Embrace your solitude and write the pain it causes you.

@theartofmadeline

Andulka
RMH
h
No title available
taylor price
No title available
"I'm Dorothy Gale from Kansas"
todays bird
tumblr dot com
No title available
we're not kids anymore.
Cosimo Galluzzi

Product Placement
One Nice Bug Per Day
NASA
untitled

tannertan36
Three Goblin Art

Kaledo Art
seen from Canada
seen from United States
seen from United States

seen from Türkiye
seen from United States

seen from Malaysia

seen from United States

seen from Philippines
seen from Türkiye

seen from United States

seen from Australia
seen from Malaysia

seen from Canada
seen from United States

seen from Brazil

seen from Romania

seen from Malaysia
seen from United States
seen from United States

seen from South Africa
@montaseakal
Embrace your solitude and write the pain it causes you.
The only thing that keep me sane is cowboy bebop
Whatever happens, happens Even if it's not gonna happens as you want
Berdamai dengan Ambisi (1)
Masih inget, kok. Dulu waktu masih SMA kelas 2, di kamar rumah Sawojajar, hati nekat bilang, "Aku harus jadi penulis skenario."
Awalnya dari SD emang rajin nyewa VCD di Jupiter. Tiap weekend pokoknya harus ada stock film. Dari animasi sampai genre horror berceritakan zombie. Tapi, kan, buaaaanyak orang suka nonton film. Dan nggak semua orang tiba-tiba berambisi mau terjun ke industri yang di Indonesia masih setengah mateng itu. Nah, Ini racauan bocah bau bawang muncul dari mana? Ya, itu. Gara-gara tulisan Aaron Sorkin di Social Network.
Asli, otak udah diracuni sama adegan Andrew Garfield banting laptop di depan meja Jesse Eisenberg terus teriak, "Sorry, my Prada's at the cleaners along · with my hoodie and my fuck-you flip-flops you pretentious douchebag!"
Habis nonton itu, hidup tiba-tiba punya tujuan. Kiblat duniawi tiba-tiba terpusat ke satu tempat.
Jakarta.
Untuk jadi penulis skenario profesional, saat itu aku mewajibkan diri harus pergi ke Jakarta. Waktu itu mikirnya Jakarta adalah Hollywood-nya Indonesia. Industri terpusat di sana. Kalau mulai karir harus di sana. Padahal, ya, nggak wkwkwkw. Maafkan kenaifanku ini, Terjal dan curam sekali jalannya dulu. Sebagai anak SMA yang tahun depan harus ujian SBMPTN, satu-satunya jalur ke Jakarta, ya, jalur kuliah. Ditambah lagi, waktu itu belum ada pikiran bilang ke ortu kalau udah pingin jadi penulis. Soalnya pandangan mereka soal masa depanku cukup pragmatis, wong Mama pingin aku kuliah di STAN untuk jadi PNS. Nggak salah, tapi aku merasa nggak cocok aja. Namun, aku juga nggak punya alasan ngejelasin kenapa ingin menasbihkan diri jadi penulis. Jadi ketimbang melahirkan debat panjang dengan memberitahu ortu alasan lain, ya, lebih baik aku pasang argumen lain. Psikologi UI jadi jawaban. Nggak masuk UI, nggak ada Jakarta. Nggak ada Jakarta, nggak ada namanya penulis-penulisan. Sebenarnya ada jalur pendidikan lain untuk masuk ke Industri film Indonesia, lewat IKJ. Tapi biayanya membuatku I love you istighfar three thousand. Yang jadi pertanyaan sekarang, kenapa psikologi? Kok nggak jurusan A, B, C yang penting tetep di UI. Karena waktu itu mikirnya piskologi masih nyerempet ke penulisan. Skenario mengharuskan kita tak hanya menciptakan dunia, tapi juga karakter--manusia.
Akhirnya, anak IPA yang rankingnya selalu bottom three ini mesti belajar IPS yang jadi bahan soal SBMPTN untuk masuk psikologi UI. Aku ikut les di GO Senin-Kamis sore dan rajin ambil jadwal tambahan. Mau Sabtu, Minggu, atau hari libur, aku harus kenyang Geografi sampai Ekonomi. Dimakan gelap mata ambisi. Pokoknya harus UI. Dan akhirnya gimana? Dengan segala persiapan yang berdarah-darah, nyatanya aku tetap ditolak UI dua kali. Di SBMPTN dan SIMAK. Nggak masuk UI, nggak ada Jakarta. Nggak ada Jakarta, nggak ada namanya penulis-penulisan.
Nggak ada pilihan lain, aku pun menerima psikologi UB sebagai pelabuhan selanjutnya. Dua kali patah hati, dua kali aku menghadap Tuhan sambil menangis menjadi-jadi. (tbc)
Berita Duka
Semua berterbar di mana-mana,
soal teman. Keluarga. Yang dicinta.
Kita tidak kehilangan. Merekalah yang telah kembali,
menuju Ilahi.
Silakan menunduk,
tapi, jangan terlalu lama.
Masih ada perjuangan di depan.
Berjuang keraslah,
untuk memperbaiki yang tertinggal.
sebelum turut menyusul kembali.
Menuju Ilahi. -Malang, 2021
Untuk Orang Biasa
Rylan, you should try to get some sun
sebut The National di salah satu tajuk lagu terindah mereka, Rylan. The National menyuruh Rylan menyelami cahaya, mencari jalan baru.
Di poin penting hidupnya, tiap orang biasa pernah merasa jengah dan tersiksa. Maka, ia terpaksa melepas sauh dan meninggalkan pelabuhannya. Andai bertahan, badai dan ombak tidak cuma memakan rumah, tapi juga sekujur tubuhnya.
Perjalanan menjauhi tempat tinggal seringnya terasa berat. Pikiran masa lalu orang biasa suka mencabik kantung mata. Ingat, waktu mimpi-mimpi lebih berharga dari emas. Ingat, ketika masa sekarang diharapkan jadi utopia di masa lalu.
Jangan paksa diri jadi penyabar. Jangan jauhi air mata. Realita pasti menghantam kita. Sekarang kuatlah dalam berpegangan. Tahan. Ombak pasti reda. Jalan baru itu akan jadi cahaya.
Dalam logika saya, tayangan animasi kurang diunggulkan karena memiliki jarak tertentu dengan penonton akibat sajian visualnya. Pikiran itu akhirnya benar-benar patah setelah menonton Attack on Titan. Kagetnya lagi, selama hidup dan membaca, mendengar, dan melihat berbagai cerita fiksi, Attack on Titan berhasil jadi yang teratas dalam menguras batin.
Sobat Ambyar (2)
Tengah malam, bahan bakar sudah mau habis, tapi teringat lagi soal kemarin.
CRINGE & CHEESY
Jujur, setelah menyelesaikan beberapa draft Sobat Ambyar, saya merasa segelintir interaksi romansa di film ini mengandung dua kata sub-judul di atas. Saya memendam keluhan ini di ruang development untuk mengamati reaksi rekan-rekan terlebih dulu. Nyatanya, mereka justru sangat menikmati alunan romansanya ketika sesi reading. Akhirnya saya berpikir ulang, justifikasi saya menyebut sesuatu hal cringe & cheesy itu apa, sih? Sebatas apa kita menyebut sesuatu itu cringe & cheesy. Saya personal, menganggap bicara I love you ke orang tua saya sendiri sebagai hal yang cheesy--dan sampai sekarang belum pernah mengatakannya. Orang lain pun sangat bisa berpendapat lain.
Apa kita menyebut sesuatu yang cringe & cheesy itu karena represi atas ekspresi emosi kita sendiri serta orang lain?
Yang saya yakini, tiap orang punya kadar toleransi emosinya sendiri-sendiri.
ROM-COM
Dari awal karir saya menapak sampai sekarang, semua judul yang saya tulis bergenre romantic comedy. Sebagai penulis pemula, saya mengakui kalau saya sangat beruntung bisa mendapat berbagai proyek yang bisa dibilang tidak terlalu rendah nilai produksinya. Padahal teknik komedi saya sangat payah (hahaha). Untungnya, Mas Bagus tidak pernah lelah mengajari dan sering take over aspek-aspek komedi di naskah yang kami tulis.
Namun, Sobat Ambyar akan menjadi film rom-com terakhir di portofolio saya.
Saya bersyukur sudah menulis Sobat Ambyar dan kakak-kakaknya. Semua film itu jadi batu loncatan saya untuk terjun di industri dan berkenalan dengan orang-orang baik dan hebat. Film-film itu juga menjadi arena belajar menyenangkan bagi saya (dan proses belajar itu masih belum selesai sampai sekarang). Namun, ada hati yang mengganjal tiap saya menulis film-film itu. Saya merasa kalau saya bukanlah orang yang tepat. Saya juga merasa kalau hati saya ada di lain tempat. Tiap menulis rom-com, selalu saja ada bisikan, ‘kenapa tawaran yang datang nggak film bergenre x aja, sih?’
Apa ini yang namanya kurang bersyukur?
(Istighfar dulu...)
Saya sadar mungkin ini agak kurang ajar, mengingat saya orang baru di industri (masih ingusan tapi enak aja pilih-pilih kerjaan?). Gimana lagi, ya? Lebih baik keputusan ini diambil sekarang daripada hati saya pelan-pelan rotten di dalam.
Eh, tapi, jangan salah. I love rom-com! Cuma saya bukan arsitek yang tepat, itu saja. Masih ada penulis-penulis lain di luar sana yang lebih bagus daripada saya menulis genre ini. Sementara saya memiliki ketertarikan lebih di genre lain.
Sobat Ambyar
MENDEWASAKAN DIRI
Tanggal 14 Januari lalu, film ini tayang di Netflix. Setahun lebih sudah sejak huruf pertama dioret di naskahnya, saya menunggu filmnya dapat kita nikmati bersama. Ketimbang yang sudah-sudah, proses menulisnya bisa dibilang lebih panjang. Riset dilakukan cukup mendalam hingga mesti melakukan FGD di Solo--tempat komunitas Sobat Ambyar lahir.
Lebih jauh lagi, secara pribadi film ini lebih mendewasakan saya dalam berkarya. Desain awal yang benar-benar terasa personal mesti dikompromikan agar bisa dinikmati bersama. Memang, industri film adalah ruang kerja kolektif. Begitu draft naskah sudah final, itu bukan milik penulis lagi, tapi milik bersama. Namun, di proses kerja ini kesadaran saya ditampar. Sobat Ambyar bukan film untuk saya seorang, tapi, ya, untuk Sobat Ambyar sendiri. Untuk para penggemar almarhum Didi Kempot yang menjadi dasar kenapa naskahnya dibuat. Naskah ini ditulis untuk jutaan penggemar almarhum yang kebanyakan (hasil dari FGD) adalah orang-orang yang justru jarang menonton bioskop. Jumlah mereka, jauh lebih banyak dari kita yang mungkin seminggu lebih dari sekali duduk di depan layar perak. Hormati Lord Didi, Layani ‘Sobat Ambyar’, dan angkat semua hal yang dekat dengan Lord Didi dan penggemarnya (lagu, munas lara ati, bahasa Jawa, etc), baru keinginan pribadi.
NETFLIX
Awalnya kita membayangkan bagaimana penonton nanti akan berjoget menyanyikan ‘Pamer Bojo’ bersama di bioskop. Sayang, pandemi melenyapkan semua rencana. Netflix pun menjadi jalan keluar ideal untuk saat ini. Sedih, sih, pasti. Namun, Netflix benar-benar membuat tim ‘Sobat Ambyar’ benar-benar merasa spesial. Promosi yang mereka lakukan luar biasa. Mereka juga merilisnya secara ‘worldwide’--sesuatu yang insya Allah akan membuat almarhum di atas sana tersenyum, di mana karya-karyanya dapat dilihat dan didengarkan satu bumi.
SARAS
Jenis patah hati tiap orang memang berbeda, tapi sakitnya universal. Saya punya berbagai jenis patah hati sendiri, Mas Bagus (rekan penulis di naskah ini), juga punya jenis patah hati sendiri. Namun, kita dan peserta FGD sama-sama sepakat, rasa sakit itu untuk sesaat membuat kita buta dan memaksa kita meng-antagoniskan orang yang menyakiti kita. Kita buta akan alasan dan motivasi dia melakukan itu. Kita tidak melihat dia lagi sebagai manusia yang punya hati. Ini lah sebab karakter Saras kita presentasikan se’jahat’ yang orang-orang lihat. Apakah Saras punya motivasi kenapa dia mengkhianati Jatmiko? Iya. Apa kita perlu perlihatkan motivasinya? Tidak untuk saat ini. Kita ingin mata Jatmiko adalah mata penonton di momen ketika patah hati itu terjadi. Sesuatu yang perlu diingat, ini bukan penyerangan gender, ini soal proses patah hati. Seperti yang dialami Wulan juga ketika dia curhat ke Jatmiko.
Kesimpulannya, ada banyak hal sebenarnya soal ‘Sobat Ambyar’ yang ingin saya tulis. Namun, karena sekarang sudah jam setengah satu malam dan saya mengantuk, jadi mungkin berhenti di sini dulu. Doakan saja di saat siang nanti saya ingat soal keinginan ini.
Monster Squaaaaaaaaaaaaad
Mimpi yang sudah tumbuh sejak putih abu-abu itu tercapai di tahun 2017. Untuk pertama kali nama saya tercatat di layar credit. Siapa kira karya pertama akan jatuh ke cerita romansa yang novelnya begitu populer di kalangan remaja pada eranya. Awalnya sangsi, takut bila memulai dengan ini maka porto akan dipenuhi cerita menye-menye yang nggak sejalan dengan selera. Namun, nyatanya Dear Nathan berhasil dibuat dalam dengan isu-isu sosial sesuai kadarnya. September besok, DN (Dear Nathan) akan hadir di Netflix. FIlm ketiga dan terakhirnya (saya absen di film kedua karena ada proyek lain), mungkin akan tayang tahun depan,
Film ketiga spesialnya luar biasa, suaranya paling keras dari semua yang pernah ditulis. Sesuai novelnya, DN 3 bicara soal pelecehan seksual. Tanggung jawabnya begitu besar. Ini menyangkut perjuangan melawan kerasnya ego patriarki yang sampai sekarang belum usai.
DN 3 mungkin akan menjadi titik balik yang menjawab pertanyaan kenapa saya ingin menulis, semoga. Seperti Nathan, batin terus-menerus meledak karena begitu banyak yang ingin disampaikan. Namun, layaknya Salma, saya tidak pandai berbicara. Karena itulah menulis jadi mulut saya.
Ada waktunya kehilangan nafas untuk berlari. Lelah meraba hingga penjuru tubuh. Dan rasa-rasanya sekarang perlu duduk sejenak bersama jeda.