Yang Berjatuhan di Jalan Dakwah
Fenomena insilakh (melepaskan diri dari dakwah) dan tasaqut (berguguran di jalan dakwah) sudah menjadi fenomena umum di masyarakat. Di antara mereka, sebagian telah mencapai derajat tertinggi dalam medan perjuangan, namun setelah itu menghilang dari kehidupan dakwah. Sebagian di antara mereka ada yang meninggalkan dakwah tetapi tidak meninggalkan Islam dan sebagian lainnya bahkan ada meninggalkannya sekaligus. Nauzubillah min dzalik
Dalam shirah nabawiy di ceritakan kisah sahabat yang berjatuhan dalam dakwah namun kemudian bertaubat dan di terima taubatnya oleh Allah. Fenomena yang berjatuhan di masa kenabian memang tidak begitu terlihat seperti di zaman sekarang ini karena ketika sahabat mengetahui bahwa mereka keliru, mereka langsung bertaubat dan berubah. Hal tersebut juga dikarenakan tabiat amal pada masa itu, membawa sebagian besar manusia pada satu dari dua pilihan yaitu hidup secara Islami atau Jahiliyah. Hal ini menyebabkan kaum muslimin selalu rapat dalam barisan Islam. Fenomena sekarang ini, banyaknya kaum muslimin yang keluar dari jamaah atau tidak menganggap bahwa dirinya bagian dari jamaah atau tidak merasa bahwa keluar dari barisan merupakan perbuatan yang tidak boleh dilakukan. Adapun golongan ketiga yaitu golongan orang munafiq, yang membelot dan selalu mencari-cari alasan dengan bersumpah. Dan, Rasulullah shallallahu alaihi wassalam tidak menghukum mereka, meskipun Allah dan Rasul-Nya tidak mengampuni mereka.
Wajah-wajah yang kalah sebelum bertempur, tidak dapat menyembunyikan diri. Kaki mereka lebih berat dari kaki gajah, tubuh mereka seakan-akan kaku tidak berdaya, pengumuman genderang bagi mereka seperti menyuarakan kematian yang pasti.
Perang lagi…, perang lagi. Kenapa juga mereka mengajak kami. Apakah mereka tidak mengetahui bahwa ini musim panen. Jika bukan kami siapa lagi yang memetik. Tidak mungkin anak dan istri kami yang memetik. Kalau tidak dipetik, hasil kebun akan segera membusuk. Ini suatu kebodohan dan kegilaan yang nyata. Perang kali ini sangat berat, di musim panas, perjalanan jauh dan musuh yang dihadapi sangat banyak.
Yang tertinggal di Perang Tabuk
Sebuah kisah dari masa kenabian yang dapat kita petik hikmahnya. Cerita dikhususkan pada seorang sahabat nabi dari golongan kaum muslimin yaitu kisah Ka'ab bin Malik.
Perang Tabuk di gambarkan adalah perang yang di musim yang amat panas, saat itu sedang musim panen, perjalanan yang akan ditempuh dalam perang ini sangat jauh, dan musuh yang akan dihadapi banyak jumlahnya. Oleh karena itu, Rasulullah shallallahu alaihi wassalam menjelaskan rencananya secara terus terang dan memberitahukan target sasaran yang hendak dituju kepada umatnya, agar mereka dapat mempersiapkan diri seoptimal mungkin dalam perang ini. Biasanya Rasulullah (ﷺ) merahasiakan informasi peperangan yang ingin dilakukan. Namun tidak dalam perang ini. Jumlah kaum muslimin yang ikut dalam perang ini amat banyak karenanya orang-orang yang membelot beranggapan bahwa ketidak-ikutsertaannya ini tidak akan terdeteksi kecuali bila Allah menurunkan wahyu kepada Rasul-Nya.
Rasulullah (ﷺ) berkemas-kemas dan kaum muslimin mengikutinya. Beberapa dari kaum muslimin dan munafiq ada yang meminta izin kepada Rasulullah (ﷺ) untuk menyusul rombongan peperangan dikarenakan mereka masih memiliki urusan lain, dan Rasulullah (ﷺ) mengizinkannya. Rombongan peperangan pun bergegas mempersiapkan keberangkatan dari Madinah esok hari.
Ka'ab pun berniat untuk berkemas dan bergegas pulang. Tetapi sesampai di rumah, Ka'ab tak melakukan apa-apa. Dan berbisik dalam hati, “Aku mampu melakukan semua ini dengan mudah bila aku mau.” Hal itu terus menggodanya sampai keesokan harinya, Rasulullah (ﷺ) dan kaum muslimin berangkat sedangkan Ka'ab belum menyiapkan apa-apa. Dan tetap berkata dalam hatinya bahwa “Persiapan dapat dilakukan setelah sehari atau dua hari dari keberangkatan Rasulullah (ﷺ) dan aku mampu menyusul mereka.”
Setelah sehari, dua hari kemudian seperti hari-hari sebelumnya Ka'ab tidak bergegas untuk menyiapkan perbekalan. Demikian juga hari-hari berikutnya hingga sampai akhirnya Ka'ab tidak akan mampu mengejar rombongan karena sudah sangat jauh kaum muslimin dan akhirnya perang ini terlewati oleh Ka'ab. (Ah, Seandainya kau tahu Ka'ab bahwa ini adalah peperangan terakhir yang Rasulullah (ﷺ) ikuti)
Setelah menyadari bahwa dirinya tidak mampu untuk mengejar rombongan perang kaum muslimin, Ka'ab berjalan-jalan mengitari pemukiman penduduk Madinah. Dan alangkah sedih hatinya karena tak seorang pun kaum muslimin yang dilihatnya kecuali orang-orang yang dikenal kemunafiqannya dan orang-orang yang tidak diwajibkan oleh Allah Ta'ala untuk tidak mengikuti peperangan.
Setelah peperangan usai, Rasulullah (ﷺ) dan kaum muslimin kembali ke Madinah. Mendengar Rasulullah (ﷺ) dan kaum muslimin akan tiba, sempat terfikir Ka'ab untuk berbohong namun rencana tersebut tidak jadi dilaksanakannya karena ia tahu bahwa Allah dan Rasulnya lebih mengetahui dan menyadari bahwa tidak dapat menyelamatkan diri dari kemurkaan beliau kecuali dengan kejujuran.
Rasulullah (ﷺ) dan rombongan tiba di Madinah pada waktu pagi. Bila kembali dari suatu perjalanan, beliau menuju masjid, menunaikan shalat dua rakaat, kemudian baru duduk menemui umat. Para pembelot yang jumlahnya delapan puluh lebih segera hadir menemui beliau. Setiap dari mereka bersumpah dan mengemukakan alasannya masing-masing. Rasulullah (ﷺ) menerima sumpah dan pernyataan mereka, memohonkan ampun untuk mereka, dan menyerahkan apa yang tersimpan dalam hati mereka kepada Allah Ta'ala.
Selanjutnya, kini tiba giliran dari golongan kaum muslimin, Ka'ab bin malik menghadap Rasulullah (ﷺ). Ka'ab memberi salam akan tetapi beliau tersenyum sinis dan berkata kepada Ka'ab bahwa “Apa yang membuat dirimu tertinggal? Bukankah kau memiliki kendaraan?” Ka'ab pun menceritakan secara jujur kepada Rasulullah (ﷺ) bahwa memang tidak ada suatu udzur apapun untuk dirinya saat Rasulullah (ﷺ) memerintahkan untuk berperang. Saat tertinggal, ia menceritakan bahwa dirinya dalam kondisi kuat dan lebih muda dari hari-hari sebelumnya. Dan Rasulullah (ﷺ) berkata “Tunggulah sampai Allah memberikan keputusan-Nya kepadamu”.
Setelah itu, turunlah firman Allah Ta'ala di Q.S At Taubah yang sampai sekarang tidak pernah berubah semenjak berakhirnya perang tabuk hingga hari ini yang kita hafal dan kita baca setiap hari. Ayat-ayat yang menggambarkan peristiwa-peristiwa di perang tabuk yang menjadikan iman kaum muslimin menjadi semakin kuat dan peringatan bagi kaum munafiq serta peringatan untuk pribadi masing-masing. Yang ditandai (*) bukan merupakan ayat yang diturunkan langsung setelah perang tabuk tetapi masih berkaitan dengan iman dan jihad. Jadi masih nyambung sama tema besarnya. Berikut beberapa ayat yang turun dalam peristiwa perang tabuk, ga semua ayat yang turun di perang tabuk dituliskan disini.
يٰۤـاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا مَا لَـكُمْ اِذَا قِيْلَ لَـكُمُ انْفِرُوْا فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ اثَّاقَلْـتُمْ اِلَى الْاَرْضِ ۗ اَرَضِيْتُمْ بِالْحَيٰوةِ الدُّنْيَا مِنَ الْاٰخِرَةِ ۚ فَمَا مَتَاعُ الْحَيٰوةِ الدُّنْيَا فِى الْاٰخِرَةِ اِلَّا قَلِيْلٌ
“Wahai orang-orang yang beriman! Mengapa apabila dikatakan kepada kamu, Berangkatlah (untuk berperang) di jalan Allah, kamu merasa berat dan ingin tinggal di tempatmu? Apakah kamu lebih menyenangi kehidupan di dunia daripada kehidupan di akhirat? Padahal kenikmatan hidup di dunia ini (dibandingkan dengan kehidupan) di akhirat hanyalah sedikit.” (QS. At-Taubah 9: Ayat 38)
اِلَّا تَـنْفِرُوْا يُعَذِّبْكُمْ عَذَابًا اَلِيْمًا ۙ وَّيَسْتَبْدِلْ قَوْمًا غَيْرَكُمْ وَلَا تَضُرُّوْهُ شَيْئًــا ۗ وَاللّٰهُ عَلٰى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ
“Jika kamu tidak berangkat (untuk berperang), niscaya Allah akan menghukum kamu dengan azab yang pedih dan menggantikan kamu dengan kaum yang lain, dan kamu tidak akan merugikan-Nya sedikit pun. Dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (QS. At-Taubah 9: Ayat 39)
اِلَّا تَـنْصُرُوْهُ فَقَدْ نَصَرَهُ اللّٰهُ اِذْ اَخْرَجَهُ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا ثَانِيَ اثْنَيْنِ اِذْ هُمَا فِى الْغَارِ اِذْ يَقُوْلُ لِصَاحِبِهٖ لَا تَحْزَنْ اِنَّ اللّٰهَ مَعَنَا ۚ فَاَنْزَلَ اللّٰهُ سَكِيْنَـتَهٗ عَلَيْهِ وَاَ يَّدَهٗ بِجُنُوْدٍ لَّمْ تَرَوْهَا وَجَعَلَ كَلِمَةَ الَّذِيْنَ كَفَرُوا السُّفْلٰى ۗ وَكَلِمَةُ اللّٰهِ هِيَ الْعُلْيَا ۗ وَاللّٰهُ عَزِيْزٌ حَكِيْمٌ
“Jika kamu tidak menolongnya (Muhammad), sesungguhnya Allah telah menolongnya (yaitu) ketika orang-orang kafir mengusirnya (dari Mekah); sedang dia salah seorang dari dua orang ketika keduanya berada dalam gua, ketika itu dia berkata kepada sahabatnya, Jangan engkau bersedih, sesungguhnya Allah bersama kita. Maka Allah menurunkan ketenangan kepadanya (Muhammad) dan membantu dengan bala tentara (malaikat-malaikat) yang tidak terlihat olehmu, dan Dia menjadikan seruan orang-orang kafir itu rendah. Dan firman Allah itulah yang tinggi. Allah Maha Perkasa, Maha Bijaksana.” (QS. At-Taubah 9: Ayat 40)*
اِنْفِرُوْا خِفَافًا وَّثِقَالًا وَّجَاهِدُوْا بِاَمْوَالِكُمْ وَاَنْفُسِكُمْ فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ ۗ ذٰ لِكُمْ خَيْرٌ لَّـكُمْ اِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُوْنَ
“Berangkatlah kamu baik dengan rasa ringan maupun dengan rasa berat, dan berjihadlah dengan harta dan jiwamu di jalan Allah. Yang demikian itu adalah lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.” (QS. At-Taubah 9: Ayat 41)*
لَوْ كَانَ عَرَضًا قَرِيْبًا وَّسَفَرًا قَاصِدًا لَّاتَّبَعُوْكَ وَلٰـكِنْۢ بَعُدَتْ عَلَيْهِمُ الشُّقَّةُ ۗ وَسَيَحْلِفُوْنَ بِاللّٰهِ لَوِ اسْتَطَعْنَا لَخَـرَجْنَا مَعَكُمْ ۚ يُهْلِكُوْنَ اَنْفُسَهُمْ ۚ وَاللّٰهُ يَعْلَمُ اِنَّهُمْ لَـكٰذِبُوْنَ
“Sekiranya (yang kamu serukan kepada mereka) ada keuntungan yang mudah diperoleh dan perjalanan yang tidak seberapa jauh, niscaya mereka mengikutimu, tetapi tempat yang dituju itu terasa sangat jauh bagi mereka. Mereka akan bersumpah dengan (nama) Allah, Jikalau kami sanggup niscaya kami berangkat bersamamu. Mereka membinasakan diri sendiri dan Allah mengetahui bahwa mereka benar-benar orang-orang yang berdusta.” (QS. At-Taubah 9: Ayat 42)
عَفَا اللّٰهُ عَنْكَ ۚ لِمَ اَذِنْتَ لَهُمْ حَتّٰى يَتَبَيَّنَ لَكَ الَّذِيْنَ صَدَقُوْا وَتَعْلَمَ الْـكٰذِبِيْنَ
“Allah memaafkanmu (Muhammad). Mengapa engkau memberi izin kepada mereka (untuk tidak pergi berperang), sebelum jelas bagimu orang-orang yang benar-benar (berhalangan) dan sebelum engkau mengetahui orang-orang yang berdusta?” (QS. At-Taubah 9: Ayat 43)*
لَا يَسْتَـأْذِنُكَ الَّذِيْنَ يُؤْمِنُوْنَ بِاللّٰهِ وَالْيَوْمِ الْاٰخِرِ اَنْ يُّجَاهِدُوْا بِاَمْوَالِهِمْ وَاَنْفُسِهِمْ ۗ وَاللّٰهُ عَلِيْمٌۢ بِالْمُتَّقِيْنَ
“Orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, tidak akan meminta izin (tidak ikut) kepadamu untuk berjihad dengan harta dan jiwa mereka. Allah mengetahui orang-orang yang bertakwa.” (QS. At-Taubah 9: Ayat 44)
اِنَّمَا يَسْتَأْذِنُكَ الَّذِيْنَ لَا يُؤْمِنُوْنَ بِاللّٰهِ وَالْيَوْمِ الْاٰخِرِ وَارْتَابَتْ قُلُوْبُهُمْ فَهُمْ فِيْ رَيْبِهِمْ يَتَرَدَّدُوْنَ
“Sesungguhnya yang akan meminta izin kepadamu (Muhammad), hanyalah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian, dan hati mereka ragu, karena itu mereka selalu bimbang dalam keraguan.” (QS. At-Taubah 9: Ayat 45)
وَلَوْ اَرَادُوْا الْخُـرُوْجَ لَاَعَدُّوْا لَهٗ عُدَّةً وَّلٰـكِنْ كَرِهَ اللّٰهُ انۢبِعَاثَهُمْ فَثَبَّطَهُمْ وَقِيْلَ اقْعُدُوْا مَعَ الْقٰعِدِيْنَ
“Dan jika mereka mau berangkat, niscaya mereka menyiapkan persiapan untuk keberangkatan itu, tetapi Allah tidak menyukai keberangkatan mereka, maka Dia melemahkan keinginan mereka, dan dikatakan (kepada mereka), Tinggallah kamu bersama orang-orang yang tinggal itu.” (QS. At-Taubah 9: Ayat 46)
لَوْ خَرَجُوْا فِيْكُمْ مَّا زَادُوْكُمْ اِلَّا خَبَالًا وَّلَاَوْضَعُوْا خِلٰلَـكُمْ يَـبْغُوْنَـكُمُ الْفِتْنَةَ ۚ وَفِيْكُمْ سَمّٰعُوْنَ لَهُمْ ۗ وَاللّٰهُ عَلِيْمٌۢ بِالظّٰلِمِيْنَ
“Jika (mereka berangkat bersamamu), niscaya mereka tidak akan menambah (kekuatan)mu, malah hanya akan membuat kekacauan, dan mereka tentu bergegas maju ke depan di celah-celah barisanmu untuk mengadakan kekacauan (di barisanmu); sedang di antara kamu ada orang-orang yang sangat suka mendengarkan (perkataan) mereka. Allah mengetahui orang-orang yang zalim” (QS. At-Taubah 9: Ayat 47)
فَرِحَ الْمُخَلَّفُوْنَ بِمَقْعَدِهِمْ خِلٰفَ رَسُوْلِ اللّٰهِ وَكَرِهُوْۤا اَنْ يُّجَاهِدُوْا بِاَمْوَالِهِمْ وَاَنْفُسِهِمْ فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ وَقَالُوْا لَا تَنْفِرُوْا فِى الْحَـرّ ۗ ِ قُلْ نَارُ جَهَـنَّمَ اَشَدُّ حَرًّا ۗ لَوْ كَانُوْا يَفْقَهُوْنَ
“Orang-orang yang ditinggalkan (tidak ikut berperang), merasa gembira dengan duduk-duduk diam sepeninggal Rasulullah. Mereka tidak suka berjihad dengan harta dan jiwa mereka di jalan Allah dan mereka berkata, Janganlah kamu berangkat (pergi berperang) dalam panas terik ini. Katakanlah (Muhammad), Api neraka Jahanam lebih panas, jika mereka mengetahui.” (QS. At-Taubah 9: Ayat 81)
Sumber from : Al Qur-anul Karim dan Terjemahnya, Fathi Yakan, MR, dan Tafsir Jalalayn.