Dulu waktu masih muda, kami sering merasa jalan raya itu milik sendiri. Motor dipacu kencang. Nyalip truk kontainer cuma soal reflek dan keberanian.
Waktu itu hidup terasa ringan karena tidak ada yang menunggu di rumah.
Sampai suatu sore, sepulang kerja, aku boncengan dengan seorang kawan lama. RX-King-nya, yang biasanya meraung liar, kali ini melaju pelan. Santai sekali.
Lalu di tengah suara angin dan knalpot kendaraan lain, dia ngomong gini:
"Pas bujangan, kalau mau nyalip kontainer aku nggak pake mikir. Tapi pas udah nikah, aku mikirin istriku.
Udah punya anak, aku mikir dua kali.
Mikirin anak dan istriku.
Mungkin nanti kalau si kecil punya adik, aku akan mikir tiga kali.”
Aku diam.
Karena tiba-tiba kalimat itu terasa lebih dalam daripada semua nasihat motivasi tentang kedewasaan.
Ternyata menjadi dewasa bukan soal umur, jabatan, atau soal gaji bulanan.
Kadang kedewasaan lahir saat seseorang mulai sadar: nyawanya bukan lagi cuma miliknya sendiri.
Ada istri yang menunggu suara motor di depan rumah. Ada anak kecil yang belum mengerti apa itu kehilangan. Ada masa depan keluarga kecil yang ikut bergantung pada seseorang yang sedang memegang setang motor di jalan raya.
Dan sejak itu aku sadar kenapa banyak lelaki berubah pelan setelah punya keluarga.
Cara nyetirnya berubah. Cara marahnya berubah. Cara mengambil risiko juga berubah.
Bukan berarti mereka jadi penakut.
Tapi karena akhirnya mereka menyadari ada orang-orang yang lebih penting daripada ego mereka sendiri.
Ternyata selain membuat manusia jadi puitis, cinta juga bisa membuat seseorang mengurangi kecepatan motornya sepulang kerja.
—ditulis ketika tiba-tiba keinget omongan seorang sobat lama, hampir dua dekade yang lalu.
"Fenomenologi di Jalanan : Ada apa di Persimpangan?"
Berkontemplasi adalah aktifitas rumit yang membosankan, apalagi dalam kondisi capek dan ego terkuras. Tapi bagi sebagian orang, itu adalah kegiatan yang mengasyikkan, sesederhana mengaktifkan pikiran dan imajinasi dalam mode pengamatan dan abstraksi
Sesederhana di tengah perjalanan; di persimpangan atau di momen traffic light di atas kendaraan yang sedang kita tunggangi.
Tatkala berada di traffic-light, sering kali saya —mungkin juga Anda— sering mengalami semacam pertemuan singkat dengan para pengendara lain —yang hampir mayoritasnya tidak dikenal—
Dimana dari pertemuan itu, bila kita coba perhatikan, baik kita ataupun pengendara lainnya adalah sama-sama sebagai entitas pengguna jalan yang sedang sama-sama menunggu tibanya lampu hijau, kemudian setelah traffic-light menunjukkan lampu hijau sebagai tanda berjalan, kita lihat ada pengendara yang belok ke kiri, ke kanan, dan ada pula yang berjalan lurus.
Dan satu hal yang sering terjadi, adalah apa yang bisa dan sering kita temui secara acak dan seakan terjadi begitu saja: perihal pengendara yang memilih arah jalan yang sama dengan arah jalan yang kita pilih, yang boleh jadi secara sadar atau tidak sadar sejatinya sedang menggambarkan satu peristiwa yang sedang berlangsung: bahwa kita sedang berada di satu jalan yang sama dengan pengendara-pengendara tersebut disamping keterpisahan kita dengan para pengendara lain yang menempuh jalan yang berbeda dengan jalan yang kita pilih.
Ya, meskipun kelelahan dan tekanan untuk tiba tepat waktu, kadang menjadi faktor penyebab yang membuat kita terdistraksi dari memperhatikannya, apalagi memikirkannya.
Persimpangan,selalu menjadi momen dimana kita berpisah dengan para pengendara lama untuk bertemu dengan para pengendara baru, berjalan bersama, lalu terpisah kembali di persimpangan yang lain dan mungkin dalam waktu yang tidak tentu akan ke kembali bertemu atau boleh jadi tidak sama sekali, demikian seterusnya.
Tentu saja, ini bukan hanya soal traffic-light, persimpangan, dan sekumpulan pengendara
Apa yang kita dapati dari fenomena di jalanan, membawa kita pada satu kesan yang sama bermakna dengan hidup: perihal pertemuan dan perpisahan disebuah simpang kehidupan.
Dimana semua arah hidup yang dipilih dan ditempuh pada akhirnya dilatar belakangi kuat oleh tujuan hidup masing-masing. Apalagi sebagai manusia kita memang cenderung lebih suka terhadap yang mudah: termasuk memilih jalan pintas.
Boleh jadi persimpangan itu hadir dalam bentuk momen kelulusan sekolah, atau saat-saat habis masa kontrak kerja, dan mungkin juga pernikahan atau hantaman realita kehidupan yang tidak diduga-duga.
Perihal perguruan tinggi mana yang akan kita pilih, perusahaan dan karir seperti apa yang kita inginkan, dan senantiasa dorongan naiknya angka usia yang terus mengevaluasi perihal makna hidup seperti apa yang dengannya hidup itu harus dijalani: termasuk dengan sosok seperti apa yang akan kita bersamai dalam perjalanan tersebut.
Setidaknya itulah beberapa yang mungkin kita bisa imajinasikan sebagai contoh konkret dari persimpangan yang tak lepas dari dua hal: arah dan tujuan.
Arah itu tidak kurang tidak lebih sama halnya dengan target-target kecil dalam hidup, sementara tujuan adalah satu keadaan —yang umumnya dipandang ideal— yang hendak dituju: apakah hal itu bersifat final ataupun sementara.
Sama seperti halnya para pengendara di jalanan yang menempuh arah jalan yang berbeda-beda, walau perbedaan jalan itu bukanlah tidak mungkin melazimkan akan tujuan yang sama, sebaliknya, kesamaan arah kadang tidak melazimkan tujuan yang sama.
Bila ingin mencoba melihat nya lebih dekat, cobalah pergi ke pusat kota dimana Anda berada, pukul 6-7 Pagi di hari jam kerja. Disana kita akan melihat bagaimana jalanan terlihat dipenuhi oleh sekumpulan pengendara dengan arah dan tujuan yang berbeda-beda yang datang dari arah yang berbeda pula. Sesampainya di persimpangan bila Anda bisa melihat dari ketinggian, akan terlihat jelas momen pertemuan dan perpisahan tersebut.
Ya, persimpangan tidak lain tidak bukan adalah tempat dimana para pengendara saling bertemu dan berpisah dengan pengendara baru dari arah yang berbeda sekaligus berpisah dan tetap bersama dengan sebagian pengendara lama
Jalanan, seperti menyuguhkan kita contoh konkret mengenai kaitan antara arah dan tujuan dengan pertemuan dan perpisahan.
Sekarang nampaknya, saya —barangkali juga Anda— mulai mengerti alasan dibalik fenomena pertemuan dan perpisahan.
Satu hal lain pada traffic-light, adalah apa yang dapat kita temui dari indikator warna dari lampunya, sebuah bahasa warna yang berbicara tentang irama dalam hidup: kapan kita harus berjalan, kapan kita mesti pelan-pelan, dan kapan kita berhenti sejenak.
Sewaktu coba membayang-bayanginya, saya terpantik sadar dan sekaligus menjadi bahan refleksi atas ke FOMOan saya — dan barangkali juga Anda— yang pernah sesekali dalam beberapa episode hidup, pernah kita alami terhadap apa yang dilakukan oleh orang-orang lain.
"Bila saja kita yang sedang berhenti dipersimpangan jalan tidak begitu masalah terhadap berjalannya kumpulan pengendara lain dari arah lain lantaran alasan ritme traffic light yang berbeda: merah untuk kita dan hijau untuk mereka. Lalu, mengapa kita nampak bermasalah dalam kehidupan, dengan berjalannya orang lain di tengah sejenak pemberhentian kita?"
Tanya saya dalam batin.
Jangan-jangan kita lupa tujuan dan arah?
Dan kita seringkali mudah memaklumi momen perpisahan antar para pengendara tatkala berada disebuah persimpangan jalan, lantaran kita memahami akan perbedaan arah dan masing-masing tujuan.
Tetapi, sulit rasanya menerima perpisahan itu di dalam kehidupan dengan hubungan yang intimitas, kendatipun kita memahami alasannya.
Ya, kepada para pengendara yang pernah satu arah dalam perjalanan, atau sekadar bersua di tengah penantian lampu hijau saat moment pemberhentian.
Kemanapun (perbedaan) arah yang akan kita pilih, semoga arah itu dipertemukan di momen persimpangan yang lain.
Walau kita pun akhirnya harus menerima, hanya ada dua kemungkinan yang terjadi di sebuah persimpangan: pertemuan atau perpisahan.
Dan perihal lamanya kebersamaan dalam perjalanan, arah dan tujuan lah yang menentukan.
Dari Magelang awan gelap mulai mengiringi
Rintik perlahan membasahi di sepanjang Sapuran
Roda-roda memacu kedinginan
Deras hujan dan kabut turut meramaikan jalanan
Tiba sebuah rumah memulihkan kehangatan
Kembali bukan lagi untuk bermain seperti dulu
Tapi merayu harap wejangan terakhir
Sebab berpisah selalu hadir meski sering bertatap
Foto ini saya ambil ketika waktu itu saya sedang pergi ke salah satu perumahan yang berada di daerah Cibubur. Foto inipun diambil belum lama, yaitu sekitar 2 minggu yang lalu. Waktu itu memang saya ada janji dengan pacar dan teman saya untuk ketemuan, kebetulan juga pada saat itu pula saya ingin mengerjakan tugas pembuatan video untuk UAS.
Terlihat dari foto ini, kendaraan tidak banyak yang lewat. Mungkin karena tidak banyak masyarakat yang melakukan aktivitasnya di rumah. Sebelum terjadinya pandemi covid-19, jalanan ini merupakan jalanan yang banyak aktivitasnya. Di era new normal seperti saat inipun masih banyak masyarakat yang tinggal di perumahan tersebut yang memilih untuk kerja atau beraktivitas di rumah saja.
Hai. Buat kamu yang suka menghabiskan waktu dijalanan (red: lebih banyak waktu perjalanan daripada berdiam), pasti tau istilah 'menyalip' atau 'melanggar' pengendara lain, kan? Hmmm kalau bingung, bisa juga 'mendahului' pengendara lain.. bfftt
Nah, disini aku mau kasih sedikit analogi tentang per-jalanan menyalip dan hubungan (red: relationship).
Jadi gini (eaaaak). Saat kalian berkendara dijalanan, khususnya naik sepeda motor, kalian pasti suka mendahului mobil-mobil kan? Apalagi kalau lagi buru-buru dan memang tidak sabaran.. dijalan harus ketemu sama sekumpulan mobil yang berjejer rapih dan antri panjang, beuh! Itu sungguh menyebalkan. Hingga akhirnya, kalian putuskan untuk mendahului dan menyelip diantara mobil tersebut. Otomatis, mobil dibelakangnya jadi tancap pedal rem kuat-kuat atau akan mengalah dan memberi ruang pada kalian (dan motor-motor lainnya yang akan ikutan berjejer di samping kalian)
Kemudian, analoginya apa ?
Ibarat antrian panjang mobil itu adalah sebuah hubungan dua manusia yang telah lama di jalin. Kemudian yang menyelinap diantara mobil adalah kalian, diibaratkan seorang PHO dan terkahir adalah analogi dari orang lain yang ikut berjejer disamping kalian adalah pengibaratan dari para penambah masalah selain dari PHO tersebut.
Saat kalian menyelinap diantara mobil, yang berarti menyelinap diantara hubungan orang lain, maka hubungan tersebut akan renggang. Badai permasalahan menerjang, seperti kendaraan dari lawan arah, yang memaksa kalian untuk semakin masuk ke tengah antrian mobil dan membuat jalinan hubungan mereka semakin jauh, karena akan terjadi percekcokan antara mereka ditambah bumbu-bumbu perasaan seperti orang-orang yang ikut menyelinap bersama kalian dimana Sebenarnya tidak bermaksud untuk merusak. Hingga pada akhirnya, badai dari arah berlawanan telah hilang dan kalian dengan bebasnya melaju meninggalkan antrian mobil yang telah renggang bahkan putus demi tanpa merasa bersalah sedikit pun.
Sampai sini paham mengenai analogi jalanan tersebut ?
Nah, bila hal ini terjadi secara nyata, maka kalian akan selalu habis dihantam massa. So, don't be Rude on the other relationship. Jaga hubungan kalian baik-baik.
When you stock in traffic for better Jakarta.. Hang on there the end soon will come #traffic #transportasi #macet #Jakarta #lrt #betterjakarta #wikolikeit #dream #dreamon #spirit #keepup #don'tgiveup #jalanan #jalananjakarta (at Kelapa Gading City)
Sore, saat petang menjelang dan malam segera datang. Ragam aktifitas yang menjadi rutinitas dibersamai dengan saat pulang saat kembali menuju rumah,kos,kontrakan atau menuju tempat-tempat bernaung, ada saat juga mesti menuju tempat menghadap illahi melaksanakan kewajiban ibadah. Di jalan, ada ragam cerita ada ragam suara ada ragam objek terlihat menjadikan rekaman-rekaman di memori otak menyerap dan menyimpan informasi, abaikan ketidak manfaatan dan pedulikan pesan kebaikan di setiap perjalanan. Setiap langkah adalah proses, setiap perjalanan adalah saat yang dimanfaatkan untuk menjadikan hidup lebih baik.
#repost teks dan foto dari akun Instagram @ruangtemuku
Hampir petang menuju malam dipemberhentian penanda laju lalu lintas.