Pagi ini kami bersepeda, jauh, jauh berpetualang. Bersama enam pendekar cilik, kami menyediakan diri dan hati untuk bersiap tersesat bersama. Melewati jalanan terjal, becek dan berbatu khas pedesaan, atau yang biasa warga setempat menyebutnya jalanan "trasah". Tapi kami lebih senang mendengar para pendekar cilik menyebutnya "Sambel kacang".
Jadi begini rasanya, sudah lama kami menetap di dunia yang dipenuhi dengan sesaknya udara, gedung-gedung pencakar masa depan, kemacetan, dan polusi suara, atau yang biasa mereka sebut dunia perkotaan. Lalu ketika kami datang kesini, terpesonanya kami menemukan semua tempat didominasi oleh satu warna : Hijau.
Kami bersepeda menempuh jalanan sempit yang dikelilingi oleh sawah dan ladang. Allah ternyata menyiapkan latar belakang yang indah tiada dua untuk kami berfoto ria. Itulah pegunungan menjulang, dengan segala irama pepohonan yang seakan telah disusunNya apik, dan lagi-lagi warnanya mendominasi. Hijau yang menyegarkan mata.
Pernah kau rasakan aroma alam? Wangi hutan di pagi hari, lembab embun dan kabut menghiasi udara, bunga-bunga di ladang kopi yang sedang bermekaran. Atau, kau paling suka aroma hujan kan? Menenangkan, menyejukkan. Meluluhkan segala penat. Setiap hari, kami bersamanya. Ya, aroma-terapi-alamiah itu. Aroma yang dihasilkan oleh segala macam jenis tumbuhan hijau yang hidup disini. Dengan persentase kendaraan bermotor yang amat kecil --bahkan hampir tak ada gedung tinggi--, sepertinya tak ada yang mampu mengalahkan indahnya gradasi warna kehijauan beserta milyaran barrel oksigen yang dihasilkannya.
Mungkin itulah sebabnya Rasulullah amat menyukai warna hijau. Warna alami yang sungguh kehadirannya selalu mampu menjadi penyejuk mata, penentram jiwa. Dominasinya hampir ada di setiap hal yang diciptakanNya. Sawah, ladang, gunung, sungai, bahkan peta dunia. Ia begitu padan dengan biru laut yang dicipta-Nya. Kombinasi yang mengagumkan. Coba tengok bagian depan rumahmu, maka akan dengan mudah kau temukan warna hijau. Bila kau kesulitan, itu artinya kau sedang berada di dunia yang sesak dan padat akan keserakahan manusia. Menyedihkan.
Mungkin itulah sebabnya banyak sekali lokasi wisata yang menggunakan "hijau" sebagai daya tariknya. Efeknya menenangkan syaraf-syaraf otak yang sedang disibukkan dengan pikiran duniawi, menyehatkan mata, dan bila kau terpejam sejenak, sungguh ada udara yang kemudian menyeruak masuk kedalam dadamu, mengatakan bahwa "Semuanya akan baik-baik saja". Dan ketika kau membuka mata, seperti datang suplai semangat, merambat dari ubun-ubun sampai ke tetes tersuci dalam diri kita : nurani.
Mungkin itu pula sebabnya orang sering berkata,
"Kalau denger uang aja, ijo matanya."
Apa hubungannya? Kenapa matanya yang hijau?
Bukankah kita akan merasa senang secara otomatis bila mendapatkan materi duniawi yang amat-dicintai-manusia tersebut? Perasaan senang, lega dan tenang seringkali mereka lambangkan dengan warna hijau. Dan, segala macam eskpresi akan dengan mudah terbaca dari rona mata kita.
Ya begitulah. Segala ciptaan-Nya selalu sarat akan detail dan rencana, tidak ada yang sia-sia, dan selalu berguna bagi setiap makhluk dan materi yang diciptan-Nya. Termasuk warna hijau ini.
Maka, nikmat Tuhanmu manakah yang kamu dustakan?
Dusun Kelingan, 13 Juli 2014
Dicatat secara random di malam dingin dan pegal-pegal setelah bersepeda jauh, jauh sekali.