Kesunyian dan keramaian, dua dunia yang sering berganti tanpa kita sadari.
Kesunyian adalah ruang di mana napas terdengar begitu jelas, detak jam menjadi dentang yang menguasai ruangan. Di sana, pikiran menjadi gemuruh yang tak kalah ribut dari pasar yang penuh sesak. Kesunyian mengajarkan kita mendengar suara paling lirih—suara hati sendiri.
Keramaian, sebaliknya, adalah arus yang menyeret kita dalam gelombang manusia dan suara. Tawa, teriakan, langkah kaki, semuanya bercampur menjadi simfoni yang tak pernah berhenti. Di dalamnya, kita belajar melebur, melupakan sejenak siapa diri kita demi menjadi bagian dari denyut yang lebih besar.
Namun, ada saatnya kesunyian terasa lebih riuh daripada keramaian, ketika ingatan dan rasa saling berdesak-desakan di kepala. Dan ada waktunya keramaian terasa sunyi, ketika semua suara tak mampu menembus dinding hati yang tertutup rapat.
Mungkin, hidup hanyalah perjalanan dari kesunyian menuju keramaian, lalu kembali lagi—hingga kita memahami, keduanya hanyalah dua wajah dari satu keheningan yang sama.
















