Hai yang disana apa kabar? aku disini sehat, baik-baik saja, bahagia dan sedang dipenuhi segala macam apa-apa. Aku merindukan Ibu,Bapak dan mungkin juga kamu. Tapi aku lebih merindukan kebebasan dan kebisingan, merindukan macetnya jalanan, pekatnya asap kendaraan, lalu lalang bis kota. Disini Tuhan menyuguhkan keindahan yang tak pernah dilihat sebelumnya, jingganya langit ketika sore tiba, hijaunya pepohonan, teriknya matahari dan sejukanya udara pagi. Waktu berjalan pun begitu sangat cepat hingga aku lupa menulis surat.
Bagaimana dengan segala aktivitas yang sedang kau jalani? membahagiakan dan membuat mu bebas? aku turut bahagia jika itu yang terjadi. Hal-hal sulit yang dilalui akhirnya telah usai dan berujung bahagia. Tapi ingat bukankah cobaan sesungguhnya itu adalah ketika kita bahagia? Semoga kebahagiaan yang telah didapatkan tidak menjadikan mu lupa pada Tuhan. Tak mengapa kamu lupa dengan siapa berbagi suka dan duka, manusia memang tempatnya lupa.
Sengaja aku baru menulis surat setelah aku pergi meninggalkan jawa 5 bulan ini. Disini aku mendapat banyak pelajaran tentang hidup, tentang kesederhaan, semangat dan kemandirian. Seolah-olah jawa menutup mata hati dan Kalimantan menyadarkan ku. Memang sebelum pergi menginjakkan kaki di tanah Borneo ini, Tuhan menguji ku, menjatuhkan ku berkali-kali dan kini aku mengerti arti dibalik itu semua. Maha Baiknya Tuhan yang memberikan cara dengan bijak untuk menyadarkan umat-Nya.
Pertanyaan-pertanyaan pun terjawab sudah, alasan pergi bukan karena orang tua tapi karena bosan lalu ada hal baru yang berhasil membuat mata terpana. Memang yang selalu ada mengalahkan segalanya, dan rasa itu tercipta karena sering berjumpa, bertukar kata dan terbiasa bersama. Apakah kamu menyadari bahwa hal yang langka itu indah?
Eksistensi ketemu yang kurang ditambah dengan kebosanan memang menimbulkan rasa untuk mengakhiri, menimbulkan emosi yang tak terkendali lalu ego merasuki. Ketika hati berbunga-bunga bahagia (jatuh cinta) maka sel-sel bahagia dalam tubuh menyelimuti, kemudian tak peduli dengan hal sekitar, yang ada hanya hal indah tentang cinta dan hanya ingin berdua. Begitu pun ketika hati sedih (patah hati) maka sel-sel dalam tubuh hanya diselimuti rasa benci dan meluapkan segala emosi tanpa mengingat hal indah yang pernah terjadi.
Bukankah hubungan langka yang di jalankan dengan cara unik dan menarik itu lebih indah? Bukan lagi eksistensi dalam pertemuan, bukan lagi hal-hal romantis dalam sehari-hari. Tapi lebih ke menikmati dan menjaga hubungan yang ada, berdamai pada jarak, berteman dengan layar gadget dan melebur kebosanan yang melanda. Bukankah kebosanan hanya krikil kecil dalam kehidupan yang mudah untuk dilewati? Jika kita bisa berdamai dengan jarak kenapa tidak bisa melebur kebosanan yang ada? Jika kita bisa mengendalikan diri maka bosan pun akan terobati.
Akan ada perjalanan panjang yang harus dihadapi dan aku hanya perlu sosok yang kuat dan pantang menyerah, sosok yang bukan hanya bisa mengendalikan dan menenangkan orang lain tapi juga bisa mengendalikan dan menenangkan dirinya sendiri. Karena kita sudah bukan lagi waktunya bermain rasa untuk cinta tapi lebih mengedepankan logika untuk cinta dimasa depan.
Maaf aku memang bukan wanita yang diinginkan, tapi kelak aku akan menjadi wanita yang kamu cari. Wanita yang selalu menyelipkan nama mu didalam doanya, wanita yang tetap ada saat dirimu terjatuh hingga akhirnya bisa melihat mu bangkit kembali, wanita yang berusaha membantu mu dibalik layar dan kamu tak perlu tau itu, yang tak pernah lelah dan bosan bangun disepertiga malam hanya untuk mendoakan mu. Bukankah Puncak cinta terdalam itu mendoakan secara diam-diam? Sengaja aku tak memberi tahu mu karena aku percaya Tuhan akan menyampaikan doa-doa ku untuk mu. Mungkin bukan saat ini tapi nanti.
Selamat Malam, selamat berdamai dengan hati dan kehidupan. Selamat tanggal 18 :)
Dan kelak Tuhanmu pasti memberikan karunia-Nya kepadamu, lalu (hati) kamu menjadi puas. (Ad-dhuha : 5)