Disuatu hari, Allah menghadiahkanku kamu untuk membuatku merasa yakin bahwa setelah waktu panjang yang melelahkan itu aku masih bisa meng-fungsikan ruang takbersekat(hati) ini (lagi).
banyak hal-hal yang tidak jelas dari apa-apa yang tumbuh didada membuatku cukup jelas saat ini.
banyak dari kejadian-kejadian yang membuatku yakin semakin membuatku mengerti bahwa bukan disini harusnya aku menempatkan diri,
dan ini membuatku merasa bahwa waktu sepanjang ini tidak banyak hal yang aku berikan yang bisa aku persembahkan untukmu yang kunyatakan sebagai orang terdekatku.
banyak bagian dari dirimu, dari hidupmu yang kutau, bahkan e-mail dan paswoard dunia mayamu, masalah keluargamu, bagaimana kamu menempatkan diri menjadi anak bungsu yang harus mandiri, jauh dari ibu orangtua satu-satunya yang saat ini masih bisa kamu peluk. aku tau, aku paham, dan aku jatuh cinta dengan kehidupanmu.
bahkan yang membuatku merasa istimewa dari segala kerumitan hidupmu kamu masih bisa menjadikanku orang yang paling bergantung dengan pendengaranmu, pengertianmu, perhatianmu.
tapi ka’ dari apa-apa yang tumbuh didada ini kunyatakan milikmu. dari apa-apa yang kunyatakan bahwa kamu orang terdekat untukku, tidak membuatku paham bawasannya aku tidak lagi menempatkan sesuatu yang kadang tak sempat terucap lewat kata, tapi selalu terselip dalam doa. Sesuatu yang kadang tak mampu dinadakan suara, tapi selalu tak bisa dipungkiri mata itu dirimu. melainkan orang yang tinggal didada ini terlebih dahulu darimu. orang yang menetap didada ini jauh lebih lama darimu.
aku berdiri dan menyaksikan sepuluhribu lampion yang lepas dan bebas bersama keindahan yang mengantarkan doa dan pengharapanku untuknya.
pada doa itu ku haturkan pengharapan agar lekas waktu yang tepat itu mengiringnya untuk menjemputku.
pada malam yang pernah kita lewati bersama aku bergumam dengan diriku sendiri bahwa suatu hari nanti aku akan kembali melewati malam seperti ini bersamanya.
ka’ aku pernah mengharapkanmu untuk datang pada saat aku ingin kamu datang, tetapi justru yang datang adalah dia.
aku pernah mengharapkan orang sekitarku menanyakanmu namun mereka lebih memilih menanyakan dia yang sama sekali tidak kutau.
aku pernah mengharapkan sebuah doa yang mengantarkan aku dan kamu pada usia yang pernah kita sebut-sebut dalam sebuah doa 23 & 24. namun mereka lebih antusias menyebut namaku dan namanya dalam doa-doa mereka.
ka’ selama apapun waktu ternyata tidak bisa membuat mereka melihat kamu didalam diriku. meskipun berulang kali aku menyebutkan bahwa kamu ada disini (hati).
dan sekitarmu melihat aku dalam dirimu meskipun kamu dikte rasamu untukku.
aku adalah ketidakjelasan dalam menempatkanmu.
bahkan pada saat yang rumit serumit ini, aku kembali membawa orang asing yang harusnya aku tau bahwa perasaan itu tidak lebih hanya sebatas perasaan kakak tingkat keadik tingkatnya. perasaan yang seharusnya tidak dibiarkan lebih dan menganggu sebagai hama dalam cerita rumit kita. sekarang rasanya aneh. ada rasa yang memaksaku untuk tau bahwa aku harus tau diri.
jadi ka dari ini semua aku memahami satu hal; jika aku saja tak yakin kamu adalah orang yang bisa menempati hatiku, lalu adakah alasanmu untuk terus memperjuangkanku?
jika dengan alasan seperti diatas itu kamu memutuskan untuk menutup tentang diriku dan membuka untuk yang lain. lalu aku merasakan rasa aneh yang membuatku perih apakah itu hal yang pantas untuk aku utarakan ?? jika pada saat itu juga kamu mengucapkan bahwa aku adalah adik bagimu. lalu ka’ bagaimana jika pada akhirnya aku merasakan sakit, takut, bahkan kecewa. masih pantaskah ??
ka’ mengumpulkan keberanian untuk pergi darimu juga bukan hal yang mudah. Ada hati yang ku biarkan patah dan basah. Ada rindu yang kuabaikan saat mengadu.
Karena memang, ada satu hal yang akhirnya kumengerti; Dan yang harus kulakukan, jika aku tak lagi bisa mengumpulkan keberanian untuk mencintaimu, aku harus mengumpulkan keberanian untuk meninggalmu.