Satu, lima, enam.
Ketika membaca rangkaian tiga kata diatas, apa yang terlintas dalam pikiran kita pertama kali? Kalau kamu dapat berpikir satu itu simbolis ihsan, lima itu simbolis rukun islam, dan enam itu rukun iman, selamat! Kamu benar! Sering ya pasti, mendengar rukun iman ini. “Iman itu kadang suka naik turun euy.” Sebuah kalimat klise dalam masyarakat Indonesia. Tapi sebenarnya, apakah mereka tahu bagaimana iman saat turun itu? Saya sendiri baru paham ketika berbincang dengan kakakku. kali ini Ia memberikan aku hal yang lebih nikmat daripada santap siang di istana presiden sekalipun, apalagi kalau bukan ilmu?
Untuk mengetahui kapan iman tersebut turun, kita harus tahu bagaimana gejala lemahnya iman.
1. Bermalas malasan untuk melakukan kebaikan.
Kalau malas sudah menyerang, rasanya dunia berhenti, dan kita tidak ingin beranjak dari apa yang kita lakukan. Kemalasan yang datang dari sendiri hanya dapat dilawan dengan paksaan dari diri sendiri juga.
Malas itu awal lemahnya iman. Agar malas tidak berkepanjangan, mencari teman yang baik adalah solusi tepat.
Ingat kisah minyak wangi dan pandai besi? Kurang lebih begitulah analoginya dalam mencari teman. Melihat tukang minyak walau jaraknya jauh sudah wangi, sedangkan mendekat dengan tukang pandai besi akan menyakiti diri.
2. Hanya mengerjakan yang wajib wajib saja.
Wajib itu kan lebih penting, iya benar. Tapi bukan berarti wajib itu boleh dilakukan saja. Sholat wajib kita belum tentu diterima, sholat sunnah lah yang membantu menyempurnakannya. Amalan sunnah memang tidak dosa apabila ditinggalkan, tapi sangat sayang untuk dilewatkan.
Sholat tahajjud merupakan sholat sunnah yang paling dianjurkan setelah sholat wajib, karena waktu dimana dilaksanakannya sholat tahajjud adalah waktu yang mustajab (waktu pengabulan doa). Tidak heran jika sholat tahajjud merupakan sholat yang terberat untuk dilakukan, harus beranjak dari tempat tidur, mengambil wudhu, dan berdiri menunaikan sholat, disaat alam mimpi masih membawa kita 'bertamasya' didalam tidur. Sesuatu yang besar memang butuh pengorbanan besar.. andaikan kita tahu betapa dahsyatnya sholat tahajjud, bagaimana tahajjud memuliakan seseorang, dan memberikan keberkahan waktu seseorang, pastilah kita menjadi orang yang berlomba-lomba mengerjakan sholat tahajjud.
3. Meninggalkan Al Quran
Padahal saat membaca quran, hari seseorang rasanya akan baik baik saja, karena sifat Al Quran yang menenangkan. Seseorang yang membaca artinya, tidak jarang merasakan kejadian yang sama seperti kisah Al Quran. Rasanya, Allah sedang berkomunikasi dengan kita, bukan?
4. Banyak melakukan hal hal yang makruh.
Makruh atau mendekati haram. Perkara makruh seperti seseorang menghabiskan waktu pada hal yang kurang bermanfaat. Sadarkah kamu bagaimana fenomena social media sekarang? Sehari tanpa gadget seperti semenit tanpa oksigen. Sudah menjadi kebutuhan primer. Padahal kewajiban yang kita miliki lebih banyak dari waktu yang tersedia. Sudah dikit, makin sedikit lagi karena waktu tersebut digunakan pada hal yang kurang berfaedah.
5. Dominansi targetan agama menjadi lemah.
Karena dominansi dunia terlalu menjadi fokus kita. Memang study oriented bagus, tapi ibadah tetap menjadi yang utama.
6. Tanggungjawab agama menjadi lemah.
Amanah dapat menjadi representatif tanggungjawab akan agama. Ketika fokus dengan tanggungan akademis, bukan berarti amanah bisa ditolak berdasarkan alasan pribadi. Amanah yang datang kepada kita pastilah sudah dipikirkan banyak orang. Yang kita lakukan bukan lari dari masalah, tapi belajar untuk tawazun, seimbang dalam amanah dan akademis.
7. Minim dalam memberikan pengorbanan.
Pengorbanan bisa fisik, amaliyah (harta), maupun waktu. Seseorang belum baik jika hanya taat kepada Allah, namun ia harus memberikan manfaat bagi orang lain. Berat memang. Saat pikiran seperti, “Kok aku udah nolong dia, tapi dia biasa aja ya?” tak bisa dibendung lagi, ingatlah bahwa Allah sebaik-baiknya pembalas. Belajar berkorban akan melatih rasa keikhlasan dalam diri kita. Keikhlasan bahwa Allah lah yang patut kita mohon balasannya, bukan manusia.
8. Lemahnya sifat toleran.
Toleransi penting karena kita bukan makhluk yang sempurna walau tabiatnya adalah menuntut kesempuranaan. Seseorang yang memiliki sifat tidak toleran dapat menjaid bumerang bagi dirinya sendiri karena orang lain tidak akan menghormatinya.
Kakakku mengakhiri hidangannya dengan sentuhan akhir yang manis. Ternyata kedelapan hal ini sering aku lakukan dan aku bertekad untuk menguranginya. Aku bersyukur kedatanganku dapat membawa ilmu baru. Sebelum kami bertemu, rasanya berat sekali.. syaithan sudah membujuk, “Udah lah, mending kamu izin aja, sekali-sekali.” Untuk mencegahku datang. Syaithan memang cerdas, ia berusaha merayu penuntut ilmu untuk tidak beranjak. Karena ia tahu bahwa Allah sangat memuliakan seorang yang berilmu.













