dulu pas awal aku memilih kerja sampingan di matham, ada seseorang yang berkata "kamu gak malu kerja disini? gak takut di bully atau diomongin dari dibelakang." aku jawab dengan santai, "nggak, ngapain malu." lagian di lingkungan kampus yang sudah mengenal sunnah ini emangnya masih ada yang suka membully?
saat itu pikiranku hanya ingin mendapatkan penghasilan tambahan, agar kebutuhan dan keinginanku tidak terlalu memberatkan kakak-kakakku. aku belajar hidup sederhana dan menghemat pengeluaran, bahkan aku selalu ikut war pelelangan. "kalo ada harga yang rendah tapi kualitasnya masih bagus, kenapa nggak?." padahal dulu aku sangat anti dengan barang bekas (kecuali punya kakakku).
saat orang-orang disini menunjukkan strata sosialnya, obrolan yang dibahas tentang pekerjaan orang tua mereka. bos tambang, sawit, dosen, rektor, anak mudir, guru PNS, dokter, pengusaha dsbnya. tentang uang bulanan mereka yang jutaan itu. aku tak pernah ambil pusing, tapi dalam pikiranku ada satu pertanyaan, "anak asrama tuh emang gini ya dalam berteman dan mencari teman?" karena seingatku dulu di sekolah, obrolanku dan temanku tak pernah membahas tentang "pekerjaan orangtua." bahkan kami baru tau pekerjaan mereka kalo kami mampir ke rumahnya, atau karena guru kami bertanya dan ketika kami diminta mengisi berkas. "oh rumahnya gede ya, ternyata dia anak pengusaha." "oh dia anak kepala sekolah, orangtuanya dua²nya kepala sekolah + PNS" "oh orangtuanya bos dan punya pabrik sendiri." "wow gaji ortunya tiap bulan lebih dari 30juta." dsbnya
tapi di asrama berbeda, pertanyaan itu keluar sendiri "orangtua kamu kerja apa?" "uang bulanan kamu berapa?" atau "orangtuaku kan kerja ini ya, terus bla bla bla". Dan sekarang aku paham maksud dari pertanyaan "kamu gak malu? gak takut dibully dan diomongin?" aku mengerti kenapa orang berlomba-lomba menunjukkan strata sosialnya:
1. Agar tidak dipandang rendah
2. Agar punya teman dan tidak sendirian
3. Agar tidak dianggap pencuri jika ada kasus kehilangan












