Langkahnya sudah jauh. Raga meminta diistirahatkan. Lelah berhadapan dengan berbagai ambisi, tekanan dan harapan akan masa depan. Walau jalur petualangan masih banyak yang perlu ditempuh. Kita pulang dulu, ya?
Game of Thrones Daily
will byers stan first human second
No title available

JBB: An Artblog!
🪼
d e v o n
RMH

Product Placement
dirt enthusiast
Alisa U Zemlji Chuda
TVSTRANGERTHINGS
Misplaced Lens Cap
Cosmic Funnies

if i look back, i am lost

@theartofmadeline
i don't do bad sauce passes
Aqua Utopia|海の底で記憶を紡ぐ

ellievsbear
Claire Keane
$LAYYYTER
seen from South Korea

seen from Canada
seen from United Kingdom
seen from United States
seen from Finland

seen from United States

seen from United States
seen from Italy

seen from Netherlands

seen from Canada
seen from United Kingdom

seen from Brazil

seen from Türkiye

seen from United States
seen from Italy

seen from Malaysia
seen from Australia
seen from Indonesia

seen from Türkiye
seen from Chile
@prettywallflwer
Langkahnya sudah jauh. Raga meminta diistirahatkan. Lelah berhadapan dengan berbagai ambisi, tekanan dan harapan akan masa depan. Walau jalur petualangan masih banyak yang perlu ditempuh. Kita pulang dulu, ya?
Di akhir tahun kemarin, salah satu hal yang aku refleksikan ialah perihal pencapaian diri. Aku bertanya pada diri sendiri, "Kok aku masih gini-gini aja ya?"
Gak lama dari itu, muncul lah perasaan gak berharga yang lama kelamaan berubah jadi benci pada diri sendiri. Saking muaknya dengan fase tersebut, muncul deh sebuah ide untuk 'ngobrol' dengan Chatgpt yang kumulai dengan kalimat, "Chatgpt, kok aku merasa masih gini-gini aja ya dalam proses bertumbuhku?" Lalu, aku juga sertakan kalimat penjelas lainnya di sana.
Aku gak terlalu berekspetasi dengan apapun yang akan mereka kirim setelahnya. Tapi, saat muncul kalimat panjang sebagai respon, aku jadi mulai merenung lagi. Dari jawaban akan pertanyaan 'Kenapa aku merasa gini-gini aja?' yang dijawab dengan 3 poin berupa opsi alasan cukup relate denganku, lalu sesudahnya ada tulisan-tulisan pengingat yang tanpa disadari bikin nangis.
Katanya, aku terlalu keras dengan diri sendiri. Yang bikin lupa bahwa aku memang baru memulai segalanya. Aku yang masih tertatih untuk mulai bertumbuh gak bisa disamakan dengan laju pertumbuhan orang lain. Iya, ternyata aku kembali melakukan komparasi dengan teman-temanku yang keren.
Hal lain yang lumayan jadi tamparan keras untuk menyadarkanku ialah untuk menjadi diriku sampai saat ini itu juga bagian dari proses bertumbuhku. Ada perubahan mindset yang aku lewati untuk dicatat bahwa hal tersebut sebenarnya sangat besar dan berharga, meskipun mungkin terlihat abstrak atau sulit diukur. Seperti transformasi pola pikir dan nilai hidup sering kali gak memiliki hasil yang keliatan kayak pencapaian fisik, tapi kan itu bukan berarti gak penting, ya?
Belum lagi adanya penerang soal tujuan hidup sebagai seorang Muslim dan kesadaran tentang kontribusi untuk umat menjadi hal besar yang kini selalu aku pikirkan. Aku gak sadar, kalo aku juga sedang bertumbuh.
Aku pun akhirnya menemukan jawaban dari pertanyaanku lainnya, "Apakah yang aku lakukan belakangan ini sudah benar arahnya?" Jawabannya yaitu iya. Perubahan internalku tadi menjadi salah satu petunjuk bahwa aku sedang diarahkan pada hal yang aku tuju—alias semestinya.
Life Update: Perjalanan Menjadi Dewasa
Sebuah pesan masuk dari seorang teman, "Put, kemana aja? Kok jarang update apa pun di sosmed sih?"
Dalam hati bilang, "Loh, kan dari dulu juga emang jarang update sosmed anaknya haha,"
Pesan lain masuk lagi, "Life update atuh!"
Tunggu sebentar, dimintai life update, membuatku merefleksi hal-hal yang sudah kulalui sepanjang tahun ini. Serentetan peristiwa, pengalaman, orang-orang dan perspektif baru di tahun ini bermunculan dalam kepala.
Life update ini akan kumulai dari cara baruku dalam berpikir saat benar-benar memasuki fase dewasa. Kini aku baru paham kenapa banyak orang bilang menjadi dewasa itu menakutkan.
Karena ternyata ada langkah berat untuk memulai perjalanan sambil mempertimbangkan arah mana yang bisa cepat sampai tujuan. Belum lagi runtutan peristiwanya yang selalu memaksa kita lekas mengambil keputusan, sedangkan pelajaran tentang pengambilan keputusan tak pernah kita dapat di bangku sekolahan.
Seraya berhadapan dengan banyak tuntutan, kita selalu bertanya-tanya manakah yang sebaiknya kita putuskan? Sampai rasanya tak ingin cepat-cepat bertemu hari esok karena semuanya begitu membingungkan.
Namun, kenyataan tetaplah menjadi kenyataan. Setiap detiknya terus berjalan, bergantian dengan keharusan. Kini yang bisa diandalkan ialah keyakinan bahwa kita akan selalu baik-baik saja jika tetap mengikuti kata hati, bukan? Setidaknya, kata hati akan selalu menuntun kita pada jalan-jalan untuk dilalui atas kehendak Tuhan.
Walau mungkin nanti di pertengahan jalan akan selalu ada ketidaksesuaian, tapi ada keyakinan yang tetap dipertaruhkan. Sampai waktunya akan dipertemukan dengan hal-hal seru penuh makna yang menumbuhkan.
Pada akhirnya kita akan tetap melanjutkan perjalanan ini sambil menjinjing keyakinan bahwa Dia tak akan membawa kita sampai sini hanya untuk bertemu kesia-siaan.
Menerima
Pagi ini memutuskan untuk jalan keluar sambil beli persediaan makanan untuk beberapa hari kedepan. Selagi jalan, aku putar sebuah podcast yang sudah lama berada di daftar tontonan. Tentang 'Menerima' temanya. Dari podcast tersebut aku menyadari sesuatu, yang mulanya, aku berpikir menerima adalah hal termudah dan sudah biasa bagiku dalam melakukannya. Ternyata aku salah euy hahaha
Nyatanya, menerima inilah yang selalu aku lewatkan. Selama ini aku malah seringnya menyangkal terhadap pikiran, perasaan dan hal-hal yang tak sesuai dengan keinginan. Aku terlalu berfokus pada kekurangan-kekurangan tersebut yang akhirnya melewatkan bahwa aku perlu menerima kenyataan terlebih dulu untuk kebaikan diri.
Aku nggak sadar kalo hal tersebut sama aja kayak lagi nyakitin diri sendiri. Toh, lama-lama itu semua jadi tumpukan beban yang begitu menyesakkan. Aku melewatkan untuk menjadi sadar pada momen-momen tertentu karena terlalu larut dalam ketakutan pada ketidakpastian.
Kini aku sudah sadar dan kembali belajar tentang diri sendiri. Aku memang butuh kembali menyadari dan menerima secara utuh atas segala pikiran, perasaan, dan hal-hal yang sedang kuhadapi agar aku bisa lebih tenang dan bijak dalam merespon segalanya. Sama halnya kayak menulis ini sebagai salah satu metode untuk membangun kesadaran terhadap hal yang baru saja terjadi padaku. Udah ah, sekarang udah waktunya untuk melanjutkan perjalanan. Btw, ini track recordku hari ini
Menerka Jalan Petualangan Hidup
Kini aku berada pada persimpangan jalan yang mempertemukanku dengan pertanyaan-pertanyaan baru. Sudahkah benar keputusanku ini? Bagaimana kalau aku salah jalan lagi? Bagaimana kalau aku gagal?
Entahlah, aku semakin sulit menerka akan kelanjutan dari setiap langkah yang harus kutuju ini. Namun, kini aku dengan sadar hanya sedang menjalani alur yang tersedia di depan mata. Aku hanya sedang mengarungi arus yang masih buram untukku pahami kemana tujuannya kelak. Berbekal keyakinan diri bahwa dunia ialah tempatnya bertualang sambil memperkaya pemahaman diri perihal kekuasaan-Nya.
Mungkin, ini semua akan sama seperti perjalanan-perjalananku yang lalu, bahwa setiap fasenya tak akan begitu saja mudah kupahami jawabannya. Aku memang perlu terus menjalani sambil terus menggenggam nilai-nilai diri dan kebergantungan pada-Nya. Pelan-pelan lah ya karena ini baru satu langkah. Akan lebih banyak lagi langkah yang harus kutapaki satu persatu. Semoga segalanya dimudahkan. Semoga segalanya tetap beriringan dengan segala kebaikan.
"Ya Allah, aku sudah menganggap baik seluruh takdir yang engkau berikan padaku, maka aku mohon sembuhkanlah dan perbaikilah hidupku"
Puncak tertinggi dari hati yang bersih adalah menyerahkan segalanya bahkan masa depannya pada Ilahi.
Tanpa tapi.
Tidak mudah melatih husnudzon dan prasangka baik pada Allah itu, mungkin bagi mereka yang Allah hujani dengan kenikmatan akan mudah untuk melakukannya, tapi tidak mudah bagi mereka yang Allah berikan gerimis bahkan hujan ujian. Soal pasangan, keluarga, pekerjaan, keadaan sosial, ekonomi dan semua hal yang barangkali menyesakkan dada, seakan Allah tidak mencintainya. Padahal, tidak selalu yang Allah hujani dengan kenikmatan itu berarti Allah suka padanya. Dan tidak pasti juga yang hari ini Allah berikan ujian bertubi-tubi menandakan Allah membencinya. Semua ada takaran dan tolok ukurnya, dan pada ujungnya, semua yang bisa mendekatkan diri pada Allah adalah kenikmatan, entah ujian atau nikmat yang datang. Aku pun sama denganmu, masih tertatih untuk bisa selalu mengedepankan prasangka baik. Semoga Allah berikan kita hati yang seluas samudera perihal takdir ini, Allah berikan selimut sabar atas dinginnya ujian. Sebab surga tidak pernah murah.
@jndmmsyhd
Cerpen : Aku dan Setakut Itu
Dulu aku pernah di fase setakut itu tentang pernikahan. Membayangkan memiliki hubungan jangka panjang dengan orang asing, bahkan membayangkan dia bisa melihat tubuhku tanpa sehelai benang saja membuatku bergidik. Karena selama ini, semalu itu rasanya kalau tersingkap barang sedikit.
Tapi hal yang paling menakutkanku sebenarnya adalah diriku sendiri yang tidak seyakin itu untuk membangun kepercayaan. Selain karena, rasanya begitu buntu harus mencari sosok pendamping di lingkunganku sekarang. Di kantor? Tidak ada yang menarik, sekalinya menarik ternyata sudah jadi pasangan orang lain. Selorohan salah satu temanku dulu jadi teringat, "Orang itu akan terlihat menarik dan terbukti kebaikan dan ketulusannya ketika sudah menikah sama orang lain."
Memang, apa yang dikhawatirkan sekarang kan soal finansial, kesetiaan, dan hal-hal serupa itu. Dan yang sudah menikah kemudian berhasil membuktikan itu, tampak menjadi pasangan yang beruntung. Mungkin itu kali ya jadi banyak pelakor. Soalnya mau yang udah "terbukti", bukan yang gambling kayak sekarang nyari yang begitu - sudah ketemu - masih bertanya-tanya benar atau tidak.
Hihhhh aku sih gak mau yaaa merebut pasangan orang lain! Aku memahami bahwa usiaku terus beranjak. Tahun ini masih 27 memang, tapi rasanya aku belum bisa berdamai dengan gemuruh kecurigaanku untuk membangun kepercayaan dengan seseorang seumur hidup. Atau mungkin sebenarnya karena aku belum bertemu saja, mungkin tergantung siapa orangnya. Bisa jadi.
Rasanya proses mengenal diri membuatku merasa harus mendapatkan pasangan yang layak. Dan aku tak mau menurunkan standar kelayakan itu. Kemarin aku cerita ke temanku, apakah aku terlalu tinggi memasang standar kelayakan? Menurutnya, itu wajar, kan mau menikah, wajar kalau aku menginginkan pasangan yang bisa memenuhi sebagian besar kelayakan yang aku inginkan.
Aku sampai berpikir lagi setiap kali pulang dari kantor. Membuka pintu kamar kos yang sunyi. Sendiri dalam ruang yang luasnya hanya 12 meter persegi. Apa aku sebenarnya sudah cukup matang untuk masuk ke fase itu? Apa hanya karena ketakutanku pada umur yang terus berlalu?
Aku bahkan tidak memiliki ketertarikan dengan siapapun sekarang, tidak dekat dengan siapapun juga. Apa aku perlu menjalani hidup dengan cara yang berbeda kali ya? Resign terus menggunakan seluruh tabungan untuk jalan-jalan keliling Indonesia? Atau mencoba peruntungan untuk mencari pekerjaan di luar negeri?
Tapi setelah dipikir-pikir, kenapa aku serisau itu ya seolah-olah aku tidak beriman. Padahal aku tahu betul hal ini jadi rahasia-Nya. Sama seperti kematian.
Banyak hal yang udah terjadi, lalu itu semua mengantarkan kita pada versi terbaru masing-masing. Terkadang, aku menyayangkan akan perubahan, tapi memang begitu cara kehidupan ini bekerja. Mempertemukan kemudian akan kembali mempertemukan hal-hal yang sudah tidak sama lagi. Satu yang aku yakini masih ada di tempat itu—ialah perasaan-perasaan yang tetap bertaut walau perlahan semakin memudar juga dimakan waktu.
Perjalanan Menjadi Dewasa
Kini aku mengerti alasan orang-orang bilang bahwa menjadi dewasa itu menakutkan. Ada langkah berat untuk memulai perjalanan, mempertimbangkan arah mana yang bisa cepat sampai tujuan, bahkan seringkali dilanda badai takut karena sebenarnya belum ada titik tuju. Belum lagi runtutan peristiwanya yang selalu memaksa kita lekas mengambil keputusan, sedangkan pelajaran tentang pengambilan keputusan tak pernah kita dapat di bangku sekolahan. Seraya berhadapan dengan banyak tuntutan, kita selalu bertanya-tanya manakah yang sebaiknya kita pilih? Atau bahkan sudah tepatkah keputusanku kemarin? Semuanya begitu membingungkan sampai rasanya tak ingin cepat-cepat bertemu hari esok
Namun, kenyataan tak pernah bisa memilih-milih. Setiap detiknya selalu berputar, bergantian dengan keharusan. Kini yang bisa diandalkan ialah keyakinan bahwa kita akan selalu baik-baik saja jika tetap mengikuti kata hati. Kita percaya akan kalimat tersebut karena orang-orang selalu mengatakannya. Kata hati akan selalu menuntun kita pada jalan-jalan yang memang dikehendaki-Nya untuk kita lalui. Walau mungkin tak sesuai ekspetasi dan penuh lika-liku, tapi ada keyakinan yang perlu dipertaruhkan di sini. Sampai waktunya akan dipertemukan dengan hal-hal indah penuh makna yang membahagiakan, pada akhirnya kita akan tetap melanjutkan perjalanan tersebut sambil menjinjing keyakinan bahwa Dia tak akan membawa kita ke sini hanya untuk gagal.
—P
Terkadang, ada beberapa orang yang rangkaian mimpinya harus dikubur dan dikesampingkan dulu untuk membantu ibu atau keluarga. Mengkhidmah orang tua semaksimal mungkin meski harus mengubur dulu impiannya. Tidak apa-apa. Nanti Allah ganti semua waktu dan impian itu.
@jndmmsyhd
Catatan Panjang untuk Seseorang Bernama Pusat Semesta
Sudah hampir tiga tahun yang lalu kali ya, kali pertama aku mulai mendeklarasikan bahwa perasaan yang sempat mati itu sudah kembali semenjak bertemu kamu. Sudah selama itu, perasaanku masih bertahan walau tidak bisa kupastikan kamu sudah tau atau tidak. Sudah selama itu, aku membiarkan untuk menahan semuanya sambil pelan-pelan meminta kepada-Nya supaya aku tidak benar-benar menaruh rasa padamu. Aku takut, kembali merasa kecewa seperti dulu-dulu. Semenjak pertama kali aku mulai merasa ada yang tidak beres pada perasaanku ini, disitulah aku mulai mengendalikan diri bagaimana bisa perasaan yang sudah pernah terlanjur rapuh, berantakan, bahkan sampai mati itu begitu mudah kembali untuk meraba cinta yang baru. Dari beberapa orang yang mencoba mendekat, tapi kepadamu lah berani-beraninya perasaanku memilih, bahkan tanpa perlu kamu mendekat kepadaku.
Jujur ya, aku nggak pernah mengeluh ketika kamu sekalipun nggak pernah mengajakku bergabung pada obrolan serumu seperti teman-temanku,—ah iya aku lupa bahkan kamu nggak pernah sekalipun melirikku apalagi mengajakku berkenalan. Miris, memang. Eh, maaf, aku baru saja mengeluh.
Mungkin seiring berjalannya waktu, kamu perlahan mulai mengenalku, atau bahkan menyadari ada yang aneh dari tatapanku disaat nggak sengaja mata kita bertemu. Ya! Disitulah letak perasaanku mulai terbaca olehmu. Aku sedikit khawatir saat itu, bagaimana kalau kamu nggak setuju akan hal itu. Maaf, aku telah lancang.
Berbagai musim telah berlalu, namun perasaanku belum kunjung berlalu. Bagaimana ini? Aku malah merasa, ada yang berbeda dari tatapanmu. Kamu mulai melirikku, berbasa-basi padaku, bahkan kamu sempat berbagi tawa padaku. Semenjak itu, aku bertanya-tanya, apakah perasaanku mulai terbalas? Tapi tetap saja dugaanku tak mudah untuk kutaklukan kebenarannya, karena kamu terlalu sulit untuk kutebak. Percayalah, diriku tetap berjaga-jaga supaya perasaan tersebut tak sampai berubah menjadi harap.
Tentang masa dimana banyak muda-mudi memulai kisah percintaan indah yang saling terbalas, tentu itu nggak benar-benar terjadi padaku. Nyatanya, aku masih tetap bergelut dengan perasaanku dan menerka-nerka semua tentangmu. Semuanya masih abu-abu.
Aku pernah memberanikan diri untuk bertanya pada kawanku, siapa perempuan beruntung yang sedang dekat denganmu saat itu. Tapi nihil, tak kutemui jawabannya. Karena lagi-lagi kamu terlalu menutup diri. Aku sampai berjanji pada diriku sendiri, supaya bisa nggak apa-apa kalau memang kamu tak punya perasaan yang sama padaku, bahkan memiliki dambaan hati yang lain. Karena aku telah berprinsip untuk tidak melanggar aturan-Nya dengan hubungan yang sia-sia. Aku hanya ingin menjaga perasaan ini dengan sebaik mungkin, walau akhirnya belum bisa kutebak akan seperti apa.
Puncaknya, aku ingat, sehabis euforia, dimana kita sama-sama menikmati kebahagiaan tak terlupakan, tepat semua orang mulai meninggalkan tempat berbentuk kotak itu, sebelum malam benar-benar menjadi pekat, kedua mataku dipaksa menyaksikan langsung mata sipit dan tawa bahagiamu sedang beriringan dengan senyum manis sosok yang akhirnya kutahu telah menjadi perempuan beruntung itu. Lucunya, bersamaan dengan tawa meledakmu saat itu, kamu sempat melirikku, bahkan sampai repot-repot untuk berbalik melihat keadaanku, mungkin? Bisa-bisanya disaat seperti itu, aku masih geer.
Kamu tau nggak sih reaksiku saat itu? Detak jantungku berdebar dengan cepat, ditambah ada sedikit nyeri dibagian yang tak kutau letaknya, bersamaan dengan napas yang terasa sesak. Ah, iya! Aku kembali merasa patah. Dipinggir jalan raya yang sedang ramai-ramainya, aku nggak tahan buat menahan air mata kepedihan itu. Untuk kali pertama, aku menangis karenamu. Masa bodoh harus menanggung malu, yang penting aku harus menyalurkan perasaan burukku saat itu. Aku menangis sesegukan. Beruntungnya, kawan-kawanku saat itu mau berbaik hati menenangkanku, bahkan mereka sempat menghiburku dengan lelucon, "Put kamu itu cantik, gorgeous, lugu, dia nggak pantas buat kamu. Udah biarin dia bersama penyesalannya nanti." Mendengar kata penyesalan itu, membuatku cemas, mana mungkin ia akan menyesal?
Bersamaan dengan itu kuteringat pada janjiku yang tertera pada paragraf enam tulisan ini, ternyata aku telah ingkar. Ternyata aku nggak bisa untuk merasa nggak apa-apa saat tau ternyata kamu hanya menjadi bagian dari cerita kesepianku.
Disaat aku menulis ini—dimana waktu tersebut sudah berlalu hampir satu tahun kemudian, sehabis melihat foto-foto terbarumu. Aku nggak pernah menyesal tentang perasaanku padamu, aku nggak pernah membencimu, aku nggak bereaksi seolah-olah aku marah kepadamu. Semuanya kulakukan karena aku berada di situasi yang telah banyak belajar dari peristiwa di masa lalu. Aku memetik banyak hikmah, dan aku belajar untuk lebih bijak saat harus kembali merasa patah.
Aku sempat bangga, saat banyak orang memuji kebaikanmu, murah senyummu, dan segala kesederhanaanmu. Kamu juga penyayang ibumu. Kamu nggak seperti lelaki lain yang mudah terbaca segala-galanya, kamu tetap menjadi kamu yang tertutup dan sulit kutebak tentang isi hatimu.
Sekarang aku dan kamu sedang sama-sama berjuang di jalan yang kita pilih masing-masing. Terakhir kali sekadar inginku untuk mencari tau tentang kabarmu melalui akun instagrammu walau kita nggak saling mengikuti. Kamu semakin terlihat dewasa dengan wibawa sosok perpanjangan tangan Tuhan untuk menolong banyak orang. Aku semakin banyak memangku pelajaran, dan membawa segunung pertanyaan tentangmu. Kalau bertemu lagi nanti, semoga ada kesempatan untuk kita saling bertegur sapa untuk pertama kalinya. Kalau boleh, aku ingin menuntaskan kepenasaranku selama ini kepadamu. Itu pun kalau semesta memberi kita kesempatan.
Kalau pun tidak pernah ada kesempatan itu, biarkan itu semua berlalu dalam ingatanku. Dan kupasrahkan segala pandanganmu tentangku selama ini. Kini, segenap hatiku sedang kurapikan ulang. Membereskan kepingan masa lalu, menata ruang-ruang baru, dan mengedepankan letak cinta-Nya. Berharap dan terus berpegangan pada limpahan kasih sayang-Nya.
Terima kasih, ya. Sudah membiarkanku untuk menyayangimu. Terima kasih juga sudah membiarkanku untuk menyebutmu Pusat Semesta. Setidaknya kamu tidak melarangku untuk melakukan itu. Kamu pernah menjadi bagian dari ceritaku yang indah. Walau berakhir tanpa ada akhirnya. Setidaknya aku bisa bersyukur, bahwa hatiku masih bisa meraba rasa kembali. Kamu banyak mengajariku, tanpa kamu sadari.
Doakan ya semoga sehabis ini aku tetap berpegang teguh dengan prinsipku. Terus bertumbuh dalam kebaikan dan ketaatan sambil menanti seseorang yang akan menawarkan cintanya dengan kehendak-Nya.
Sampai bertemu lagi di waktu yang tepat, Pusat Semesta.
Tertanda,
Putrialmirach.
Purwakarta, 5 April 2020
Menjadi dewasa mengajariku supaya dapat mensyukuri momen ketika berada di fase kestabilan mental yang bikin segalanya jadi terasa mudah untuk dijalani. Aku tau hal tersebut sifatnya sementara (if you know you know), maka kestabilan ini perlu benar-benar dinikmati atau mungkin dirayakan—secukupnya. Salah satunya dengan menulis ini karena nanti disaat kestabilan itu menurun, aku bisa membacanya lagi untuk sekadar mengingatkan bahwa perasaan buruk yang sedang dialami itu akan terlewati juga dan digantikan dengan perasaan baik seperti ketika sedang menulis tulisan ini.
-P
Dalam jarak yang sudah tak pernah dinanti lagi titik temunya, kini aku berdiri membersamai harapan baru akan banyak kebaikan lainnya dan memeluk rasa syukur atas dijauhkan pada hal yang menjadi ketidakbaikan.
Tak Lagi Berada Di Sana
Aku tak lagi berada di sana. Langkahku sudah berada pada titik mengerti bahwa kejadian di masa lalu memang semestinya terjadi seperti itu. Tak ada kekhawatiran apalagi penyesalan, yang ada hanyalah banyak pembelajaran.
Aku mengapresiasi atas kehadiran dan kebersamaan, tapi cukup sampai disitu, tak perlu lagi dilanjutkan. Saat ini, pelan-pelan mulai kupelajari sisi-sisi baru yang sebelumnya tak terbaca, lalu aku semakin meyakini atas apa yang telah menjadi keputusan. Syukurku selalu pada nikmat hidayah yang masih memberi kesempatan.
Ada kalanya kilasan memori mengingatkanku pada hari-hari yang penuh sukacita itu yang kubiarkan masuk pada ruang pikir. Aku menganggapnya hanya sebagai pengingat dan teman pengantar tidur, tak akan aku sangkal karena datangnya hanya sesekali.
Mungkin lain kali akan selalu ada waktu dimana aku akan kembali mengingat dan mengenang cerita-cerita lama. Tapi, bukan berarti aku tak bisa berpindah, aku memang senang mengenang hal-hal yang aku anggap pernah berharga dalam perjalanan ini.
Pada Akhirnya Aku Memilih untuk Mengikhlaskan
Aku pikir luka dalam hati akan sembuh begitu saja dituntun oleh waktu. Sudah hari keberapa ini? Sudah cukup lama kukira, sudah terasa banyak perubahan yang terjadi pada masing-masing diri. Saat aku menuliskan ini, aku tersadarkan bahwa hatiku belum sepenuhnya sembuh seperti yang aku duga. Entahlah, bagian mana yang membuatku masih di sini menggenggam luka yang seharusnya aku lepas sejak lama.
Sesekali momen-momen yang aku benci bermunculan dalam kepala, seperti sedang mengingatkan kembali itu semua, yang lucunya ketika aku mengingatnya ternyata masih ada perasaan nyeri dalam hati sambil merutuki kesalahan diri.
Kemudian aku tersadar bahwa tak semestinya aku terus menetap di sini. Di tempat yang pernah aku tetapkan sebagai zona nyaman. Saat itu, aku berpikir tidak masalah jika aku sering kemari karena aku suka, aku tak ingin meninggalkannya. Tapi, sekarang aku berubah pikiran. Aku ingin beranjak, berpindah, bahkan meniadakan tempat ini. Tak ada lagi keantusiasan, tak ada lagi harapan, tak ada lagi hal yang bisa dijadikan alasan. Semuanya pelan-pelan sudah terkubur oleh kenyataan.
Mungkin kemarin-kemarin aku lupa bahwa manusia ialah makhluk fluktuatif yang akan selalu bertemu perubahan. Hal yang kukira bisa bertahan lama, nyatanya tak ada yang benar-benar bertahan selain pelajaran dan kenangan.
Aku hanya ingin melanjutkan kehidupan ini dengan perasaan yang lebih arif layaknya manusia lain yang sekarang lakukan. Aku hanya ingin tak lagi terbayang-bayang hal yang masih menimbulkan kesakitan. Aku hanya ingin kembali pada keharusan-keharusan seperti sebelumnya. Lalu, aku tersadarkan jika hal pertama yang harus aku lakukan ialah mengikhlaskan semuanya.
Aku sudah dapat menerima kenyataan ini, tapi sepertinya mengikhlaskan masih perkara yang terlewatkan.
Lantas, dimana aku harus membeli rasa ikhlas itu?
Sebuah pertanyaan yang sebenarnya sudah kutau jawabannya. Tak ada yang menyediakan keikhlasan selain meluaskan lagi kelapangan hati dan mendewasakan pemahaman diri.
Pada akhirnya aku memilih untuk mengikhlaskan dan memaafkan semuanya, supaya perlahan aku mampu kembali memaknai serta melanjutkan kehidupan tanpa ada luka yang tersisa.
Dan kini tempat itu sudah bukan lagi yang akan aku jadikan tempat kembali. Aku rapikan dan kunci rapat-rapat pintunya sebelum beranjak pergi.
Masa sudah semakin jauh berlalu. Memori semakin berdebu dimakan waktu. Hari-hari terus melangkah maju. Datang dan pergi membersamai manusia baru. Namun, sama-sama kembali pada rumah kita dahulu. Berlari hendak menjarak, lagi-lagi bertemu jalan buntu. Entah sampai kapan seperti itu, pertanyaan yang masih belum menemukan titik temu.
Mungkin bukan aku yang bisa menjadi sosok paling mengerti dirimu.
Mungkin bukan aku yang bisa menjadi rumah terbaik untuk waktu pulangmu.
Memang bukan aku.
Di sini pun begitu. Semua hal tentang harapan dan masa depan yang kucita-citakan ternyata itu semua bukan kamu.
P