(5)
No matter where you're from, your dreams are valid.
— Lupita Nyong'o
Di suatu malam yang sepi, perempuan itu menemukan tulisanmu yang sangat panjang, sebuah tulisan tentang mengenang masa depan. Sebuah tulisan yang bertengger di laman blog birumu.
Kau tahu? Perempuan itu terkejut karena apa-apa yang ada di sana menggambarkan bagaimana karakter seseorang yang ia inginkan! Cara berpikirnya, rutinitasnya, lingkungannya, kehidupan masa depannya! Walau semua itu hanya rentetan tulisan soal mimpi, tetapi perempuan itu kagum dengan mimpi-mimpi yang kau tuliskan.
Perempuan itu memang tidak banyak tahu tentangmu. Sebaliknya, kaulah yang terlalu banyak tahu tentangnya. Kebodohannya adalah membocorkan banyak rahasia padamu yang semoga setelahnya kau lupa karena ia malu.
Tulisanmu, tentang mengenang masa depan, nyaris keseluruhannya persis sebagaimana detail impian yang diinginkannya. Usai meraih sukses di ibu kota, lalu lekas membangun rumah kecil dengan pekarangan luas di desa. Dan hal-hal detailnya yang tak ingin perempuan itu bicarakan di sini.
Perempuan itu tidak tahu dimana kau mencontek rencana masa depan itu? dimana?! Apakah kau pernah berkunjung ke pikirannya? Ah, perempuan itu tidak mengerti.
“Apa maksudmu menulis semua itu jika hanya aku saja yang mungkin membacanya?” Batin perempuan itu.
Iya, benar. Barangkali perempuan itu menjadi satu-satunya temanmu yang tahu tentang keberadaan tulisan-tulisan itu. Sebab, perempuan itulah yang menyarankanmu untuk membuat sebuah rumah dimana tulisanmu bisa ditempatkan tanpa takut apa kata orang dan kau bisa membaca juga tulisan-tulisan jujur dari orang lainnya yang tak takut akan penghakimanmu sebagai pembacanya.
Perempuan itu masih membaca tulisanmu, ia berkali-kali terisak. Sungguh. Seraya membatin, siapa perempuan beruntung itu yang hadir di kehidupan masa depanmu?
Kau tidak pernah bercerita soal perempuan yang menarik hatimu, tetapi bukan berarti ia tidak ada. Yang si perempuan itu ingat bahwa kau pernah bercerita ada seorang perempuan yang pernah menyukaimu tetapi kau tidak pernah menyadari itu karena kau terlalu fokus dengan kehidupanmu, ambisimu, teman-temanmu hingga suatu hari kau mendengar kabar perempuan tersebut akhirnya menikah.
“Kini aku tahu bahwa kau bukanlah sekedar pembaca, kau lebih dari itu. Kau tak akan tenggelam dalam sejarah, setidaknya sejarah hidupmu sendiri, sebab kau menulis!”
Perempuan itu berpikir suatu hari nanti kalian bisa membuat buku bersama, tak harus menjadi sepasang, karena ia pikir halusinasinya terlalu jauh. Cukup ada sebagai seorang teman yang utuh.







