KEN DEDES SETELAH KEN AROK WAFAT
Masih ingat yaa, Ken Dedes ketika ditinggal mati oleh Tunggul Ametung sdh mengandung anak tunggul ametung didalam Rahim nya. Ketika anak itu lahir, anak tiri Ken Arok itu dinamakan ANUSAPATI.
Setelah Ken Dedes dinikah oleh Ken Arok, dia melahirkan empat anak laki dan satu anak perempuan.
Anak tertua laki : MAHISA WONGA TELENG.
Anak kedua laki : Saprang.
Anak ketiga laki : Guning Bhaya.
Ken Arok mempunyai istri kedua bernama KEN UMANG, dari istri kedua mendapatkan 3 anak laki dan 1 anak perempuan. Anak laki tertua dari Ken Umang bernama TOHJAYA. Ada yang mengatakan bahwa Tohjaya adalah anak yg dilahirkan setelah Anusapati dan Mahisa Wonga Teleng (Tohjaya = anak ke tiga Ken Arok).
Disaat Ken Arok masih hidup, yang dicalonkan sebagai pengganti raja Singosari adalah Mahisa Wonga Teleng.
Tetapi kenapa Anusapati yang naik tahta menggantikan Ken Arok di Singosari bukan nya Mahisa Wonga Teleng?
Seperti kita maklumi bersama bahwa hanya Ken Dedes yang mengetahui bahwa Ken Arok dibunuh oleh seorang dari Pengalasan atas suruhan Anusapati, tak ada yang membongkar rahasia itu karena si Pengalasan lgs dibunuh oleh Anusapati ketika datang melapor hasil kerja nya kepada Anusapati.
Sebelum mulai mari kita lihat catatan sejarah yang dibuat oleh Prapanca
Disitu di ceritakan Anusapati, putera Ken Arok, menjadi raja Singosari. Selama pemerintahan nya, tanah Jawa kokoh sentosa, bersembah bakti.
Tahun Saka Perhiasan Gunung Sambu, 1170 saka, Anusapati pulang ke Siwaloka. Cahaya beliau diwujudkan arca Siwa gemilang di candi makam Kidal,” tulis Prapanca pada bait 41 Negarakertagama.
Negarakertagama menyebut Anusapati sebagai putra Ranggah Rajasa (Ken Arok). Kiranya yang dimaksud dengan Ranggah adalah putra kualon (anak tiri).
Pararaton menyebut Anusapati sebagai putra kandung Tunggul Ametung dari permaisuri Ken Dedes.
Prapanca si penulis Negarakertagama tidak secara tegas menyebutkan anak tiri dalam kakawin Negarakertagama.
Tapi hal itu dapat dimaklumi karena Prapanca sedang membicarakan riwayat Tumapel ketika menjadi kerajaan, bukan Tumapel ketika masih menjadi kadipaten amancanagara pimpinan Tunggul Ametung.
Dan ungkapan Anusapati sebagai putra Ranggah Rajasa sebetulnya juga banyak mengandung kebenaran, jika itu bertujuan untuk menyatakan Anusapati sebagai putra menantu, karena pada sekitar 1221M Anusapati menikahi Dewi Rimbun (dlm naskah lain disebut dg nama Dewi Rimba), putri bungsu Ken Arok dari Ken Umang.
Pernikahan itu menurunkan Seminingrat dan Dewi Seruni (kelak Dewi Seruni menjadi permaisuri Sastrajaya, menurunkan Jayakatwang).
Untuk mengecek kebenaran Anusapati sebagai putra menantu Ranggah Rajasa, kita tengok Prasasti Mula Malurung.
Dalam prasasti ini Seminingrat mengaku sebagai cucu Batara Siwa, pendiri kerajaan Tumapel yang wafat di Dampar kencana.
Batara Siwa adalah gelar anumerta bagi Ken Arok. Ungkapan wafat di dampar kencana dapat diartikan wafat secara tidak wajar, terbunuh tanpa diketahui siapa dalang dan pelakunya.
Penegasan Seminingrat itu juga bermakna bahwa ibu Seminingrat atau permaisuri Sri Maharaja Anusapati adalah putri kandung Ken Arok (apk anak ken Arok dari Ken Umang?)
Jika Sri Maharaja Anusapati bukan menantu Ken Arok, sangat tidak pantas Seminingrat mengaku dengan tegas sebagai cucu Ken Arok (Ranggah Rajasa). Kalau bukan cucu ken arok, Seminingrat harus nya (pantasnya) mengaku sebagai cucu Tunggul Ametung, penguasa pertama Tumapel.
Sampai di sini tidak perlu dipersengketaan lagi berita Negarakertagama yang menyebut Anusapati adalah putra Ken Arok.
Anusapati adalah anak tiri sekaligus mantu Ken Arok. Kakek Seminingrat adalah Tunggul Ametung dan juga Ken Arok.
Karena Seminingrat adalah cucu T Ametung dan juga cucu K Arok, maka tokoh-tokoh yang lahir dari garis Seminingrat dan juga dari garis adiknya (yg bernama dewi Seruni), seperti : Kertanagara, Jayakatwang, ke bawah, boleh juga mengaku sebagai keturunan Tunggul Ametung dan Ken Arok. Ini sangat menarik dan itu semua tak lepas dari pengaturan sang Ibu Suri (Ken Dedes).
Ken Dedes menjaga keutuhan Singosari.
Tadi sudah kita lakukan penyegaran bahwa Ken Arok telah menetapkan Mahisa Wonga Teleng sebagai Putra Mahkota kerajaan Kediri. Tapi mengapa Anusapati yang naik tahta menggantikan Ranggah Rajasa di Tumapel Kutaraja, bukannya Mahisa Wonga Teleng?
Bukankah Mahisa Wonga Teleng adalah putra kandung Ken Arok dari permaisuri pula?
jawabnya : Ini adalah disebabkan karena adanya campur tangan Ken Dedes.
Setelah Ken Arok wafat, yang lebih pantas mendaki tahta Tumapel memang Mahisa Wonga Teleng. Dia adalah putra mahkota (istilah saat itu adl Mahamentri I Hino) yang posisinya tepat di bawah raja.
Jika aturan itu yang diterapkan (Mahisa Wonga Teleng jadi Raja), maka susunan Mahamentri Katrini secara otomatis naik secara urut2an :
(1) Saprang naik sbg Mahamentri I Hino,
(2) Guning Bhaya naik sbh Mahamentri I Sirikan,
(3) Anusapati sebagai menantu Ken Arok harus puas sebagai Mahamentri I Halu.
Posisi Anusapati itu di bawah ketiga adik seibunya. Di atas kertas, Anusapati, meski sebagai yang tertua di antara semua anak Ken dedes dan Ken Arok, tetap jauh kemungkinan mendaki tahta. Paling mentok hanya sebagai raja di keraton bawahan Tumapel.
Akan tetapi setelah Ken Arok wafat, terjadi perombakan besar dalam tatanegara Tumapel.
Ibu suri Ken Dedes tampil mengendalikan negara, mengendalikan wangsa Rajasa. Setelah suaminya wafat, Ken Dedes menjadi sosok paling berpengaruh dalam keluarga keraton Tumapel (Singosari).
Ken Dedes berupaya mencari penyelesaian terbaik berkaitan dengan nasib para putranya, terutama sang putra sulung Anusapati.
Bagaimanapun Anusapati adalah putra kandung Tunggul Ametung, penguasa pertama Tumapel, suami pertama Ken Dedes. Karena itu nasib Anusapati harus diperhatikan, harus diberi kesempatan menggelola negara, kecuali jika ingin menyaksikan perselisihan keluarga di kemudian hari.
Maka setelah meminta pertimbangan Sang Pranaraja, Ken Dedes, yang sempat beberapa waktu mengendalikan Tumapel, akhirnya mengeluarkan kebijakan, membelah Negara Kesatuan Tumapel menjadi dua, yaitu
(1)PANJALU beribukota di Daha dipimpin Mahisa Wonga Teleng, dan
(2)JENGGALA beribukota di Kutaraja (tumapel) dipimpin Anusapati.
Panjalu dan Jenggala sama-sama menjadi negara merdeka mandiri. Di sini Ken Dedes terasa lebih memerhatikan Anusapati, menempatkannya di Kutaraja, kota yang dibangun Tunggul Ametung. Sementara Mahisa Wonga Teleng menempati bekas kerajaan Kediri yang pernah dipimpin Kertajaya (Dhandang Ghendis) keturunan Erlangga yang menganut Wisnu.
Segala kebijakan ibu suri Ken Dedes benar-benar dipatuhi kedua putranya dan seluruh anggota wangsa Rajasa. Anusapati maupun Mahisa Wonga Teleng hidup rukun berdampingan memimpin kerajaannya masing masing, tanpa keinginan menaklukkan satu sama lain.
Pada masa itu, baik Panjalu maupun Jenggala memiliki beberapa daerah bawahan. Kerajaan panjalu yang terletak di barat gunung Kawi membawahi Hasin, Wengker, Gelang-gelang, Ngurawan, dan Kadiri. Sementara Jenggala yang terletak di timur gunung Kawi membawahi Morono, Hering —Bangil Pamotan— Lewa, Lamajang, Madura, serta Bali. Panji Saprang menempati Wengker, Guning Bhaya menempati Hasin. Seluruh putra Ken Arok dari selir Ken Umang juga menempati beberapa kerajaan bawahan tersebut. Sementara putra Kertajaya bernama Sri Jayasabha, ayah Sastrajaya, masih berkuasa di Kediri sebagai bawahan Panjalu Daha.
Daha di timur sungai Brantas sementara Kediri di barat sungai Brantas atau di lembah timur gunung Wilis. Kerajaan Gelang-Gelang di lembah barat gunung Wilis.
Kelompok Mahamentri Katrini juga diubah kedudukannya, bukan lagi sebutan urut2an para calon putra mahkota, melainkan berganti sebagai gelar kebangsawanan semata bagi para kerabat raja, terutama para putra selir raja.
Kelak tiga Mahamentri Katrini ditempati para putra selir Mahisa Wonga Teleng dan Anusapati. Adapun putra raja dari permaisuri langsung dinobatkan sebagai putra mahkota dan ditempatkan sebagai yuwaraja di keraton bawahan.
Sekali lagi kedudukan tiga mahamentri Katrini yaitu mahamentri I Hino, I Sirikan, dan I halu sudah berbeda dengan ketika masa Ken Arok dan masa sebelumnya.
Inilah salah satu pencapaian besar atau perombakan ketatanegaraan yang dilakukan ibu suri Ken Dedes dalam upaya mencegah perselisihan anggota wangsa Rajasa.
Sri Maharaja Anusapati dengan permaisuri Dewi Rimbun (ada yg menyebut nama nya adl Dewi Rimba) menurunkan Seminingrat, lahir sekitar 1222M, dan Dewi Seruni, lahir sekitar 1224M. (Keduanya lahir ketika Ken Arok masih hidup).
Sementara Mahisa Wonga Teleng yang pada sekitar 1225M menikahi Dewi Rimbun (ada yg menyebut nya dgn nama Dewi Rambi), putri bungsu Ken Arok dari Ken Umang, pada sekitar 1226M menurunkan Waning Hyun, Mahisa Anengah, dan pada sekitar 1235M menurunkan Mahisa Cempaka.
Untuk lebih menguatkan hubungan kekeluargaan, pada sekitar 1240M, Ken Dedes meminta kedua putranya (anusapati dan Mahisa Wonga Teleng) berbesanan.
Maka setelah menyetujui kehendak sang ibu, Sri Maharaja Anusapati dan Sri Maharaja Mahisa Wonga Teleng menikahkan Waning Hyun dengan Seminingrat.
Sebelumnya pada 1238M, Sri Maharaja Anusapati menikahkan putri bungsunya, Seruni, dengan putra mahkota Kadiri atau putra Jayasabha, Sastrajaya. Setahun kemudian lahir Jayakatwang.
Pada 1241M, putra pertama pasangan Waning Hyun dan Seminingrat lahir bernama Nararya Murdhaya —yang kelak bergelar Kertanegara. Setahun kemudian adik Nararya Murdhaya lahir, perempuan bernama Turukbali.
Ketika bertahta di Panjalu Daha, Mahisa Wonga Teleng dikenal sebagai sosok yang sangat dekat dengan masyarakat maupun para pemuka agama baik agama Siwa Boddha maupun Wisnu. Mahisa Wonga Teleng juga dekat dengan para penganut agama Islam.
Sejak jaman Erlangga agama Islam sudah berkembang di daerah Panjalu. Dan ketika Mahisa Wonga Teleng berkuasa di Panjalu Daha, sudah barang tentu agama Islam semakin berkembang. Lantaran kedekatannya dengan para penganut berbagai agama, sebagaimana termuat dalam Prasasti Mula Malurung, Mahisa Wonga Teleng dikenal sebagai adiguru para kesatria yang sangat dihormati di tanah Jawa.
Berita Mahisa Wonga Teleng semasa menjadi maharaja di Panjalu Daha tidak ditemukan dalam Serat Pararaton maupun Negarakertagama, melainkan hanya pada Prasasti Mula Malurung.
Kemungkinan Prapanca ngerti dan pernah membaca isi prasasti ini, akan tetapi dalam kakawinnya tidak menulis Mahisa Wonga Teleng sebagai raja Daha. Bahkan raja2 Daha setelahnya juga tidak ditulis, seperti Guning Bhaya dan Tohjaya. Prapanca hanya berkisah raja raja yang berkuasa di Timur gunung Kawi atau di Kutaraja Tumapel.
Itu dilakukan karena Prapanca sedang berupaya menanamkan pemahaman, bahwa pendahulu Majapahit adalah Tumapel atau Singasari, bukan Panjalu Daha. Bahwa Majapahit adalah penerus Sang Putra Girinata, penerus kerajaan siwa, bukan Daha yang dikenal sebagai kerajaan Wisnu.
Penenggelaman sejarah Panjalu Daha yang dilakukan Prapanca ini juga dilakukan penulis Pararaton karena Ken Arok, leluhur Majapahit, pernah memusnahkan Sri Kertajaya di Daha.
Jadi yang dikedepankan adalah sejarah Kutaraja, bukan Daha.
Ketika membicarakan sejarah Tumapel atau Singasari, Prasasti Mula Malurung layak dimajukan sebagai sumber sejarah utama. Berita Negarakertagama dan Pararaton sebagai pendukung atau pembanding saja.
Mahisa Wonga Teleng wafat, bergelar anumerta Batara Parameswara, didarmakan di Kalangbrat, Tulungagung, sebagai Wisnu. Kemudian Panjalu Daha diberikan kepada Guning Bhaya, adik ketiga.
Kenapa Guning Bhaya? Sesungguhnya yang berhak naik tahta menggantikan Mahisa Wonga Teleng adalah Mapanji Anengah, adik Waning Hyun.
Setelah Waning Hyun menjadi permaisuri Seminingrat dan berdiam di Kutaraja, Mahisa Wonga Teleng menobatkan Mapanji Anengah sebagai putra mahkota Daha dan ditempatkan di keraton Wengker menggantikan kedudukan pamannya Panji Saprang yang wafat.
Akan tetapi pada 1248M Mapanji Anengah juga telah wafat, meninggalkan seorang putri bernama Nararya Kirana yang kemudian diangkat anak oleh Seminingrat. Maka dengan sendirinya yang kemudian berhak naik tahta adalah Mahisa Cempaka.
Hanya saja putra bungsu Mahisa Wonga Teleng itu masih sangat muda, berusia sekitar 10 tahun. Pihak keluarga keraton Daha mendesak supaya Mahisa Cempaka sementara waktu ditempatkan di keraton Wengker sebagai yuwaraja sampai menjelang dewasa dan yang bertahta di Daha sementara digantikan pamannya.
Jika melihat usia, kiranya Panji Saprang yang berkesempatan bertahta di Daha. Akan tetapi pula Panji Saprang telah wafat. Maka sebagai gantinya, yang bertahta di Daha mewakili Mahisa Cempaka adalah Guning Bhaya. Dan itulah keputusan yang akhirnya diambil.
Pada awal 1248M, secara resmi Guning Bhaya bertahta di Panjalu Daha menggantikan Mahisa Wonga Teleng, dan Mahisa Cempaka menjadi yuwaraja di Wengker, keraton yang sebelumnya ditempati Mapanji Anengah.
Naiknya Guning Bhaya di keraton Daha mengecutkan Tohjaya. Ketika itu, dari seluruh keturunan Ken Arok, yang tertua adalah Sri Maharaja Anusapati, disusul Tohjaya.
Karena Anusapati sudah bertahta di Kutaraja, Tohjaya merasa berhak pula bertahta di Daha. Itu baru dikatakan adil.
Dua putra tertua Ranggah Rajasa sama-sama menjadi raja di dua kerajaan kembar, Panjalu dan Jenggala. Tohjaya merasa lebih berhak mewakili keponakannya, Mahisa Cempaka di Daha. Akan tetapi keputusan ibu Suri Ken Dedes tidak dapat diganggu gugat.
Maka Tohjaya yang pada awalnya semata berkeinginan menjadi wali atau wakil Mahisa Cempaka, mengganti tujuannya menjadi penguasa Panjalu Daha seutuhnya, bahkan diam-diam berkeinginan menguasai seluruh kerajaan warisan ayahnya, Ken Arok.
Bagaimanapun, Tohjaya berdarah Ken Arok, meski dari seorang selir. Keputusan ibu suri Ken Dedes harus dilawan! Begitu tekad Tohjaya setelah mendapat dukungan dua adiknya, Panji Sudatu dan Twan Wregola.
Sementara itu, muncul kabar duka, wafatnya Sri Maharaja Anusapati.
Ini terjadi sekitar tiga bulan setelah Guning Bhaya bertahta di Daha. Seminingrat tampil menjadi raja Jenggala di Kutaraja.
Pada 23 September 1248M, Seminingrat mengeluarkan prasasti Maribong, berisi penetapan Desa Maribong sebagai sima perdikan. Dalam prasasti itu Mapanji Seminingrat mengambil gelar abhiseka Sri Maharaja Jayawisnuwardhana Sri Sakalakalana Kulamadhumardhana Kamaleksana.
Sementara tekad Tohjaya semakin besar. Dua kakaknya telah wafat. Anusapati dan Mahisa Wonga Teleng, dua putra tertua Ken dedes telah tiada. Dua kakaknya yang sebelumnya sangat disegani dan selalu bikin gentar, sudah wafat. Itu artinya tiada lagi halangan menjadi penguasa tunggal di tanah Jawa.
Satu-satunya halangan tinggal sosok ibu suri Ken Dedes. Tapi Tohjaya tidak peduli. Bersama dua adik kandungnya, Tohjaya bulat tekad melawan pengaruh Ken Dedes. Sudah tiba saatnya bagi putra selir berkuasa menjayakan wangsa Rajasa.
Maka suasana Daha pada penghujung 1248M mencekam. Terdapat pergerakan kekuatan yang dilajukan para putra selir Ken Arok dari Ken Umang. Dibantu dua adik kandungnya, Mapanji Tohjaya mengadakan pemberontakan atas pemerintahan Sri Guning Bhaya. Belum genap setahun bertahta di Daha, Guning Bhaya gugur. Tohjaya mendaki tahta di Panjalu Daha.
Semua tersentak. Seluruh keluarga Ken Dedes tersentak. Seminingrat yang sudah menjadi raja di Kutaraja tidak kalah tersentaknya melihat sikap sang paman, Tohjaya. Apalagi terdengar kabar bahwa Tohjaya dan adik-adiknya memburu Mahisa Cempaka di Wengker.
Selain sebagai adik sepupu, Mahisa Cempaka adalah adik ipar Seminingrat. Mahisa cempaka adalah putra bungsu Mahisa Wonga Teleng, paman Seminingrat juga.
Ketika masih hidup, Mahisa Wonga Teleng tidak ubahnya sebagai ayah kedua bagi Seminingrat, bahkan boleh dibilang sebagai guru yang mengajari banyak hal.
Keluarga Mahisa Wonga Teleng dengan keluarga Anusapati memiliki hubungan sangat akrab, teguh bersatu terlebih setelah pernikahannya antara Waning Hyun dengan Seminingrat. Keakraban hubungan itu menurun pula kepada Seminingrat dan Mahisa Cempaka.
Sebagaimana diketahui, Mahisa Wonga Teleng memiliki tiga anak, yang sulung adalah Waning Hyun, permaisuri Mapanji Seminingrat, kemudian Mapanji Anengah dan Mahisa Cempaka.
Waning Hyun telah menetap di Kutaraja karena menjadi permaisuri Seminingrat. Telah memiliki dua anak yaitu Nararya Murdhaya dan Turukbali.
Kelak setelah 1255M, pasangan Waning Hyun dan Mapanji Seminingrat melahirkan anak ketiganya bernama Nararya Cakreswara. Setelah dewasa Cakreswara menikah dan menurunkan Cakradara atau Baginda Kertawardhana yang pada masa Majapahit menjadi suami Dyah Gitarja.
Mapanji Anengah sempat menjadi raja di Wengker dan telah wafat meninggalkan seorang putri bernama Nararya Kirana —pada 1255M Nararya Kirana yang telah diangkat anak oleh Seminingrat dinobatkan sebagai raja di Lamajang.
Lahir batin maharaja Jenggala Kutaraja itu tidak iklas dengan terguncangnya Daha. Lebih tidak iklas lagi ketika mengetahui keselamatan Mahisa Cempaka terancam. Dengan diam-diam, Mapanji Seminingrat mengirim pesan ke Wengker, meminta Mahisa Cempaka menyingkir ke timur ke Kutaraja.
Seminingrat sangat beruntung karena di Daha terdapat dua tokoh penting keraton yang membantunya. Dialah Sang Pranaraja dan Sang Pamegat Patipati. Keduanya sebenarnya mengabdi pada Tohjaya di Daha. Akan tetapi akhirnya berbalik haluan melindungi keturunan Ken Dedes. Berkat pertolongan kedua tokoh Daha itulah Mahisa Cempaka selamat dari kejaran Tohjaya.
Tohjaya akhirnya mengetahui bahwa pihak Kutaraja berupaya melindungi Mahisa Cempaka. Itu artinya dua keponakannya, Mapanji Seminingrat dan Mahisa Cempaka, adalah musuh, kelilip yang harus segera disingkirkan. Tohjaya memerintahkan penyerbuan atas Kutaraja dan Wengker. memerintahkan kepada terutama Sang Pranaraja dan Sang pamegat Panji Patipati untuk menumpas keturunan Mahisa Wonga Teleng dan Anusapati. Sayangnya, dua pembesar keraton Daha itu tidak sependapat dengan kebijakan Tohjaya. Sang Pranaraja dan Mapanji Patipati adalah dua tokoh utama Daha yang justru memukul rajanya sendiri.
Sampai kemudian pada 1250M kekuatan besar dari Kutaraja yang disokong penuh kekuatan Sang Pranaraja dan Panji Patipati berhasil menumbangkan pemerintahan Tohjaya di Panjalu Daha. Tahta kembali ke tangan keturunan Mahisa Wonga Teleng. Mahisa Cempaka naik tahta di Daha bergelar abhiseka Sang Narasingamurti. Sang Pranaraja diangkat sebagai patih Daha. Mapanji Patipati diangkat sebagai pemimpin agama Siwa di Panjalu Daha.
Dengan demikian pada 1250M, dua cucu Ken Dedes mengemuka. Mahisa Cempaka bertahta di Panjalu, Mapanji Seminingrat di Jenggala.