Rindu yang Tersimpan dalam Setiap Rasa
Aku suka makan.
Hampir semua makanan bagiku terasa enak.
Namun ada beberapa makanan yang tak hanya memanjakan selera…
melainkan juga mengetuk ingatan
membangunkan kenangan yang kusimpan rapat di hati.
Makanan yang setiap kali kudengar namanya,
atau kurasakan kembali rasanya,
hatiku langsung kembali pada hari pertama aku mencicipinya.
Aku teringat pada suasananya, pada wajah orang-orangnya,
dan pada perasaan hangat yang menyelimuti hari-hariku.
Seolah aku bisa pulang hanya dengan satu gigitan.
Aku rindu tempe kecap buatan Appa,
yang membuatku ingat punggungnya yang sibuk di dapur
menjadi bentuk cinta yang tak banyak bicara.
Aku rindu sambal tempe dan sayur bening buatan Cece,
yang mengajak ingatanku kembali
pada hari-hari ketika kami hanya berdua
menjaga rumah peninggalan Mamah,
seolah menjaga kenangan yang tersisa di dalamnya.
Aku rindu nasi goreng kunyit buatan Aa,
yang mengingatkanku bagaimana rasanya kehangatan bersaudara
Kami berempat, saling memenuhi ruang dan saling memenuhi hati.
Aku rindu mie nyemek buatan Teh Indah,
yang mengingatkanku pada perhatian lembutnya saat aku sakit.
Ia sibuk mengurus semuanya,
sementara aku hanya bisa berbaring diam
tapi tetap merasa begitu dijaga.
Aku rindu ayam dadu lada hitam buatan Teteh Ipar,
yang menemaniku pada masa penuh pelajaran
tentang cinta, tentang pernikahan, tentang kedewasaan,
yang pelan-pelan ia ajarkan padaku.
Aku rindu sambal teri ijo dan bakso Ibu Teh Hani,
yang menghangatkanku pada Ramadan-Ramadan bersama,
ketika sahur,
dan ketika berbuka
Aku rindu bubur ijo dan kolak Ummi Hindun,
yang membawaku kembali ke kamar asma
ke tawa, ke ibadah yang ditemani,
ke malam-malam belajar bersama yang begitu hangat.
Aku rindu buko pandan ustazah,
yang mengantarkanku pada masa awal di pondok
hari-hari penuh hafalan, murojaah, dan puasa senin-kamis
masa ketika aku begitu takut hafalanku terbang
hanya karena lagu dan layar film.
Aku rindu soto di persimpangan jalan kota Tangerang,
yang tersaji bersama cerita-cerita awal pernikahan Aa
Di pagi yang cerah, saat udara masih segar,
yang membuatku ikut bahagia.
Aku rindu serabi di perempatan Jaha,
tempat kami berlima duduk bersama
aku, Aa, Cece, Teteh, dan Mang Rajud
dengan jarak hati yang begitu dekat
meski dunia kini terasa lebih luas.
Aku rindu es kelapa muda di rumah Abbah,
yang kupuja saat masih kecil
ketika hari raya masih terasa meriah,
ketika keluarga masih lengkap dalam dekapan yang utuh,
ketika satu gelas es kelapa saja
sudah cukup untuk melengkapi rasa syukur.
Dan terakhir…
aku rindu nasi goreng jengkol buatan Emi,
Yang tak pernah gagal mengumpulkan kami dalam satu nampan, satu cerita, satu keluarga yang utuh.
Hidangan yang tak akan pernah bisa aku cicipi lagi,
tapi menjadi menu yang paling aku rindukan.
Rasanya…
aku rindu semuanya.
Rindu yang membawaku kembali
pada kehangatan yang pernah begitu dekat,
pada tawa yang pernah begitu mudah datang,
pada keluarga yang pernah tinggal dalam satu atap
dengan cinta yang tak pernah benar-benar pergi.
Karena di setiap makanan yang kurindukan
ada rumah yang dulu pernah kumiliki.
Ada cinta yang masih menetap…
di dalam hati yang selalu pulang pada kenangan.













