Mencintaimu; barangkali seperti laut mencintai pantai, tahu kapan harus pasang dan bila harus surut dan tenang.
seen from Ukraine

seen from United States
seen from Germany
seen from United States
seen from United States

seen from Serbia
seen from Israel
seen from United States
seen from China
seen from China

seen from Malaysia
seen from China
seen from Israel

seen from Italy
seen from United States
seen from France
seen from China
seen from United States
seen from China

seen from Israel
Mencintaimu; barangkali seperti laut mencintai pantai, tahu kapan harus pasang dan bila harus surut dan tenang.
Sekiranya kau tak pernah kembali, aku takkan menyesal pernah menunggu. Sebab sebelum ini, aku pernah melalui musim penantian lain yang lebih panjang dan sepi.
Kau tak pernah menjanjikan apa-apa, sudah selayaknya aku tak kehilangan pula.
Menunggumu, aku hanya mau sampai kukira cukup waktu.
Bukan Hujan Bulan Juni
Aku tidak setabah hujan bulan Juni yang mampu merahasiakan rintik rindu kepada pohon berbunga itu sebab rinduku ialah gemuruh ingin lekas dikabarkan padamu mengetuk-ngetuk jendela hatimu
Aku tak sebijak hujan bulan Juni menghapus jejak-jejak ragu di jalan itu sebab aku kerap terjatuh menujumu tergesa menafsir isyarat yang kukira cinta
Dan aku tak searif hujan bulan Juni membiarkan yang tak terucapkan diserap akar pohon bunga itu sebab bila kucinta, doaku paling riuh menyebut namamu di hadapan-Nya.
Aku memang bukan Hujan Bulan Juni, tapi bolehkah kuguyuri Junimu dengan rindu?
Surat Rindu
Hai,
Pagi ini Jakarta hujan lebih deras dari hari sebelumnya. Bajuku sampai basah, tak sampai kuyup tapi cukup membuat kusut. Ah, aku rindu.
“waktu tiada pernah bicara tentang, pertemuan Hingga musim selimuti hatinya tak tertahankan dari kepekatan rindu, igauan mesra yang lalu”
-Pagi tadi-Moksa
Lalu jika sudah rindu bagaimana cara meredakannya?
Apakah pertemuan bisa? Semoga.
Surat #802
Memungut detik demi detik, merangkainya seperti bunga Sampai pada suatu hari Kita lupa untuk apa
- Sapardi Djoko Damono
Kamu tau aku tidak suka berlari, tapi kamu mengajakku berlari. Lomba estafet katamu kala itu, dimulai dari aku di garis start berlari menggenggam tongkat hingga ujung lintasan, lalu mengedarkannya padamu dan akan kau lanjutkan hingga garis finish. Menyelesaikannya bersama-sama. Waktu itu banyak keraguan, aku tidak pintar berlari. Membayangkannya saja aku malas. Pikirku kenapa aku harus ikut berlari, kenapa tidak kamu saja yang berlari, aku cukup menontonmu di pinggir lintasan sembari menyemangatimu dan membawakan sebotol air minum untukmu. Ah, tapi lomba estafet tidak boleh diikuti seorang diri ya?
Sekarang, setelah berapa waktu berlalu sudah aku bulatkan tekadku. Aku akan mengikuti lomba estafet itu bersamamu. Kita akan bekerja sama hingga garis finish nanti. Kali ini aku benar-benar akan keluar dari zonaku, berlari bersamamu. Hari itu sengaja aku memakai kaos berwarna senada denganmu, menguncir rambutku tinggi sembari mengecangkan pita dikepala aku berdiri di garis start, sekali-kali mengecek apakah tali sepatuku sudah cukup kencang atau belum. Sebelum menuju pergantian lintasan, kau menggenggam tanganku seolah menyalurkan energy positif dan meyakinkan bahwa aku pasti bisa menyelesaiakn bagianku dan menyalurkan tongkat estafet padamu di ujung lintasan itu. Kau tersenyum, mengelus puncak kepalaku. Baru aku tahu, kau memiliki sepasang mata yang teduh.
Aba-aba dari wasit mulai terdengar untuk bersiap, aku pun mulai mengambil posisi start jongkok memandang lurus kedepan sambil menggengam erat tongkat estafet. Peluit dibunyikan, aku mulai berlari sekencang yang aku bisa. Samar – samar aku melihatmu diujung lintasanku, tersenyum dan memamerkan sepasang matamu yang teduh. Aku tersenyum. Kueratkan genggaman tongkatku, aku bisa batinku. Aku pasti sampai diujung lintasan itu, menyalurkan tongkat estafet dan aku percaya hingga di garis finish kamu akan menyelesaikannya.
Hampir di tiga perempat lintasan, aku tidak lagi melihatmu disana. Di ujung lintasanku. Aku mulai gelisah, menajamkan penglihatanku mungkin aku yang salah lihat. Tapi, penglihatanku tidak salah. Tidak ada siapapun disana, di ujung lintasanku. Tidak ada seorang pun yang menungguku untuk menyelesaikan lintasan terakhir hingga garis finish. Aku mulai memelankan lajuku, masih tetap berlari sembari mengedarkan pandanganku mencari keberadaanmu. Tapi nihil, hingga akhirnya tiba di garis finish. Aku menyelesaikan lomba estafet itu sendiri.
Jika pada akhirnya aku menyelesaikan lintasan ini sendiri, lantas apa gunanya usahamu, usaha ku, usaha kita? Atau aku tidak sadar jika lintasan kita berbeda?
Surat untuk biru #2
Dear biru, kita bertemu lagi hari ini. Bagaimana setelah membaca surat pertama yang aku kirimkan kemarin? Lucu ya, aku hanya menerka rahasia apa yang terungkap, jika aku bundamu, mungkin saat ini kita akan sedang asik tertawa bersama ayahmu di ruang keluarga. Sialnya, aku tidak mau membayangkan kemungkinan lainnya. Apakah kamu sudah mulai merasakan jatuh cinta? Biru, aku ingin bercerita sedikit yaaaa. Ayahmu adalah seorang pria yang sering mendapatkan label “terlalu baik”. Tak salah memang mendapat julukan seperti itu, artinya ayahmu tidak pernah menyakiti wanita, ya tentu karena dia yang sering disakiti, aku pun salah satu daftar yang pernah menyakitinya. Setelah aku menyakiti ayahmu, aku menyadari bahwa aku benar-benar mencintainya. Bagaimana aku begitu merasa beruntung karena memiliki seseorang yang seperti ayahmu? Dia istimewa, kesabarannya, sikap jujurnya, bahkan cara dia menikmati setiap kebahagiaan. Aku berharap kamu juga memiliki beberapa hal yang istimewa seperti itu.
Sudah dulu ya biru, kamu harus mandi, aku yakin kamu belum mandi ketika membaca ini nanti. Sama seperti kelakuan ayahmu.
Sampai jumpa lagi ya.
Salam peluk,
Wanita penyuka angka 26
Surat untuk biru #1
Jika kamu membaca ini, mungkin kamu sudah berusia 15 tahun, atau setidaknya telah bisa membaca dengan lancar.
Surat ini ditulis oleh tangan seorang wanita yang pada detik ini begitu mencintai ayahmu, sungguh aku tak tahu apakah sosok yang kamu panggil dengan sebutan bunda itu adalah aku atau bukan.
Semoga saja, bundamu itu adalah aku yang menulis surat ini.
Biru, aku ingin bercerita sedikit perihal ayahmu dimasa mudanya. Ayahmu adalah seorang pria yang dewasa dengan sendirinya, dia tak mempunyai panutan, namun dia begitu bertanggung jawab, itu yang membuat aku begitu menyayanginya. Dia tidak pernah berpikir begitu rumit, cara berpikirnya begitu sederhana, itulah yang membuat aku seringkali merasa bingung dengan tindakannya.
Biru, ayahmu tidak rupawan, namun kebaikan hatinya jauh lebih membuatku jatuh cinta. Aku rasa, dia menjadi seorang ayah yang galak, dia menyeramkan jika marah hehe
Biru, bisa tidak setelah kamu membaca surat ini, beritahu ayahmu, bahwa kamu sangat beruntung memiliki ayah seperti dia.
Sampai jumpa pada surat berikutnya.
Peluk dan cium
Wanita yang mencintai senja dan biru