Tengah malam, bahan bakar sudah mau habis, tapi teringat lagi soal kemarin.
Jujur, setelah menyelesaikan beberapa draft Sobat Ambyar, saya merasa segelintir interaksi romansa di film ini mengandung dua kata sub-judul di atas. Saya memendam keluhan ini di ruang development untuk mengamati reaksi rekan-rekan terlebih dulu. Nyatanya, mereka justru sangat menikmati alunan romansanya ketika sesi reading. Akhirnya saya berpikir ulang, justifikasi saya menyebut sesuatu hal cringe & cheesy itu apa, sih? Sebatas apa kita menyebut sesuatu itu cringe & cheesy. Saya personal, menganggap bicara I love you ke orang tua saya sendiri sebagai hal yang cheesy--dan sampai sekarang belum pernah mengatakannya. Orang lain pun sangat bisa berpendapat lain.
Apa kita menyebut sesuatu yang cringe & cheesy itu karena represi atas ekspresi emosi kita sendiri serta orang lain?
Yang saya yakini, tiap orang punya kadar toleransi emosinya sendiri-sendiri.
Dari awal karir saya menapak sampai sekarang, semua judul yang saya tulis bergenre romantic comedy. Sebagai penulis pemula, saya mengakui kalau saya sangat beruntung bisa mendapat berbagai proyek yang bisa dibilang tidak terlalu rendah nilai produksinya. Padahal teknik komedi saya sangat payah (hahaha). Untungnya, Mas Bagus tidak pernah lelah mengajari dan sering take over aspek-aspek komedi di naskah yang kami tulis.
Namun, Sobat Ambyar akan menjadi film rom-com terakhir di portofolio saya.
Saya bersyukur sudah menulis Sobat Ambyar dan kakak-kakaknya. Semua film itu jadi batu loncatan saya untuk terjun di industri dan berkenalan dengan orang-orang baik dan hebat. Film-film itu juga menjadi arena belajar menyenangkan bagi saya (dan proses belajar itu masih belum selesai sampai sekarang). Namun, ada hati yang mengganjal tiap saya menulis film-film itu. Saya merasa kalau saya bukanlah orang yang tepat. Saya juga merasa kalau hati saya ada di lain tempat. Tiap menulis rom-com, selalu saja ada bisikan, ‘kenapa tawaran yang datang nggak film bergenre x aja, sih?’
Apa ini yang namanya kurang bersyukur?
Saya sadar mungkin ini agak kurang ajar, mengingat saya orang baru di industri (masih ingusan tapi enak aja pilih-pilih kerjaan?). Gimana lagi, ya? Lebih baik keputusan ini diambil sekarang daripada hati saya pelan-pelan rotten di dalam.
Eh, tapi, jangan salah. I love rom-com! Cuma saya bukan arsitek yang tepat, itu saja. Masih ada penulis-penulis lain di luar sana yang lebih bagus daripada saya menulis genre ini. Sementara saya memiliki ketertarikan lebih di genre lain.