Kita Hanya Butuh Cukup
Hidup jika melulu dipakai melihat keatas, lama kelamaan selain bikin capek hati, bikin kita semakin meningkatkan standar dan ekspetasi yang bersifat duniawi. Menargetkan kehidupan yang mirip sama influencers yang belakangan ini kita ikuti kehidupan sehari-harinya. Apa-apa pengen sama kayak mereka. Sampai bikin kita lupa kalo kita udah terlalu jauh dalam memandang dunia. Melihat sekitar rasanya berbeda dan semakin jauh.
Hei, aku pengen mengajak kalian untuk bernapas sebentar. Rasanya kayak abis marathon gak sih, hidup memakai standar mereka? Jujur, aku sering kali merasa capek. Sampai beberapa hari ini bikin aku bertanya-tanya, "Lo ngapain sih, Put?" "Apa yang lagi lo kejar?" Nah, loh. Aku pun jadi kembali merenung, kayaknya aku benar-benar sudah 'jauh'.
Sebenarnya dalam kasus seperti ini kita tidak perlu menyalahkan mereka yang membuat kita seperti ini, nyatanya mereka pun tak pernah memaksa kita secara personal, bukan?
Melainkan hal ini benar-benar bikin kita semakin kacau. Memandang dunia dengan memakai standar dan ekspetasi yang tak pernah sesuai dengan kita. Sampe kita melupakan apa-apa yang udah kita miliki saat ini, yang kita genggam sekarang menjadi tak lagi berharga. Miris sekali.
Lantas, tidak mungkin kita berlama-lama hidup seperti ini. Tidak lain kitalah yang mesti menyederhanakan segalanya. Termasuk menyederhanakan ekspetasi. Setidaknya, kita hanya perlu memakai ekspetasi dan standar yang sesuai takaran dengan kita di kehidupan nyata. Udah ya, sampai kapan pun jalan kehidupan manusia akan berbeda, yang terlihat indah di mata belum tentu paham bagaimana nikmatnya bersyukur. Yang sudah bersyukur akan menjadi cukup. Ya, cukup. Setidaknya tidak kurang tidak juga lebih. Kita hanya butuh cukup.
📝 Tasikmalaya, 3 Ramadan 1442 H










