Dua minggu lalu, di jam segini –23.00 WITA—saya sedang berada di dalam sleeper bus, dari Sorowako menuju Makassar, untuk kemudian dilanjutkan dengan pesawat menuju Jakarta. Dua hari sebelumnya, 12-13 Mei, bersama Bu Nadia Cassine dan Kak Emmy Kulsum, kami berada di tengah-tengah serunya Sorowako Readers & Writers Festival. Tentang festival literasi yang digagas oleh perempuan muda bernama Hazura Diba ini, sudah saya ceritakan minggu lalu. Sekarang, saya mau cerita soal perjalanan dan waktu yang menyenangkan di Sorowako.
Jadi, begitu tiba di Makassar, Bang Aldi yang menjemput kami, langsung membawa tiga ibu-ibu pelapar ini ke restoran Nelayan. Kami bersua dengan hidangan laut yang segar, dan tentu saja otak-otak khas Makassar yang ginuk-ginuk itu. Bahagia!
Habis makan, langsung menuju pool bis Sinar Muda. Di sana sudah menunggu bis warna kuning, hijau, dan merah. Tiket sudah dibelikan, kami tinggal menunggu aba-aba naik bis. Sejak awal, Ann Syamsu sudah bilang, kalau perjalanan ke Sorowako itu panjang, dan berlangsung malam hari, sehingga naik sleeper bus adalah pilihan tepat.
Untuk tujuan Sorowako, bisnya adalah si Kuning yang bentuknya lebih mirip Transformers ketimbang bis. Sebelum naik bis, silakan pipis sepuas-puasnya, karena si Kuning tak punya toilet. Kaget? Ya, saya juga. Keputusan meniadakan toilet di bis mewah ini adalah kesepakatan bersama penumpang, pengusaha, dan pengemudi. Toilet bikin bis bau pesing. Dari pada semua orang terganggu karenanya, maka tak usah saja.
Masuk bis tunggu aba-aba.
Barang sudah masuk semua di bagasi, baru penumpang naik. Begitu masuk: jreng! Deretan double decker sleeper seats berjajar rapi. Keren abis. Saya kebagian “kepompong” nomor 1. Posisi paling depan, di bawah. Frau Gretsch -gitalele saya—ikut masuk di situ, karena Ivan, kondektur Transformers Kuning tak mau dia tergores atau tertindas yang lain.
Tempat duduk saya ini dilengkapi dengan 2 port usb, bantal dan guling, selimut, satu botol minuman, 2 tirai di kiri dan 2 tirai di kanan. Sesuai namanya, tempat duduk bis dirancang untuk tidur sahaja. Jadi janganlah repot usaha duduk tegak, karena sulit, dan kalau pun ngotot, bikin badan nggak enak banget. TIDURLAH.
Saya copot sepatu, memakai selimut, dan memejamkan mata. Sekali-kali tidur cepatlah. Eh, baru berjalan 10 menit, bis berhenti. Vian, sang kenek, bangkit dari bangku depannya, memberi pengumuman: Semua penumpang harus turun untuk bayar retribusi, Rp. 2000.- Nggak boleh nitip, harus turun dan bayar sendiri, langsung ke petugas.
Bukan tak mau, tapi males banget. Ribet: saya yang pakai sepatu boots banyak tali (tapi saya pakai terus karena enaknya bukan main buat jalan ke mana saja dan di medan apa saja), sudah terlanjur dilepas. Perlu waktu buat memakai dan melepasnya lagi nanti pas masuk ke dalam kepompong.
“Mohon maaf nih, apa tidak bisa kamu wakili saja?” saya protes. Akhirnya Vian menyerah. Dia turun, membayarkan biaya retribusi kami. Lalu bis berjalan. Tidak terlalu laju, karena bis masih membutuhkan beberapa penumpang lagi. Dan berteriak-teriaklah Vian dari jendela depan, “Sorowako, Sorowakoooooo!” Eh, jadi teringat jaman ke kantor bersama Kopaja. Sementara itu Pak Thomas, sang pengemudi, memutar berbelas (atau berpuluh) lagu Iwan Fals. Perlahan-lahan, mata saya mulai berat. Marilah kita tidur, Saudara-saudara penumpang bis kuning Sinar Muda.
Sekitar pukul 22.00, bis berhenti.
Kami dibangunkan. Bis tiba di sebuah tempat makan dan pusat oleh-oleh. Seperti yang sudah saya perhitungkan: pakai sepatu itu makan waktu. Tapi tak ada pilihan, karena saya memang cuma bawa sepasang sepatu ini. Jadi ketika saya selesai pakai sepatu, teman-teman seperjalanan sudah santai merokok, ngopi, jajan, dan pipis.
Saya? Segera lari ke toilet (jongkok). Pipis. Cuma itu yang saya rindukan dari tadi. Kembali ke bis, saya makan bekal kesukaan: apel merah kecil si Rockit.
Setelah 30 menit berhenti, bis kembali bergerak. Saya mencoba tidur lagi. Ternyata susah. Mata terbuka lebar, telinga malah menyimak semua lagu-lagunya Iwan Fals. Entah berapa lama begitu, tiba-tiba bis berhenti lagi. Ahaaaaa! Saya yang mendadak beser banget malem itu, langsung senang karena ini kesempatan baik untuk mencari toilet. Tapi oh tapi, Vian bilang berhenti hanya sebentar, jadi saya harus bergegas. Mau pakai sepatu? Wah, bisa nggak kebagian waktu nih. Tak ada jalan lain, saya harus melakukan hal yang tak terpuji: menculik sandal jepit milik Kak Emmy yang tengah lelap.
Duh maaf Teh. Ini udah terlanjur kebelet lagi.
Foto 1 kiri atas: Ada yang norak, belum pernah dekat-dekat bis segede itu.
Foto 2 tengah atas: Bis apa Transformers sih kamu?
Foto 3 kanan atas: Penampilan bagian dalam bis double decker
Foto 4 kiri bawah: Semoga deretan teddy bear pink membuatmu nyenyak tidur ya.
Foto 5 & 6 tengah & kanan bawah: Menata badan di dalam kepompong.