#RamadhanInspirasi “Mengharap Semua Suka”
Pernah mendengar kisah klasik tentang seorang lelaki beserta anak lelaki dan keledai barunya? Ya, kisah mahsyur dari jazirah Arab ini melegenda untuk menjelaskan kepada kita perihal memandang sinisme dari orang lain.
Syahdan, seorang lelaki tua beserta anak lelakinya membeli keledai baru di pasar. Dalam perjalanan pulang, mereka melewati beberapa kampung.
Usai membeli keledai baru itu, lelaki tua ini meminta anaknya untuk menaiki keledai baru tersebut. Saat melewati kampung pertama, mereka mendengar orang-orang mencibir,
“Sungguh anak yang kurang ajar, Ayahnya dibiarkan menuntun keledai sedangkan ia dengan nyamannya duduk di atas keledai tersebut.”
Si anak pun jengah. Ia meminta Ayahnya untuk menurunkannya. Dan memohon agar gantian, ia yang menuntun dan Ayahnya yang duduk.
Di kampung kedua, mereka mendengar orang-orang berkata,
“Wah Ayah yang tak tahu belas kasihan. Anak lelakinya ia biarkan menuntun, sedang ia dengan nyaman duduk di atas keledai.”
Merasa tidak nyaman, si Ayah pun turun. Walhasil mereka berjalan di kampung ketiga dengan menuntun keledai yang tidak dinaiki tersebut. Di kampung ini, orang-orang berkata,
“Dasar bodoh. Sudah membeli keledai baru kok tidak dinaiki.”
Kuping mereka pun panas mendengar cibiran orang-orang. Si lelaki tua meminta anaknya naik ke atas keledai, dan ia pun segera menaiki juga. Walhasil dua orang tersebut naik ke atas keledai. Melewati kampung keempat, mereka mendengar orang-orang berkata,
“Sungguh tak tahu diri. Keledai kecil seperti ini dinaiki berdua. Tidak berperikehewanan!”
Merasa frustasi dengan omongan orang-orang, lelaki tua itu turun dan meminta anaknya turun. Mereka berdua kemudian membopong keledainya dan melewati kampung kelima. Orang-orang berteriak,
“Dasar orang gila, keledai bukannya dinaiki malah dibopong!”
Lelaki tua itupun menurunkan keledai tersebut dan berkata pada anak lelakinya. Kalimat ini adalah mutiara berbahasa Arab yang sangat terkenal,
“Inna ridhonnass ghoyatun laa tudrok.”
Bahwa sesungguhnya berusaha membuat semua orang ridho atau suka sama kita itu adalah sebuah ghoyatun laa tudrok. Harapan, cita-cita yang mustahil kita capai.
Tidak mungkin kalau kita mengharap semua orang suka sama kita. Pasti akan ada yang mencibir, membenci, dan mencaci. Ada orang-orang yang suka dan ada juga yang tidak. Sunnatullah yang tak perlu dirisaukan.
“Selama kau dipuji dan dicinta Yang Di Langit, jangan takut dibenci yang di bumi.”
Selama kita dibenci karena kita kita melakukan kebaikan dan membela kebenaran, tenang saja. Khawatirlah kalau kita dibenci karena sifat buruk dan perilaku jelek kita. Tapi kalau kita baik-baik saja, dan ada yang tidak suka, woles saja.
Manusia paling mulia pun dicaci, diejek, bahkan dianggap gila. Rasulullah, manusia paling mulia itu, dicaci, dilempari batu, diusir, dan diteriaki gila.
Kita siapa, minta semua orang suka?
Selama berpuasa, Sahabat. Jangan tumbang dengan cacian, dan jangan terbang karena pujian! Haters gonna hate.