Seni ‘Bebas’ ala Remblong #2 - Tabrak Lari
Ulasan / Ditulis tanggal: 20 Januari 2019
Kata “bebas” itu sendiri bisa memiliki makna sebagai berkesenian sebebas-bebasnya dengan nalar dan pola pikir yang juga bebassssssss. Hal itu bisa dilihat dari cara masing-masing seniman dalam mengolah dan menyampaikan pesan melaluli karya-karya yang dibuatnya, termasuk dari cara mereka mengambil dan menyajikan isu yang mereka angkat. Hmm, ya, intinya bebas. Dan dalam Pameran Remblong yang ke-2 itu lah semua hal-hal yang beraroma bebas itu terjadi. (14/01/2018)
Remblong sendiri merupakan sebuah perhelatan pameran yang digagas dan diprakarsai oleh sebuah kolektif seni asal Bandung bernama Sarang Penyamun. Pameran ini diselenggarakan di galeri Theehuis di daerah Bandung Utara, Taman Budaya Jawa Barat, Bandung. Berisikan perupa-perupa dari berbagai kota, membuat perhelatan Remblong #2 ini menjadi ajang yang tepat untuk membangun relasi sesama seniman dan juga tempat yang baik tuk bersilaturahmi. Remblong kali ini mengambil tajuk “Tabrak Lari”. (silahkan bincang langsung kepada kuratornya untuk penjelasan dari makna Tabrak Lari. hehe. Lalu ikuti akun Instagram nya untuk menciptakan proyek-proyek seni seru nan menggugah – @trio.muharam <<< bapak curator hihihihi).
Tanpa disadari, pameran ini adalah wadah apik bagi perupa-perupa yang ingin bergerak bebas tanpa adanya rasa gengsi atau ketakutan terhadap berbagai macam stigma. Seolah-olah, mereka dapat melepas perkara tentang diterima atau tidaknya karya seni yang “bebas” ini.
foto Performance Art dari Saut Prayuda di Remblobg #2 - Tabrak Lari
Ya, pertanyaan seperti “Orang-orang terima enggak sih sama seni yang kayak ini?” menurut saya hanya kekhawatiran saja, dan pada kenyataannya, kekhawatiran itu akhirnya terbungkam saat pembukaan pameran berlangsung. Takdir berkata lain dan pengunjung ramai berdatangan. Mereka tetap mengapresiasi berbagai karya dan kolaborasi seni yang dilangsungkan. Seperti halnya karya dari pameris asal Jakarta, Razip Falsyah, yang direspons oleh Saut Prayuda, perupa asal Bekasi. Ya, galeri Theehuis adalah saksi bisu dari semua kejadian “bebas” itu.
Walau banyak bermodalkan kata “bebas”, pameran ini tidak melulu memberikan kesan yang urakan dan tidak serius. Di sisi lain, para perupa dapat memberikan pengalaman dan cita rasa yang berbeda dari pameran-pameran pada umumnya, terlihat dari karya-karyanya. Pun, saya rasa setiap pengunjung yang datang juga merasakan hal sama, (bahkan mungkin para perupa juga merasakannya).
Di dalam pameran ini, ada satu karya yang mencuri perhatian saya, yaitu “Gusti Hayati” dari mas Shofa, pameris asal Solo. Sebelum pameran dibuka, saya sudah memperhatikan sambil mencoba memahami apa makna dari karya itu ketika karya itu masih dalam proses pengerjaan. Karyanya merupakan mural di atas kaca yang melukiskan serangkaian dalil Al-Quran dalam bentuk tulisan Arab gundul beserta terjemahannya. Setelah berbincang dengannya, rupanya ia ingin menyampaikan bahwa kita harus mereproduksi karya dan pemikiran secara terus menerus. “Gusti Hayati” merupakan pancingan kepada perupa maupun penikmat seni untuk terus menyuarakan dan memvisualisasikan apa yang mereka yakini dalam kehidupannya.
foto proses penggarapan karya “Gusti Hayati” dari mas Shofa
Lalu yang paling klimaks adalah arti atau terjemahan dari dalil tersebut yang memang sengaja ditulis juga. haha. Wah. Dan tak perlulah saya tuliskan juga dalil tersebut dalam ulasan ini. :)) (Semoga bisa bertemu kembali, mas Shofa)
Saya berterimakasih kepada Sarang Penyamun yang telah mempertemukan saya dengan orang-orang “bebas” yang memiliki jiwa besar dalam berkesenian. Sarang Penyamun sendiri merupakan kolektif yang mewadahi kegiatan berkesenian dan kebebasan berkarya. Tak lagi bicara soal pakem-pakem seni, namun tetap bisa serius dengan seni yang dimilikinya. Kolektif ini juga ahli dalam memberikan kesan ramah pada tamu dari luar, lengkap dengan jiwa kekeluargaan mereka yang sangat erat. Sungguh hal ini banyak memberi energi baru untuk saya. Bagi saya, berkesenian adalah hal yang lumrah di kalangan kolektif seni, tapi berkesenian dengan mengedepankan jiwa persaudaraan dan kekeluargaan adalah nilai yang besar.
Big Respect to Sarang Penyamun <3
------------------------------
REMBLONG #2 - TABRAK LARI
Galeri Theehuis, Taman Budaya Jawa Barat, Dago Selatan, Bandung.
------------------------------
Ditulis oleh Arief Enpe, Diperbaiki oleh Ibam Baik (Ibrahim Soetomo)
Tag: @sarang.penyamun378 | Cc: @bdg.connex @indoartnow
Sumber Foto: Arsip Pribadi dan Grup WA Remblong 2018
foto Performance Art dari Dawil (Dadan Wildan) di Remblong #2 - Tabrak Lari