Bingung harus dimulai dari mana. Perkara ini semakin berkembang dalam pikiran saya dalam masa ikhtiar mencari pasangan hidup, ditambah perkara kakak perempuan saya. Orang-orang berdatangan pro dan semi pro dalam masalah pernikahan syarifah sayyid ini. Tidak ada yang kontra, hanya ada yang tidak terlalu mengutamakan. Positifnya adalah saya jadi terus belajar. Jadi tau latar belakang, jumhur ulama, hadits atau firman Allah yang dijadikan patokan untuk perkara ini. Saya tidak akan membahas itu secara detil di sini karena sayapun baru mendalaminya kemarin setelah istri dari sepupu saya mencoba mengenalkan dengan seorang perempuan. Namun dia memosisikan diri sebagai orang yang lebih tinggi derajatnya, tidak ada kerendahan hati dalam menyampaikan ilmu sehingga alih-alih saya menerimanya, justru rasa hormat saya hilang dan merembet kemana-mana. Bahkan saya tidak mood lagi untuk mendekati orang yang ingin dikenalkan ke saya karena pasti 11-12. Satu lagi yang bikin saya meragukan para famili ini benar2 tulus dan total mengikuti kafa'ah ini adalah dari salah satu saudara juga, dahulu si ibu, bahkan saudara saya menyatakan secara sadar bahwa dia tidak akan menikah dengan yang bukan sayyid dengan alasan yang dipakai semua orang: tidak mau memutus hubungan dengan rasulullah. Namun sayangnya saudara saya ini menikah dengan bukan sayyid. Yang membuat sayang adalah seketika pernyataan mereka berubah drastis. Mereka berkata "tidak apa-apa kalau perempuan" lalu saya menjadi super bingung. Bukannya justru perempuan yang tidak boleh sangat karena garis keturunan akan terputus? Lebih parah lagi mereka seakan akan melemparkan 'beban' kewajiban pernikahan sekufu sanad kepada laki-laki , secara khusus kepada saya. Lalu semenjak saat itu saya pun memutuskan untuk tidak terlalu menampung semua omongan dari mereka dan membangun tembok berlapis dan filter berganda ganda untuk semua info yang datang dari mereka. Jelas sekali segala wejangan dari mereka didasari oleh nafsu. Tidak ada ke-istiqomah-an dalam perkataan. Lalu mama juga mengungkapkan kekhawatirannya. Mama adalah orang yang semi pro untuk masalah ini. Mungkin juga melihat bahwa kakak saya belum menikah sampai sekarang. Kekhawatiran mama sama seperti kekhawatiran saudara saya yang istrinya mau mengenalkan sesorang kepada saya tadi di atas. Saudara saya dan mama beranggapan menikah dengan syarifah atau sayyid adalah jaminan bahwa nanti anak cucu tidak akan keluar dari islam, sementara menikah dengan yg bukan arab ditakutkan nanti anak cucu akan keluar dari islam. Saya tidak setuju sepenuhnya. Hal ini seakan-akan menganggap tingkat spiritual sayyid syarifah lbh tinggi dr yang bukan arab (untuk level orang awam, bukan ulama). Sesungguhnya hidayah Allah meliputi semua manusia. Lalu saya suruh mama menengok tetangga sebelah, mereka bukan orang arab. Apakah ada keturunan dr kakek-kakek sampai ke cucu-cucu yang kelur dari islam? Makanya saya bilang memilih pasangan berdasarkan agamanya. Lalu apakah kita tidak percaya Allah akan menjaga keluarga kita? Lagipula jika kita mendidik keluarga kita dengan bekal agama yang kuat, insya allah anak kita juga akan mendidik anaknya nanti dengan bekal agama yang kuat. Naudzubillah jika nanti keturunan2 kita ada yang jauh dari agama, apakah karena salah kita menikah dengan yang bukan arab? Wallaahu a'laam hanya dengan rahmat Allah kita memohon perlindungan. Setelah saya sedikit belajar tentang sanad keluarga, agaknya kurang adil kalau sekarang2 ini seakan seperti beban moral harus menikah dengan kafaah syarifah sayyid padahal sejarah nenek moyang kita para sayyid dari yaman dulu datang ke indonesia tanpa membawa istri. Para kakek kakek moyang lalu menikah dengan perempuan perempuan jawa dan lokal di daerahnya masing-masing. Sebenarnya syarifah sayyid sekarang, tahun 2017 ini adalah percampuran antara sayyid dan bukan orang arab. Mungkin juga antara syarifah dengan bukan orang arab, namun keturunananya dinikahi oleh sayyid sehingga garis keturunan yang terputus kembali tersambung. Apakah ada di antara rentanv waktu itu keturunan yang keluar dari islam? Kalau tidak ada kenapa sekarang ini mengkhawatirkan jika menikah dengan yang bukan orang arab nanti keturunannya bisa jauh dr islam. Menurut saya keluarga yang berpaham seperti ini adalah antara mengerti dan tidak mengerti. Kuasa Allah lebih besar. Tidakkah kita memohon dalam doa di tiap sholat agar keturunan kita termasuk orang2 yang tetap melaksanakan sholat? Doa ini dibaca semua orang, sayyid, syarifah, jawa, batak, palembang, dan semuanya. Bukan hanya orang arab yang butuh perlindungan ini. Semua orang islam butuh doa ini karena hanya Allah yang bisa menjaminnya. Lalu saya berpesan kepada mama kalau mama mau adi masih kawin sama jamaah, hindari pembicaraan2 kaya gini. Saya tidak suka ketika sayyid syarifah ini merasa otomatis lbh baik ketimbang ras lain. Tidak ada sifat rendah hati. Berdasarkan pengalaman dari keluarga saya pun mencoba mencari tau tentang hal ini. seberapa besar tanggung jawab menjaga keturunan ini. Lalu saya seperti krisisi jati diri. Kenapa saya? Okelah jika memang kami dilebihkan derajatnya. Lalu untuk tujuan apa? Pasti ada sesuatu Lalu perkara kafa'ah dalam pernikahan ini,seberapa penting. Saya membaca blog blog, video2 ceramah. Ustad khaled dan syafiq tidak pro ini. Seharusnya saya senang, tapi tidak puas sampai di situ krn saya tidak mau mengikuti berdasarkan hawa nafsu. Bahkan ada tesis seorang mahasiswa teologi yg saya temukan. di bagian abstraknya dia mengatakan bahwa kafaah bukanlah syarat sah pernikahan, hanha sebagai pertimbangan, dan hadits yg digunakan untuk menjustifikasi pernikahan sekufu keturunan rasulullah ini tergolong kurang kuat. Saya jg tidak mau berpuas hati di situ. Saya merasa harus membutuhkan waktu lebih untuk secara bijak memutuskan hal ini. Kembali ke pengalaman orang2 arab yg sangat vokal namun keteguhan hatinya tidak diketahui, saya sudah punya tes untuk indikator prinsip kafa ah dlm pernikahan mereka seberapa penting sayyid syarifah itu.Tanya saja: Mana yang lw pilih, 1. nikah tua tapi sama sayyid/syarifah atau nikah matang sama bukan arab? 2. nikah ga punya anak sama sayyid/syarifah, atau punya anak sama bukan orang arab Insya Allah dari sana kita bisa sedikit mengetahui kecenderungan dan seberapa penting prinsip sanad ini mereka terapkan. Seberapa besar nafsu atau ikhlas di hati mereka. Wallahu A'laam. Semoga Allah mengampuni dosa dan kelancangan saya