im so socially awkward i cant even properly say ‘Happy Birthday’ to my friends...(im such a bad friend T.T)
so
Happy Birthday guys.
I hope my blessings will reach them.
seen from United States

seen from T1

seen from Philippines
seen from Netherlands
seen from Brazil

seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from United States

seen from United States
seen from United States
seen from Brazil
seen from United States
seen from Australia
seen from Brazil
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from Canada
im so socially awkward i cant even properly say ‘Happy Birthday’ to my friends...(im such a bad friend T.T)
so
Happy Birthday guys.
I hope my blessings will reach them.
A reconsideration of literature in history
Literature has often been sidelined in the consideration of local historiography. But perhaps more credit ought to be given to literary fiction as what the French historian Pierre Nora calls the sites of memory in aiding the production of historical knowledge where there is a dearth in the conventionally-accepted historical documents as well as academic work produced.
Literature is oft-seen to deal with the fiction, the imaginary; whereas history rests in the real, the proven. While there are many instances of literary fiction that plunges itself too deep into the imaginary, literary realists are wont to accept such a function of literature. As the French writer Guy de Maupassant wrote in his essay, the realistic novelist seeks “not to tell a story, to amuse us or to appeal to our feelings, but to compel us to reflect, and to understand the darker and deeper meaning of events.”
di tepi katil tuhan
“Tancapkan panji hijau di dada! Kita berdepan arus tantangan deru-menderu dari luar: susup-sasap madat Barat mengkhayalkan kita lena leka.” Kata kau juga, “Tuhan sedang mati direjam ateis-sekular absen moral atau yang tersasar hilang arah. Kewajiban kita membelaNya. Kita - kaum Terpilih.
“Ada cara pastikan Tuhan hidup lebih abadi dari Abadi: kejernihan agama perlu dipantau. kalau dicemar harus disemah tapi pasti dengan halal cuma. Dicapai dengan hukum hudud - hukum sekular tiada adilnya. Kembangkan kapitalisme Islam - kalau timpang-menindas tak mengapa. Yang penting, nampak Islamnya.
Usah gusar, saudara, kita humanis - tapi pada saudara kita saja. Saudara lain urusan mereka derita duka terlantar ditindas apa sahaja asal kepentingan kita bersaudara terjaga.”
Pasti Tuhan terus hidup bangga melihat kita begitu setia tunduk melukut pada kataNya: agamaku agamaku, dan agamamu agamamu, mazhabku mazhabku, dan mazhabmu mazhabmu (“Tapi ingat! Hanya mazhab kita yang benar!”)
Pasti Tuhan akan bertambah hidup melihat kita begitu tekun solat puasa zakat syahadat untuk diri kita sendiri dan hanya untuk kita sendiri. Kesalehan sosial buta agama untuk apa? Urusan ibadah kubur jawablah sendiri.
Kita sibuk sorak-meriah gerakan sini sana untuk terus hidupkan Tuhan. Tapi apa mungkin sebenarnya kita menggenggam mencekik Tuhan yang sedang nazak dan kita pembunuh setiaNya?
Apa benar kita generasi apatetik?
Dalam perbicaraan mengenai hubungan sosial dalam komunitas, khususnya dari lensa anak-anak muda, adjektif yang sering ditempelkan kepada kita ialah apatetik. Kita diperlihatkan sebagai generasi muda yang berfilsafat YOLO, yang lebih keakuan dan memandang enteng persoalan-persoalan besar yang berlegar di luar sana. Apa yang tidak mempunyai konsekwensi terus ke atas kehidupan kita tidak dipedulikan. Ada di kalangan kita yang akur akan perihal ini, tapi ada yang kurang bersetuju dengan “sweeping statement” sedemikian. Saya termasuk dalam golongan yang kedua, maka saya terpanggil untuk menulis rencana ini untuk cuba memperbetulkan persepsi.
Antipati adalah antitesis empati: ketiadaan perasaan mahupun sikap tidak acuh. Pendek kata, kalau benar kita generasi apatetik, maka kepedulian kita untuk kejadian-kejadian dalam dunia hampir nol. Mungkin kita tahu apa yang terjadi, tapi kepedulian kita muflis. Apakah benar generasi kita begitu? Ataukah ketidakpedulian ini sebenarnya bertunjang daripada suatu fenomena yang semakin ketara dalam zaman saturasi maklumat i.e. kelelahan dengan kerenah dunia yang saban hari sama sahaja kisahnya: pengeboman, pembunuhan, perampokan, penindasan? Kelelahan boleh membawa kepada sentimen apatis, tapi kedua-dua sentimen ini tidak seharusnya disamaertikan.
Quiz Papazola..
Quiz dari Papazola (boboiboy)
Hidayah: Binatang apa yang paling besar kat dunia ni selain dari ikan paus?
Semua: Raksasa? Mak Gajah? Atuk Gajah?
Hidayah: Ikan paus goreng tepung.
-
Hidayah: Ok, benda apa yang paling besar kat dunia ni?
Semua: Almari? Bangunan?
Hidayah: Salah. Jawapannya kuali yang boleh goreng ikan paus!
-
Hidayah: Orang apa yang paling kuat?
Semua: Badang?
Syafiqah: Randy Orton!!
Hidayah: Hahaha salah, orang yang boleh goreng ikan paus tu kat kuali!
Semua: HAHAHAHAHAHA!
Papazola gila.
Words Play
Amirah: Huruf A. Binatang. Sama, tolak markah.
Tengku: Angsa.
Rusydiah: Ayam.
Syafiqah: Ayam jantan.
Zulaikha: ...ayam.
Rusydiah: Kau buat la BETINA!
"kenapa dia hilang?! kenapa dia tak suka aku?"
amirah dengan sedihnya pusing belakang cakap kat syafiqah yang tengah sibuk kemas barang..
"wei kau tau tak kenapa dia tak suka aku?!"
"uh? sapa?"
"kenapa wei dia tak suka aku? aku ni jahat ke..."
"sapa yang tak suka kau?"
"dia benci aku!"
"sapa?!"
"pembaris aku tak suka aku, dia selalu hilang..."
"mmm............................................WEI TOLONG AKU ADA ORANG GILA KAT SINI!!!!!!!!"