Warna-Warni Wajah Depresi
Menurutmu, mungkinkah depresi tersembunyi pada wajah yang berseri-seri? Mungkinkah tangis pecah di balik senyum yang merekah? Mungkinkah luka bersarang di dada mereka yang kita kira bahagia?
Dulu, kupikir tidak mungkin. Kukira, depresi hanya ada pada mereka yang murung, mengunci diri di kamar, tidak mau makan (atau terus menerus makan), enggan tersenyum, bergerak lamban, tidak bisa tidur (atau terus menerus tidur), atau memilih warna-warna gelap pada pakaian yang mereka kenakan. Namun ternyata, kini tak selamanya demikian.
Tak selamanya yang tersenyum itu benar tersenyum, yang tertawa itu benar tertawa, dan yang bahagia itu benar bahagia. Di balik semua ciri bahagia dan hidup yang sepertinya baik-baik saja itu, tanpa kita ketahui, mungkin ada hati yang sedang terluka, ada diri yang sedang berjuang menghalau pikiran-pikiran negatifnya, ada jiwa yang meronta memohon pertolongan dan keringanan ujian dari-Nya, juga mungkin … ada raga yang sekuat tenaga diajaknya untuk berdiri, menegakkan diri, lalu tetap berjalan menjalani hari-hari.
Bagaimana jika ternyata semua itu sedang terjadi pada orang-orang terdekat kita, yang kita syukuri keberadaannya juga kita sayangi apa adanya? Bagaimana jika diam-diam mereka tak berani menceritakannya kepada kita karena sebab apa saja yang mereka punya? Bagaimana jika ternyata … kita tidak cukup peka untuk menangkapnya sebab kita sudah sejak lama tidak menyapa perasaannya?
Teman, nyatanya depresi memiliki wajah yang warna-warni. Seringkali ia tersembunyi hingga sulit untuk kita kenali. Karenanya, jangan lupa untuk tetap menyapa dengan baik orang-orang yang kita sayangi: tanya kabarnya, sapa perasaannya, dengar ceritanya. Pun jika kamu yang mengalaminya, tidak perlu sungkan untuk membaginya meski hanya dengan satu orang yang kamu percaya.
Siapapun yang sedang melewati hari-hari yang berat, semoga Allah melapangkan.
Pic: @mocharetha


















