Seandainya Hari Ini Aku Menjadi Seorang Ibu
Seandainya hari ini aku menjadi seorang ibu
Aku ingin merasakan lahiran
Aku ingin melihat orang lahiran
Aku ingin menjadi ibu selamanya
Aku ingin banyak bercanda gurau bersama anakku ketika dia masih bayiAku ingin banyak ngobrol berdua tentang masa depan anakku bersama anakku.
Aku ingin makan bersama anakku walau anakku sudah sibuk dengan kerjaannya.
Aku ingin membuka buka album poto yang telah usang berdua bersama anakku
Dan aku ingin menangis melihat anakku jatuh ke tangan suami atau istrinya kelak
Aku ingin menjadi ibu yang tentunya
berbakti serta bermanfaat untuk orang yang melindungi dan kulindungi.
Aku ingin hebat serta lembut dalam bersikap
dan banyak berkreasi di dapur
juga menenangkan sebagai pelipur.
Seandainya saya jadi seorang ibu
aku ingin punya 3 anak.
setiap hari akan aku kenakan pakaian yang sama untuk mereka
aku ingin melihat tumbuh kembang mereka
aku akan memberi susu setiap hari biar gak pendek seperti bapaknya (bayangin bapaknya ilham)
Seandainya saya jadi seorang ibu
Saya tidak akan lagi mendidik agama kepada mereka, karena saya yakin meskipun dari saya agama akan turun ke anak saya. Saya ingin anak saya mencari tahu sendiri apa arti dari agama itu sendiri
SEANDAINYA HARI INI AKU MENJADI SEORANG IBU
akan kuajarkan pada anakku untuk selalu mendahulukan terima kasih meski hati tak terima. Aku ingin selalu bisa mengatakan terima kasih untuk anakku, yang menerima ku apa adanya sebagai ibunya. Yang mengerti kondisiku seperti apapun itu. Bahkan di suatu kondisi yang justru menyakitinya sekalipun. Akan kujelaskan padanya bahwa malaikatnya tak sepenuhnya sempurna seperti yang dia bayangkan atau inginkan.
Malaikatnya hanya lah seorang manusia biasa dengan penjelmaan sangat baik, yang terkadang juga salah dan melakukan khilaf yang disengaja maupun tidak. Pun terkadang dapet menyakitinya atas nama ‘kebaikannya’. Barangkali dia akan ku buat menangis pula. Lalu yang kulakukan bukan meminta maaf melainkan mengucapkan rasa terima kasihku. Akan kulakukan tanpa jemu, terus menerus, lagi dan lagi hingga pada akhirnya dia siap dengan pemahaman bahwa yang ingin diajarkan ibunya Adlh tentang ‘syukur’. Merasa syukur untuk setiap hal yang datang padanya. Tentang hal baik maupun sebaliknya, tentang Bahagia, pun sebaliknya.
Seandainya aku jadi seorang Ibu
Aku ingin merasakan lelahnya jadi seorang Ibu yang harus bekerja dan mengurus keluarga. Ingin merasakan apa yang Ia rasakan saat anak-anaknya membantahnya, memarahi nya atau kadang menatap tak suka kepadanya. Aku ingin merasakan menjadi seseorang yang katanya di sayang dan di cinta tapi terkadang di lupakan oleh anak-anaknya barang sebentar.
Saat aku menjadi ibu, ku tak berharap anakku tumbuh seperti Uwais Al Qarni yang menggendong Ibunya dari Yaman ke Mekkah untuk berhaji. Namun, ku kan mendidiknya menjadi insan yang amanah tuk bekalnya menuju jannah.
Seandainya aku menjadi ibu
Aku ingin memiliki anak. Lalu melihat anak-anakku bertumbuh.
Aku ingin mereka bisa berbicara tentang keinginan-keinginannya, tentang pendapatnya, dan tentang harapannya.
Aku ingin mereka bisa bebas mengungkapkan apa yang ada dihati mereka.
Aku ingin mereka terbang setinggi mungkin kemanapun arah mereka, tidak hanya karna dorongan ataupun hembus angin. Melainkan karna keinginan mereka untuk melihat langit dan dunia.
Aku ingin melihat mereka berdiri tegak menapaki kehidupan mereka sendiri.
Aku ingin menjadi tempat kamu pulang dari segala penat diluar rumah. Lalu kamu menemukan tawamu.
Aku ingin menjadi buku bagi mereka. Buku yang ditulis setiap saat. Buku yang tidak hanya mendengar mereka bercerita, tapi juga menjawab setiap keluhnya.
Aku ingin mereka menemukan teman pada diriku, bukan musuh bahkan orang asing.
SEANDAINYA HARI INI AKU TIDAK MENJADI SEORANG IBU.
Ah! Tidak. Bahkan membayangkannya saja aku tidak bisa. Karena hari ini, dalam tiap detik yang sedang kunikmati ada seorang malaikat mungil berpipi gembil yang memanggilku ‘Bunda’. Sinar di matanya membawa bintang-bintang di angkasa pindah seketika menuju hatiku. Pelukan kecilnya adalah semesta yang kutangkup dengan kedua lenganku.
Bahkan hari ini, malaikat mungil itu sudah mahir bercerita, tentang kereta api, atau tentang bebek-bebek di kali. Dan demi celoteh riang yang kadang tak berkesudahan itu, aku rela menukar semua emas permata yang kupunya, kalau masih kurang juga, masih bisa kuminta suamiku belikan lagi.
Sedemikian aku bersyukur karena telah diberi gelar ibu, maka telah kutemukan cara bagaimana menjadikan diri lebih berarti.
Seandainya Aku Menjadi Seorang Ibu
Aku ingin menjadi ibu yang mampu menjadi sosok sahabat, teman bermain, guru dan segalanya bagi anak-anakku. Orang pertama yang akan mengajarkannya ini dan itu. Memasak makanan yang sehat dan bergizi setiap hari. Menjadi Madrasah pertama mereka.
Aku ingin menjadi ibu dimana ketika mereka mengingat pulang maka mereka mengingat pangkuanku sebagai tempat berbaringnya.
Aku tak muluk-muluk untuk menjadi manusia super layaknya wonderwoman.
Aku cukup jadi ibu,
Yang setiap pagi membangunkan anaknya,
Yang bercerita sebelum tidur,
Yang manggil2 kalo anaknya abis ashar belum mandi,
Yang menguatkan kala sedih,
Yang menentramkan ketika takut.
Teman-teman KITA Jateng sudah mengungkapkan jika hari ini menjadi seorang Ibu. Kisah duka yang tertutup tawa dan bahagia yang berakhir ceria memang yang tergambar ketika harus menjadi seorang Ibu. Dan, hari ini, bagaimana kalian jika harus menjadi seorang Ibu?
cc: @tumbloggerkita @kitajabodetabek @kitakalimantan @kitajatim @kitasulawesi @kitasumatera