Mimpi apa bisa ketemu dan salaman dengan WILL SMITH! Ya, THE AMAZING WILL SMITH. Will Smith yang ituuuuu!
View On WordPress
$LAYYYTER
RMH

Kiana Khansmith
he wasn't even looking at me and he found me
No title available
Monterey Bay Aquarium

❣ Chile in a Photography ❣
cherry valley forever

Love Begins

oozey mess
"I'm Dorothy Gale from Kansas"
Peter Solarz
tumblr dot com

#extradirty
2025 on Tumblr: Trends That Defined the Year
we're not kids anymore.

if i look back, i am lost
Stranger Things
ojovivo

Product Placement
seen from United States

seen from Türkiye

seen from Australia
seen from United States
seen from United States

seen from Brazil

seen from United Kingdom
seen from Türkiye
seen from Libya

seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from Malaysia

seen from Lithuania

seen from United Kingdom

seen from Singapore

seen from United States
seen from United States
@redagaudiamowrites
Mimpi apa bisa ketemu dan salaman dengan WILL SMITH! Ya, THE AMAZING WILL SMITH. Will Smith yang ituuuuu!
View On WordPress
Catatan Juni 2025
Juni tahun ini agak berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Saya menjalani hari pertama bulan keenam ini dengan sakit kepala yang amat-amat-sangat. Rasanya kalau sampai kepala ini dicolek pada tanggal 1 Juni pagi itu, mungkin bisa meletus. Ya, separah itu sakit kepalanya. Pusing, puyeng, kleyengan: lewat. Biasanya, kalau sakit kepala, saya akan mengambil obat sakit kepala andalan, EVE Quick DX.…
View On WordPress
ON MY WAY #mywakayamatrip
Perjalanan dimulai pukul 19.30, sehabis nyanyi-nyanyi di Art Jakarta Garden, di Hutan Kota. Ganti baju, lalu keluar cari makan sebelum berangkat ke Bandara. Pak Aan yang mengantar saya, mengusulkan Bakso Lapangan Tembak, yang ternyata punya soto daging kuah bening yang enak. Habis makan, berangkat ke Bandara. Sampai di Bandara pk. 20.15. Tentu kepagian buat saya yang akan berangkat pk. 00.05.…
View On WordPress
SAYA BIKIN TAS SENDIRI!
Pada suatu waktu, saya dibuatkan sebuah tas kulit, warna hitam oleh Eddie Prabu, bapaknya Soca. Tas itu bentuknya tidak lazim. Dia meninggi ke atas, dan talinya tidak terlalu panjang. Tas yang dijahitnya sendiri dengan rapi itu (emang dia serba bisa, sih) sangat tepat untuk dibawa ke kantor, sambil diisi laptop, colokannya, dompet. Tidak ada ritsleting, tapi sangat aman, karena pencopet akan…
View On WordPress
DIA YANG SELALU MENAKJUBKAN
Pada suatu masa, ketika masih seragam putih biru, saya menantikan kedatangan majalah Gadis. Halaman pertama yang dicari adalah CERPEN. Bersiap dikejutkan oleh goresan Si Jon di sana. Buat saya, setiap ilustrasi yang ia hasilkan untuk setiap cerita, artikel, selalu menakjubkan. Baik yang pakai pensil/conte, cat air, atau pena: semua bagus. Beberapa masih saya ingat betul: terutama ketika ia…
View On WordPress
My Christmas Albums Natal memang istimewa. Tanpa diminta, semua kenangan bisa bergulung-gulung datang. Seperti Natal kali ini. Saat mati-matian menyelesaikan beberapa bab dari satu naskah yang mau saya presentasikan besok kepada editor kesayangan, Maesy dan Teddy, keinginan mendengar album Natal yang lama tak saya dengarkan, muncul tak tertahan. Saya masih ingat betul, kedua album dalam format…
View On WordPress
Honey, Honey!
Pagi ini saya biarkan Pak Dadang penjual gado-gado, lewat. Sarapan pagi ini adalah 2 helai roti sourdough berkismis yang dipanggang asal pakai Teflon (pakai sedikit mentega). Ternyata, makan sendiri di meja makan yang besar, tapi penuh berbagai barang, ditemani teh seduhan semalam itu, memerlukan hiburan tambahan. Saya pilih Mamma Mia! Sempurna. Oh, betapa salahnya saya. Film yang dibuka dengan…
View On WordPress
Apa sih arti tattoo-tattoo-nya?
Ini pertanyaan yang paling sering muncul ketika menampilkan tattoo di IG (yang tersebar ke FB dan Threads). Dan herannya kok sering terlewat, tak terjawab. Jadi hari ini saya akan menjawabnya. Foto: Lullu Lutfi Labibi di Kotagede Mari kita mulai dari tattoo pertama, berupa tulisan berbunyi Soca Sobhita. Itu nama anak tunggal saya yang ditemukan oleh ayahnya, Eddie Prabu. Nama itu sudah…
View On WordPress
Surat Buat Soca
Hai Nak, Sebentar lagi, pesawat kalian akan tiba di Kansai, Osaka. Jepang. Sampai di “rumah” kalian. Nak, Aku bersyukur kalian bertemu, jatuh cinta, dan memutuskan untuk jalan terus. Aku bersyukur buat Fajar yang ada di sisimu when things got rough and uneasy. He’s a good man. Mungkin agak awkward di sana-sini, tapi itu bukan soal, sih. Dan aku yakin kamu tahu mana yang lebih penting untuk…
View On WordPress
101
Kalau ia masih bersama kami, dan dalam keadaan sehat, mungkin dia masih akan berangkat berenang. Mungkin perlu ditemani, tetapi dia pasti akan ngotot berbajaj ke Tirta Mas, kolam renang di Kayu Putih. Pukul 7.00 dia sudah masuk kolam, dan langsung melaju sampai mencapai 1000 meter. Setelah itu, jalan kaki pulang. Mungkin mampir ke pasar, membeli papaya (buah kesukaannya), dan keperluan-keperluan…
View On WordPress
Pak
Jaman kecil, saya selalu menyebut diri sebagai anak Mak. Saya mau semua orang melihat dan meyatakan bahwa saya mirip Mak. Bukan Pak. Oh, saya akan sangat marah kalau ada yang bilang saya mirip Pak. Tapi apa hendak dikata, dari kami empat bersaudara (lima dengan Alex yang telah pergi di usianya yang ke delapan), memang hanya saya yang paling mirip Pak. Rambut kaku, mata sipit, kulit putih. Beda…
Pak :)
versi original Bila Mak adalah main air hujan di pancuran samping dapur, menyimak lagu-lagu di radio, memasak, menjahit, membetulkan rumah, berhitung, maka Pak adalah jalan-jalan naik vespa ke pelabuhan, tumpukan buku cerita dengan berbagai bahasa, musik klasik, film dan bintangnya, teknologi dan dunia dalam berita. Kalau ada pekerjaan rumah –terutama berhitung—saya akan menemui Mak. Tapi kalau…
My First Tattoos Part 3 : Jangan Genap!
Belum lagi tattoo pertama genap berumur sehari, saya langsung bersiap mau buat lagi. Ini gara-gara ngobrol sama Soca. Dia bilang, bikin lagi yang agak gambar-gambar, gitu Mak. Bagaimana kalau penguin, usul saya. Penguin adalah binatang kesayangannya. Tapi Soca tak setuju. Dia mengusulkan kucing. Mengapa kucing? Itu binatang kesayangannya di masa kecil. Kami sampai memelihara beberapa ekor di…
View On WordPress
My Very First Tattoo: My Daughter's Name
Tattoo pertama saya adalah tulisan yang berbunyi: Soca Sobhita. Nama anak satu-satunya. Setelah menghabiskan 12 hari bersamanya di Jepang, membahas rencananya ke depan, saya memutuskan menorehkan namanya, menjadikannya tattoo pertama saya. Entah bagaimana, saya bahkan sudah tahu mau dipasang di mana: melingkar di tangan. nama anak satu-satunya. Bentuknya berupa tulisan tangan saya. Di tengah…
View On WordPress
My First Tattoo(s) part 1
Betul, tidak salah baca: saya punya tattoo. Akhirnya 🙂 Ditorehkan tanggal 26 Maret 2024 yang lalu, oleh Mas Munir Kusranto MK Tattoo Art, di Jogja. Yang tahu saya akan melakukan ini adalah Soca Sobhita. Dan sesungguh-sungguhnya, karena dia juga saya jadi punya ide bikin tattoo ini. Jadi, ceritanya, ketika ke Jepang pada bulan Februari lalu, saya tersadar bahwa Soca adalah satu-satunya milik…
View On WordPress
My First Tattoos Part 3 : Jangan Genap!
Belum lagi tattoo pertama genap berumur sehari, saya langsung bersiap mau buat lagi. Ini gara-gara ngobrol sama Soca. Dia bilang, bikin lagi yang agak gambar-gambar, gitu Mak. Bagaimana kalau penguin, usul saya. Penguin adalah binatang kesayangannya. Tapi Soca tak setuju. Dia mengusulkan kucing.
Mengapa kucing? Itu binatang kesayangannya di masa kecil. Kami sampai memelihara beberapa ekor di rumah. Tapi setelah Soca pergi, dan ayahnya tutup usia, saya tak lagi berminat. Buat saya kucing agak mengesalkan. Sulit ditebak, susah dipegang, maunya sendiri. Jadi, mengapa Soca usul kucing?
Soca mengejutkan saya dengan jawabannya, “Karena kamu kan kucing, Mak. Coba pikir-pikir, semua kelakuanmu persis kucing. Susah ditebak, maunya sendiri, nemu aja jalan, susah dipegang juga, dan nyawanya ada 9. Angka kamu kan 9, Mak.” Eh, begitu ya?
“Buat tattoo kucing, Mak buat kita. Aku suka sama kucing barangkali karena Mak nya kucing.” Dan jadilah saya membuat tattoo kedua, di hari kedua: kucing.
Mas Munir, kaget lagi hahahaha.
Sambil menyiapkan si kucing, kami banyak cerita. Dan tiba-tiba hari itu, kucing jadi sangat masuk akal menjadi tattoo kedua. Posisinya di mana? Mas Munir mengusulkan di bawah tengkuk. Nggak ada yang lihat dong? Betul, tetapi saya tahu dia ada di situ. Dan ketika saya lupa, ada orang lain yang melihat dan mengingatkannya kepada saya. Mungkin persis seperti bagaimana kita melihat diri sendiri. Kita kenal baik, meski tak harus melihat tiap hari. Dan ketika lupa, ada yang mengingatkan.
Proses tattoo kedua, ternyata begitu menenangkan, sampai saya hampir tertidur. Seperti kemarinnya, Mas Munir kembali mengingatkan untuk tidak kena sabun, dan rajin diolesi lotion yang ia berikan. Oya, lotion ini harumnya enak banget. Menenangkan juga.
Jadi sudah 2 tattoo.
Tetapi, saya mau buat sesuatu lagi. Maka setelah kucing, saya kembali lagi keesokan harinya (tiga hari berturut-turut). Sekali ini saya mau buat dua sekaligus. Yang satu, berupa tulisan tangan. Yang satu lagi saya minta dibuatkan oleh Mas Munir, berangkat dari tanda titik-koma, semicolon.
Malamnya, sehabis kerja, saya ke sana lagi.
Saya suka sekali dengan eksekusi yang dibuat Mas Munir. Dipasang di atas mata kaki. Sekali ini terasa lebih “menggigit” dari sebelumnya. Juga lebih lama, karena gambarnya berupa blok hitam. Si titik-koma ini saya persembahkan buat anak-anak virtual saya yang merasa sendirian, putus asa, dan tak punya teman untuk berbagi.
Dan yang kedua untuk malam itu: tulisan sendiri sebagai pengingat buat saya yang suka menunda, karena merasa selalu ada waktu. Nah, buat yang ini hampiiiiiiiir terjadi malapetaka. Penyebabnya? Saya sendiri! Saking isengnya mengulang-ulang tulisan, tiba-tiba kata-kata yang saya tuliskan itu berubah isinya. Dan yang berubah itu lah yang saya kirim ke Mas Munir. Pas lagi dikerjakan, tiba-tiba saya tersadar ketika melihat tulisan yang sudah ditempel, dan sedang dikerjakan separoh. Woiiii salah!
Huaduh, huaduh! Untung banget (tetep untung), Mas Munir menulisnya dari belakang. Kalau nggak, ya hancur sempurnalah. Windy yang menemani malam itu tertawa tak habis-habis. Nggak kebayang kalau bablas salah. Kacau sekali!
Empat tattoo sudah. Seorang teman yang baru kenal di sana, berteriak, “Bikin jadi ganjil, Mbak. Genap itu nggak bagus!” Eh! Kok tahu saya masih mau bikin satu lagi?
Sebelum balik ke Jakarta naik kereta malam, siang harinya saya membuat satu tattoo lagi yang akan selalu mengingatkan saya pada negeri Soca yang baru, pada harapan yang saya sematkan untuknya: kehormatan, nasib baik, kesetiaan, dan umur panjang. Dan hadirlah tattoo ke lima (ganjil, oi ganjil!) di pergelangan tangan kanan: Orizuru.
Mengapa tiba-tiba punya tattoo? Karena saya menginginkannya. Setiap waktu adalah tepat, menurut saya. Termasuk urusan bertattoo ini. Akankah bosan nanti? Rasanya tidak, karena apa yang saya miliki ini punya arti penting buat saya. Tak akan terhapus.
Oya, ini alamat Mas Munir, siapa tahu teman-teman ada yang mau buat juga
MK Tattoo Art -Jl. Harjono PA II no.122, Gunungketur, Pakualaman, Kota Yogyakarta. IG: @munirkusranto_tattoo
My First Tattoo: My Daughter's Name
Tattoo pertama saya adalah tulisan yang berbunyi: Soca Sobhita. Nama anak satu-satunya.
Setelah menghabiskan 12 hari bersamanya di Jepang, membahas rencananya ke depan, saya memutuskan menorehkan namanya, menjadikannya tattoo pertama saya.
Entah bagaimana, saya bahkan sudah tahu mau dipasang di mana: melingkar di tangan. nama anak satu-satunya. Bentuknya berupa tulisan tangan saya. Di tengah jalan, tergoda untuk memakai aksara Jepang, bertuliskan namanya. Saya minta Soca menuliskannya, saya bereskan pakai photoshop.
Sejak masih dalam perjalanan menuju Jogja, tulisan dalam aksara Jepang itu sudah saya kirim ke Mas Munir. Sorenya, sehabis bekerja, saya jalan kaki ke studionya. Ah, rasanya sangat semangat. Tak terpikir bakal seberapa sakit, yang ada rasa senang yang begitu penuh.
Buat Mas Munir, ini kejutan. Karena dia pasti masih ingat reaksi saya 6 tahun sebelumnya, ketika kami berkenalan. Tak tertarik bertattoo. Tiba-tiba hari ini datang sendiri!
Sesampai di studio MK Tattoo Art, Mas Munir sudah menyiapkan desain yang saya kirim siang tadi, di kereta.
Melihat karakter tulisannya yang agak kaku dan pendek, ia menawarkan posisinya di bagian dalam tangan, memanjang. Saya setuju saja, karena memang tampaknya di situ pas.
Sambil menunggu Mas Munir menyiapkan Ketika kami mengobrol, iseng saya mengeluarkan tulisan tangan ssaya di buku catatan, “Awalnya sih saya mau buat ini…” Mas Munir langsung menyambar, “Ini lebih bagus. Dipasang melingkar di bawah siku.”
Whoaaa! Kok bisa tahu itu tulisan yang saya buat beserta posisi yang saya incer sejak awal?
Maka tulisan aksara Jepang rontok. Tulisan tangan saya yang dipakai. Seperti yang saya bayangkan (padahal saya nggak bilang sama sekali), Mas Munir mau membuat tulisan itu menyatu dalam satu garis. Bukan main!
Proses dimulai. Heran, saya merasa santai saja. Bahkan sangat tenang, menikmati proses, mengamati jarum yang menuliskan nama Soca. Sakit? Nggak! Cuma terasa seperti ada gigitan semut yang baik hati. Bukan semut rangrang yang pedes itu.
Tak sampai 30 menit, selesai. Oh, saya senang sekali. Memandangnya berkali-kali, memutar-mutar lengan, saya suka.
Yang punya nama saya beri foto dan video, dia bilang cakep dan suka banget.
Malam itu saya pulang dengan hati riang.