Twister rod

seen from Lithuania

seen from Sri Lanka
seen from China
seen from Australia
seen from China

seen from United Kingdom
seen from China

seen from Malaysia
seen from China
seen from Lithuania
seen from Italy
seen from China

seen from Malaysia
seen from China

seen from Singapore
seen from China
seen from Singapore

seen from Lithuania
seen from United States
seen from Malaysia
Twister rod
Prinsip Hidup
Setelah menimbang-nimbang dan berpikir, sepertinya hidupku akan kujalani dengan mengikuti makna kata-kata ini, "Menjelajahi Kehidupan, Menyelami Laut Pengetahuan, Memaknai Perjalanan". Kata-kata ini kuserap dari beberapa referensi, utamanya dari Al-Quran Surah Al-Alaq ayat 1-5 dan Surah Az-Zumar ayat 21.
Dari Surah Al-Alaq ayat 1, Nabi Muhammad SAW diperintahkan untuk membaca. Konteks membaca di dalam surah ini pun sebenarnya luas, bukan hanya membaca teks semata. Bahkan Nabi Muhammad SAW pun ummi (tidak pandai baca tulis). Maka dari itu, kumasukkanlah kata "Menjelajahi Kehidupan" dengan arti bepergian untuk menyelidiki kehidupan. Di dalam konteks ayat ini masih berkaitan, mengingat bahwa Rasulullah SAW meskipun tidak pandai baca tulis namun sangat cerdas dalam membaca kondisi di sekitar beliau, seperti memahami kondisi masyarakat contohnya peristiwa peletakan batu hajar aswad yang batunya ditempatkan di atas kain dan semua petinggi Quraisy memegang ujung kain agar semuanya merasa berperan dalam meletakkan batu hajar aswad. Bahkan, dalam konteks strategi perang pun beliau tidak asal-asalan memilih panglima dalam setiap perang umat Islam.
Selanjutnya, "Menyelami Laut Pengetahuan", kuserap dari Surah Al-Alaq ayat 4 dan 5, dalam Tafsir Al-Manar disebutkan, "Tidak ada kata-kata yang lebih mendalam dan alasan yang lebih sempurna daripada ayat ini dalam menyatakan pentingnya membaca dan menulis ilmu pengetahuan dalam segala cabang dan bagiannya".
Dan di akhir, kumasukkan "Memaknai Perjalanan" karena serapan dari Al-Qur'an Surat Az-Zumar ayat 21, "Apakah kamu tidak memperhatikan, bahwa sesungguhnya Allah menurunkan air dari langit, maka diaturnya menjadi sumber-sumber air di bumi kemudian ditumbuhkan-Nya dengan air itu tanam-tanaman yang bermacam-macam warnanya, lalu menjadi kering lalu kamu melihatnya kekuning-kuningan, kemudian dijadikan-Nya hancur berderai-derai. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat pelajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal". Dari ayat tersebut bermakna bahwa semua hal yang terjadi di muka bumi merupakan peringatan bagi kita bahwa hidup ini diatur sedemikian rupa dan sedemikian detailnya oleh Allah SWT agar kita terus mengambil hikmah, memaknai dengan akal, serta meningkatkan keimanan.
Dan terakhir, salah satu inspirasi sastra terbesarku adalah Gurindam 12 yang isi-isinya penuh dengan nasihat hidup :
Jika hendak mengenal orang berbangsa, lihat kepada budi dan bahasa. Jika hendak mengenal orang yang berbahagia, sangat memeliharakan yang sia-sia. Jika hendak mengenal orang mulia, lihatlah kepada kelakuan dia. Jika hendak mengenal orang yang berilmu, bertanya dan belajar tiadalah jemu. Jika hendak mengenal orang yang berakal, di dalam dunia mengambil bekal. Jika hendak mengenal orang yang baik perangai, lihat pada ketika bercampur dengan orang ramai. — Gurindam 12 Pasal 5
Soal percintaan aku memang kalah, tapi urusan ngeship atlet sama rivalnya jelas aku pemenangnya
Kebiasaan atau Kebenaran?
"Dih, aneh banget pake nyiapin buat sharing gituan doang"
"Cowok nonton p*rn mah wajar kali"
"Anj*r, eg*, c*k, bgs*t, asdfghjkl"
"Hah, lo nolak karena ngerokok doang?"
Memegang teguh prinsip rasanya menjadi berat sekali akhir-akhir ini. Banyak hal yang terlihat biasa sehingga diwajarkan bahkan dijadikan pembenaran. Padahal sebagai muslim, benar dan salah adalah suatu hal yang pasti. Walau tentu masih berjuang menjadi muslim yang taat, perkataan-perkataan di awal cukup membuatku tidak nyaman terkhusus beberapa yang ditujukan padaku.
Cukup kaget saat dikatakan 'aneh' ketika aku protes karena pemberitahuan mendadak untuk sharing teknik mengajar padahal aku tidak menyiapkan apapun. Karena orang lain tidak meyiapkan, bukan berarti aku juga harus sama bukan? Kenapa berusaha lebih baik menjadi sesuatu hal yang aneh?
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), arti kata wajar adalah biasa sebagaimana adanya tanpa tambahan apa pun. Arti lainnya dari wajar adalah menurut keadaan yang ada. Kasus pornografi bukan merupakan sesuatu hal yang baru. Namun, walaupun jumlahnya banyak bukan berarti semua orang kecanduan atau tertarik dengan konten-konten tersebut.
Normalisasi kata kasar. Sungguh, ini menjadi PR besar pendidik. Ingat, proses mendidik bukan hanya dilakukan di sekolah, tetapi juga di rumah dan lingkungan masyarakat. Rasanya sudah capek untuk mengingatkan murid-muridku tapi ngga boleh capek. Prinsip berkata yang baik atau diam seakan dikalahkan oleh berkata seperti apa yang teman-temanku katakan atau berkata seperti apa yang aku tonton. Menjelaskan konsep bahwa kekuatan kata-kata dapat mengubah yang halal menjadi haram, pemindahan tanggung jawab, dan hal-hal lainnya juga sudah kujelaskan. Terkadang sadar ini adalah prosesnya, tetapi berdoa lebih kencang supaya sabarku tidak menjadi setipis tisu dibagi tujuh.
Perihal merokok aku mengambil pendapat haram karena terlalu banyak mudharatnya. Bagaimana aku bisa menyayangi seseorang yang tidak menyayangi dirinya sendiri dan mempunyai peluang memberikan penyakit ke keluarganya?
Membiasakan yang benar bukan membenarkan yang biasa. Seperti memegang bara api memang cocok jika disandingkan dengan kehidupan masa kini. Dan memang perlu pegangan yang kuat untuk tidak terbawa arus.
Saat kau ragu arah tuju, di situlah kau mulai terbawa arus (Amigdala)
sungguhan, deh. apa yang menurut kita penting, belum tentu sama pentingnya buat orang lain. prinsip ini sering terlupakan waktu aku mulai bingung, kecewa, sedih ... "kok kayaknya cuma aku doang yang nganggep ini masalah ya? kok dia biasa aja, sih?"
ujung-ujungnya itu lagi. mungkin buat dia memang hal yang kurisaukan itu nggak penting.
pada banyak kesempatan, prinsip ini justifikasi yang masuk akal. walaupun menurutku, pada kasus yang melibatkan kerja sama beberapa orang, kesepakatan di awal adalah penentunya. sejak awal, kita menganggap ini hal yang penting atau tidak? kalau begini, kuncinya ya, komunikasi.
kalau kasusnya hal-hal yang tidak menyangkut kerja sama dan kesepakatan, bisa jadi memang karena orang lain punya pandangan berbeda soal prioritas dan urgensi sesuatu yang kita anggap berprioritas tinggi serta berurgensi besar.
“Orang terdidik harus sudah adil bahkan sejak dalam pikiran, apalagi dalam tindakan.” (Namun, saya belum)
Saya adalah guru yang salah satu tugas utamanya adalah mendidik siswa saya dan bagi saya itu adalah pekerjaan yang tak ada habisnya. Saya kerap resah lantaran saya memahami pada diri saya sendiri memiliki kecenderungan. (Betapa sulitnya bersikap adil, bahkan terkadang pada diri saya sendiri).
Prinsip yang selalu saya gugu salah satunya berasal dari penulis yang amat saya sukai yaitu Pramoedya Ananta Toer yang berbunyi “Orang terdidik harus sudah adil bahkan sejak dalam pikiran, apalagi dalam tindakan.” Walaupun saya menyukai prinsip tersebut dan tentu saja saya harus menerapkannya (karena saya pendidik tentunya), tapi kenyataannya “berpikir adil” tidaklah mudah. Hidup saya selalu ada saja bias-bias tertentu, kecenderungan, atau ego dalam diri saya yang kadang saya tidak tahu atau kecenderungan-kecenderungan lain.
Terkadang saya menganggap bahwa saya bukanlah pengambil keputusan yang baik karena banyak sekali pertimbangan-pertimbangan yang ada di depan mata. Sama seperti ketika saya memutuskan hukuman apa yang harus saya beri kepada anak didik saya, memikirkan “apa yang salah” “kenapa anak didik saya sulit memahami materi ini” muncul pemikiran-pemikiran lain. Saya dipaksa untuk memikirkan “latar belakang”, “golongan” “faktor penghambat” dan lain sebagainya.
Di kala senggang pun saya kerap berpikir atau terkadang “memaksa” diri saya untuk membayangkan seandainya posisi saya belum tentu seperti sekarang, seandainya saya bukan guru, seandainya saya tidak lahir dari rahim ibu saya, saya akan memilih apa? Prinsip apa yang selalu saya bawa?
Saya kerap menanyakan pada diri saya apa saja hal-hal yang sering kita abaikan. Apakah begini sudah benar, apakah keputusan saya tidak benar? Pilihan apa yang harus saya ambil? Apakah risikonya bisa saya bisa saya emban. Dalam berfilsafat kita diajak untuk mencoba beberapa topi dalam pemikiran kita---antara memikirkan landasan “kebebasan” atau dengan landasan “kebaikan bagi semua orang”. Antara keputusan berdasarkan peraturan berdasarkan konsensus. Antara hak dan kewajiban.
Memikirkan posisi saya dan memahaminya membuat saya berharap akan lebih memahami posisi saya, kekurangan dan kelebihan saya. Memikirkan hal-hal begitu sebenarnya saya terlalu malas, bahkan tidak sat-set, dan membuat saya mengambil keputusan yang lama. Namun, saya menyadari bahwa saya perlu refleksi yang dalam dari pilihan-pilihan yang ada, dari berbagai macam sisi dan sudut pandang--saya berisiko untuk memilih pilihan yang jauh dari adil, membuat keputusan yang belum tentu adil bahkan sejak dalam pikiran.
Dan seandainya sedari awal saya, kita, kamu, kalian sudah tidak adil dalam pikiran---apakah saya, kita, kamu, kalian bisa adil dalam tindakan? Saya enggan membayangkannya :’.
Aku dengan kisah terindahku, kita menghabiskan waktu berdua.
Mungkin ini terlihat biasa. Tapi itu versiku yang luar biasa
Aku dengan segala “hal yang baru”, yang pasti juga berbeda. Ya, ada berkah di dalamnya.
Aku dengan kemahalanku. Yang tidak bisa dengan mudah kamu dapatkan sebelumnya
Aku dengan segala kasih cinta terbaikku. Yang selama ini hanya bisa kusampaikan melalui doa.
Aku dengan segala kekuatan prinsipku:')
Semoga kamu juga..
.
.
.
Sehebat apapun mereka, tapi jika sudah lewat dari koridorku. Tak sampai hati aku rela mengiyakannya
Melawan segala kekuatan prinsipku ini memang menggunakan apa?
Tidak,
Tidak bisa didapatkan cuma cuma, bahkan ditukar dengan seisi dunia.
Semoga saja..
Dan semoga kita masih sama sama memperjuangkannya.
Saling merapal doa
Dan disatukan karena doa
Amiin,
Salah satu contoh amalan paling ikhlas adalah tetep pake lipstik meskipun ga ada yang lihat.