengan saling berbagi cerita, antara saya dan beliau.
Dan sawang sinawang itu pun dimulai disini,
Tentang beliau yang menyatakan ingin menjadi calon dosen/asisten dosen/teaching assistant (atau apalah sekarang saya saat ini), karena menurutnya, saya bisa mengaplikasikan keilmuan saya di jalur yang tepat.
Tentang saya pun yang menyatakan, ingin sekali seperti dia. Hidup di ibu kota, menikah di usia dua puluh empat, dan menjalankan peran sebagai ibu rumah tangga sekaligus bekerja.
Syukur alhamdulillah, Allah hadir dalam keinginan-keinginan semu kembali, dan memanggil kami kembali.
“memang hidup itu sawang sinawang ya, seringkali kita sudah diberi rezeki yang berlimpah ruah, tapi masih aja nyawang orang lain, akhirnya lupa syukur.”
“Iya, Padahal Allah sedang menjawab doa-doa kita, kita malah sibuk terus menerus pingin menjadi orang lain. Padahal Allah nggak pernah salah atas keputusanNya. Tidak pernah tidak tepat waktu dalam memberikan amanah pada hambaNya”
Dan saya tersadar, semua keinginan saya untuk menjadi seperti teman saya (atau sebaliknya), memang hanya sekadar apa yang tampak dari luar, padahal jika memahami secara komprehensif, baik menjalani hidup sebagai saya, dia, atau siapapun, akan selalu diuji oleh-Nya. Itu ketetapan Allah bagi hamba-hambaNya yang beriman (semoga kita termasuk :”” aamiin).
Ya, pada akhirnya mau bagaimanapun kita sawang sinawang terhadap orang lain, seberapa banyak dan lamanya kita terus ber-komparasi tanpa batas, pada akhirnya ketetapan Allah lah yang harus kita jalani. Jangan sampai kita sibuk membanding-bandingkan kehidupan kita, justru malah menumpulkan kepekaan kita atas keberkahan yang Allah berikan di setiap hembusan nafas kita. Jangan sampai komparasi tanpa batas ini justru menutup potensi kita untuk lebih produktif dengan aktivitas yang harus kita jalani saat ini. Hidup memang tentang melihat dan dilihat, namun untuk menambah rasa syukur, bukan menabung kegelisahan. Sekali lagi, Allah selalu tepat waktu atas tiap-tiap keputusanNya.
Akhir kata, saya hanya mau mengucapkan alhamdulillaah, dan menjalani hidup dengan lebih sungguh-sungguh lagi, serta melampirkan salah satu surat cinta-Nya....
“Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.” (QS. Ibrahim : 7)
Surabaya, 28 Agustus 2017
(c) Valina Khiarin Nisa















