Titik terendah suatu perasaan memang rasa lelah. Lelah dengan ekspetasi yg dibuat untuk orang lain. Hingga tersadar bahwa memang menceritakan suatu perasaan dan peristiwa paling "melegakan" adalah dengan Sang Pencipta, bukan manusia. ☺️

seen from United Kingdom
seen from Türkiye
seen from Netherlands
seen from Spain
seen from China
seen from India

seen from Croatia

seen from South Africa
seen from Hong Kong SAR China
seen from Spain
seen from Türkiye

seen from United States

seen from Türkiye
seen from United States
seen from United Kingdom

seen from Maldives
seen from China

seen from Malaysia
seen from China
seen from Thailand
Titik terendah suatu perasaan memang rasa lelah. Lelah dengan ekspetasi yg dibuat untuk orang lain. Hingga tersadar bahwa memang menceritakan suatu perasaan dan peristiwa paling "melegakan" adalah dengan Sang Pencipta, bukan manusia. ☺️
Menggantungkan harapan kepada manusia hanya akan berujung kecewa. Bahkan terhadap orang yang dekat dengan kita sekali pun. Mereka yang kita anggap baik pun akan ada saatnya bertingkah tidak sesuai dengan harapan kita. Karena mereka hanya manusia yang memiliki celah untuk alpa. Begitu pun kita bukan?
@pena_almujahidah
Kita Hanya Butuh Cukup
Hidup jika melulu dipakai melihat keatas, lama kelamaan selain bikin capek hati, bikin kita semakin meningkatkan standar dan ekspetasi yang bersifat duniawi. Menargetkan kehidupan yang mirip sama influencers yang belakangan ini kita ikuti kehidupan sehari-harinya. Apa-apa pengen sama kayak mereka. Sampai bikin kita lupa kalo kita udah terlalu jauh dalam memandang dunia. Melihat sekitar rasanya berbeda dan semakin jauh.
Hei, aku pengen mengajak kalian untuk bernapas sebentar. Rasanya kayak abis marathon gak sih, hidup memakai standar mereka? Jujur, aku sering kali merasa capek. Sampai beberapa hari ini bikin aku bertanya-tanya, "Lo ngapain sih, Put?" "Apa yang lagi lo kejar?" Nah, loh. Aku pun jadi kembali merenung, kayaknya aku benar-benar sudah 'jauh'.
Sebenarnya dalam kasus seperti ini kita tidak perlu menyalahkan mereka yang membuat kita seperti ini, nyatanya mereka pun tak pernah memaksa kita secara personal, bukan?
Melainkan hal ini benar-benar bikin kita semakin kacau. Memandang dunia dengan memakai standar dan ekspetasi yang tak pernah sesuai dengan kita. Sampe kita melupakan apa-apa yang udah kita miliki saat ini, yang kita genggam sekarang menjadi tak lagi berharga. Miris sekali.
Lantas, tidak mungkin kita berlama-lama hidup seperti ini. Tidak lain kitalah yang mesti menyederhanakan segalanya. Termasuk menyederhanakan ekspetasi. Setidaknya, kita hanya perlu memakai ekspetasi dan standar yang sesuai takaran dengan kita di kehidupan nyata. Udah ya, sampai kapan pun jalan kehidupan manusia akan berbeda, yang terlihat indah di mata belum tentu paham bagaimana nikmatnya bersyukur. Yang sudah bersyukur akan menjadi cukup. Ya, cukup. Setidaknya tidak kurang tidak juga lebih. Kita hanya butuh cukup.
📝 Tasikmalaya, 3 Ramadan 1442 H
Cerita tentang Ekspetasiku, Chapter One
Suatu hari nanti, ketika fase pertengkaran itu terulang kembali, aku ingin kamu pandangi aku baik" sebagai pasanganmu. Aku mungkin sering membuatmu marah bahkan murka, tapi lihatlah aku bagaimana diriku peduli atas dirimu. Perhatian" kecil sederhana yang sering aku berikan, itu semua karena aku mencintaimu tanpa syarat dan memastikan kamu baik" aja.
Aku paham kondisi ini ketika kamu lelah dengan hubungan kita, tapi naluriku berkata bahwa lelahmu itu hanya butuh istirahat atau mungkin hanya butuh didengar. Bukan berarti salah satu diantara kita memutuskan untuk pergi dan meninggalkan keadaan begitu aja tanpa pretendensi yang tepat untuk berbicara.
Aku belajar untuk lebih mengerti bahwa ada masanya pasanganku berada pada kondisi di titik terendahnya, ketika bahagianya sedang berada dibawah. Dan anehnya, aku tak pernah tau sebenarnya isi hatimu itu untuk siapa, namun yang aku tau bahwa aku mencintaimu dan menguatkan kamu sebagai pasanganku adalah tugas paling sederhanaku.
Aku telah melihat ada banyak hal yang aku pahami atau tidak dari hubungan ini, salah satunya adalah bahwa aku tak pernah tau seberapa pentingnya aku didalam hidupmu. Namun yang aku sadari adalah aku mencintaimu semampuku.
Mungkin sudah terlalu lama kita meninggalkan moment itu, moment - moment sederhana ketika aku dan kamu saling merindukan. Duduk bersama disampingku atau disampingmu, bercanda dan membicarakan apapun tentang cinta dan hal" gila yang kita lakukan atau rencana" kita didepan hari nanti.
Pertanyaanku jika memang aku dipaksa untuk tidak berekspetasi tinggi terhadapmu.
"Jika dirimu diberikan pilihan, apakah kamu mau menunggu orang baru yang kamu inginkan dan belajar untuk mencintainya atau dengan aku yang mau berjuang bersama kamu?"
To be continue?
Perasaan kecewa itu hanya akan muncul apabila Ekspetasi bertolak belakang dengan Realita.
Kita mungkin saja akan menyalahkan seseorang yang menjadi penyebab munculnya kekecewaan.
Tetapi fakta berkata lain, sesungguhnya kitalah yang kecewa kepada diri sendiri karena harap terlalu berlebihan kepada seseorang dan ia tidak mampu memenuhinya.
Menggantungkan harap kepada seseorang butuh jiwa yang besar dan penerimaan yang luas. Karena jika tidak terpenuhi, kecewa pun akan segera menghampiri. Jadi persiapkan dirimu.
Dan teruntuk diri yang tengah diharapkan oleh seseorang, semoga mengerti bagaimana rasa sebuah kekecewaan, lebih berhati-hati menjaga hati .
Kita tidak akan pernah tau perubahan seperti apa yang akan terjadi apabila seseorang mendapati hatinya berada pada perasaan kecewa. Yang pasti jiwanya sedang teguncang dan hatinya tidak baik-baik saja.
sebuah seni untuk saling menghargai
Ekspetasi.
️️
Halo, Semesta.
️️
Entah mengapa,
Akhir-akhir ini saya jarang berekspetasi.
Bukan, sebetulnya bukan tak ingin lagi.
Hanya ingin mengalir, menuruti takdir.
️️
Tak apa, ya, Semesta?
️️
Rasanya enggan saya berangan-angan tinggi,
Jika pada akhirnya yang saya dapati
hanya kenyataan pahit.
️️
— Narasia, 2020.
Menebak
Saya pernah bertemu seorang bapak yang terlihat begitu sangar di sebuah klinik, memasuki ruangan dokter dengan tergesa karena anaknya sedang butuh penanganan secepatnya. Kala itu saya ketakutan melihatnya, karena penampilannya persis seperti seorang penjahat. Namun siapa sangka setelah beliau memulai menyapa, saya menangkap aura kehangatan dari dirinya. Terlebih ada fakta baru yang saya tahu bahwa beliau ternyata orang yang humoris. Kami pun mengobrol cukup lama. Sampai akhirnya saya mendapat tumpangan gratis untuk kembali ke pondok. Karena kebetulan pondok saya dengan rumah beliau satu arah. Sepanjang jalan pun bapak itu dan istrinya tak henti-henti bercerita. Bahkan ternyata beliau pernah menjadi orang kepercayaan pemilik pondok yang sekarang saya tempati.
Dari cerita ini saya mengerti bahwa kita tidak bisa langsung menebak bagaimana seseorang kecuali setelah kita benar-benar mengenalnya.
Karena apa yang tampak dari luar tidak selalu menunjukkan apa yang ada di dalam.
Siapa yang tahu bahwa ternyata di balik sangarnya wajah seseorang, tersimpan keramahan dan kepedulian yang luar biasa? Siapa yang tahu di balik foto-foto bahagia seseorang di sosial media ternyata ada kesedihan dan luka-luka yang menganga? Siapa yang tahu di balik tulisan-tulisan penggugah semangat tersemat kerapuhan yang teramat sangat.
Kenalilah lebih dekat, maka kamu akan melihat sesuatu yang selama ini tak tampak.
Bukankah Umar bin Khattab pernah berkata bahwa kita bisa mengetahui seseorang jika sebelumnya kita pernah bertetangga dekat, berurusan dalam perkara uang, dan pernah melakukan perjalanan dengannya. Selain itu jangan cepat menebak atau berkespetasi lebih tentangnya. Bukan apa-apa, jika ekspetasimu tak sesuai dengan kenyataan, yang ada hanyalah kecewa.
@penaalmujahidah
"Jangan mudah berekspetasi terlalu tinggi. Sebab jika realita ternyata jauh dari apa yang diingini, maka yang ada hanyalah sakit hati."
@penaalmujahidah